Obrolan Petang Hari

Aku mendengar seseorang bertanya kepadaku. Aku yang lagi asyik mengetik acara nobar di hape, menoleh melihat asal suara. Ia seorang perempuan oriental yang membawa bungkusan yang nampak berat. Karena aku hanya sendirian, sedangkan meja memiliki empat kursi, aku mempersilanya untuk duduk. Ia memilih duduk di depanku. Tak lama kami larut dalam perbincangan seolah kami sudah kenal lama.

Kami berbicara banyak hal. Ia bertanya apakah aku akan meliput acara Gramedia Writers and Readers Forum berikutnya. Aku mengangguk. Mumpung di perpusnas dan aku ada waktu kenapa tidak kulanjutkan saja hingga acara hari pertama ini berakhir.

Ia sepertinya datang terlambat. Aku bercerita jika aku sudah mendapat satu sesi bersama kang Maman. Ada banyak hal menarik yang dibahas penulis berkacamata yang suka muncul di acara Indonesia Lawak Klub tersebut.

Ia penasaran dengan apa yang kuketik di hape. Aku sedang membuat ulasan acara nobar yang kuikuti pagi tadi bersama KOMiK, komunitas film di Kompasiana, jawabku. Film yang kami tonton adalah sebuah film kontroversial berjudul Tanda Tanya. (ulasan di sini)

Rupanya ia bercerita pernah menonton film tersebut dan kami terlibat dalam diskusi yang seru tentang konteks toleransi dalam film, tentang aksi kerusuhan tahun 98 yang menurut kami berdua ada banyak kejanggalan, serta hal-hal menarik tentang kondisi saat ini. Ia rupanya banyak tahu tentang buku, termasuk buku-buku jaman dulu.

Apakah Kalian tahu dan pernah baca buku berjudul Robohnya Surau Kami karya Hamka. Ia mencemaskan apa yang bakal terjadi jika buku itu cetak ulang. Aku paham kecemasannya, buku itu menarik dan indah dibaca pada masa lalu, tapi tidak untuk kondisi Indonesia saat ini. Riskan. Buku itu harus dibaca dengan pikiran terbuka, tapi rasanya tidak tepat dicetak ulang saat ini.

Kami berbincang banyak hal. Ia perempuan yang menarik dan kaya wawasan. Ketika ia tahu aku pernah jadi jurnalis, ia mengerlingkan matanya. Wah? Apa tidak ingin kembali, kan seru dan asyik?!

Aku tertawa. Eraku dan era dia sebagai jurnalis agak berbeda, masaku cukup berat karena masa itu masih langka hape terakses internet. Memang menjadi jurnalis itu menarik dan aku selalu berada dalam posisi dilematis, antara menulis dan memanfaatkan ilmuku di bidang teknologi informasi.

Kami kemudian kompak berada dalam sesi diskusi tentang komik Indonesia. Sebelum sesi tersebut usai, aku berpindah ke sesi horor. Aku mengucapkan salam berpisah ke kawan baruku tersebut. Mungkin kami akan berjumpa dan ngobrol asyik lagi.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 7, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: