Membaca Buku Bahas Naskah Kuno tentang Taman Bacaan Era 1850-an di Pecenongan

Semalam aku susah tidur. Akhirnya aku membuka-buka iPusnas dan melihat daftar buku yang direkomendasikan. Oooh kebanyakan naskah kuno, aku membaca sekilas judul-judulnya lalu terpaku pada satu naskah. Judulnya, “Pusparagam Naskah Warisan Skriptoroum Pecenongan: Warisan Literasi Betawi untuk Jakarta Kota Global Berbudaya”.
Naskah kuno ini menarik perhatianku. Pecenongan selama ini lebih sering dikenal sebagai salah satu pusat kuliner dengan menu unggulan salah satunya ikan pepes dan bakar berbumbu. Namun, jika membaca naskah ini daerah Pecenongan lebih dari itu.
Kawasan Pecenongan rupanya dikenal sebagai salah satu pusat literasi di Jakarta pada jaman dulu. Ini sesuatu yang menarik. Bayangkan pada tahun 1858 ketika Batavia masih dijajah Belanda, ada satu taman bacaan di Pecenongan yang dimiliki dan dikelola oleh satu keluarga. Mereka adalah keluarga Fadli.
Taman bacaan pada masa sekarang adalah hal yang biasa. Namun, pada masa lampau adalah luar biasa. Bayangkan satu keluarga lintas generasi merawat dan melestarikan tradisi menulis, menyalin, dan menyewakan naskah ke berbagai kalangan, termasuk kaum pribumi sebelum politik etis, sebelum era pergerakan nasional, ini sungguh menarik.
Dalam sebuah Langgar Tinggi mereka mengajak masyarakat untuk belajar menulis aksara Jawi, belajar membaca, dan mengajak untuk membaca lantang. Ini membuatku terpekur, masyarakat Indonesia bukan tak memiliki kebiasaan membaca, tetapi aksesnya saja yang masih terbatas.
Buku yang membahas naskah kuno ini dikerjakan oleh Widyawati Octavia, Gita Romadhona, dan Muhammad Eric Rangga K. Buku ini diterbitkan oleh Perpusnas Press tahun 2026 dengan tebal 143 halaman.
Disebutkan dalam buku ini ada 33 naskah kuno Betawi. Isinya beragam, dari petuah Islami, pewayangan, beragam hikayat ala Jakarta, syair buah-buahan, hingga kisah Panji Kuda Semirang. Sayangnya naskah yang terkumpul di Perpusnas baru 26, lainnya tercecer di Belanda dan Rusia.
Oleh karena aku belum selesai membaca dan perlu mengendapkan gagasan dan isi, maka akan kubuat bersambung tulisan ini.
gambar dari Indonesia Kaya
