Santapan Peringan Hati

Luka itu masih menggores hatinya. Membuat celah yang sulit dijahit oleh uang atau barang berharga lainnya. Semakin lama celah itu menganga, memberikan rongga yang hampa.
Ia tahu jika ia biarkan, maka celah itu akan lebar. Rongga itu akan dapat melubangi hatinya. Jika itu terjadi, maka ia akan kehilangan rasa, semua akan terasa hampa. Ia tak akan rasakan sakit, sedih, dan perasaan buruk lainnya.
Kelihatannya itu tawaran yang menarik. Siapa manusia yang ingin terluka dan bersedih? Biarkan saja rongga itu menguasai hatinya, merongrong hatinya.
Namun, perasaan lega dan damai lebih penting? Rasa senang dan bahagia jauh lebih berharga daripada perasaan hampa?
Ia berpikir lama sebelum kemudian berpikir untuk mengobati hatinya. Luka itu tak dapat ditambal, tapi bisa dicegah untuk tak melebar. Kata orang bijak luka bisa dicegah melebar dengan cara pasrah dan menerima bahwa perasaan terluka itu ada dan kita memaafkannya.
Sulit, sungguh sulit. Memaafkan itu sungguh berat. Rasa menyesal itu akan selalu hadir dan menyesakkan jika tak kunjung diredakan oleh maaf dan pasrah.
Ia pun memilih cara lainnya yang mujarab. Cara itu adalah menyantap makanan peringan hati. Bentuk makanannya bebas. Asal makanan itu kau suka dan membuatmu merasa bahagia.
Santaplah makanan itu tanpa perasaan cemas. Bersantaplah dengan gembira dan biarkan hatimu ringan.
Luka tak akan sembuh, terimalah luka itu sebagai peringatan dan pesan. Mari menyantap makanan peringan hati.

