KRL dan Penari Jalanan

Naik commuter line itu penuh warna. Suatu ketika aku satu gerbong dengan seniman jalanan. Ia berdua dengan anak kecil, mungkin putrinya. Kehadiran keduanya mencolok karena si ayah masih menggunakan kostum dan membawa atribut kuda lumping. Tapi keduanya tak menghiraukan tatapan mata penasaran penumpang lainnya, seakan-akan mereka memiliki dunia sendiri.

Aku awalnya cuek, larut dengan aktivitas menulisku. Jika aku mendapat bangku di KRL aku seolah-olah beku dan hanya terpaku dengan dunia menulisku.

Gelak tawa anak kecil itu menyadarkanku ke dunia nyata. Aku suka mendengar gelak tawanya. Aku pun melihatnya, pria itu dan putrinya.

Anak kecil itu nampak asyik duduk di lantai gerbong. Keduanya memilih berdiri di tengah gerbong meskipun masih ada beberapa bangku kosong. Ayahnya kemudian mengajak si putri bermain. Ia mengangkat anaknya dan membuatnya berakrobat di udara. Si putrinya nampak sukacita dan kegirangan. Ia meminta lagi dan kemudian ia kelelahan dan selonjoran di lantai.

Ayahnya masih bersemangat. Ia penari jalanan yang kawakan. Ia nampak ceria memainkan kuda lumping dan cambuknya. Aku sembunyi-sembunyi mengamatinya.

Aku sudah lama tak melihat atraksi penari jalanan dan atraksi kuda lumping. Kapan ya aku bertemu mereka lagi dan melihat keduanya beratraksi.

Gambar dari goodnewsfromindonesia

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 1, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: