Tertegun

Ada tiga hal yang membuatku tertegun kemarin. Yang pertama adalah email dari sebuah bank dan yang kedua adalah sebuah komentar di blog ini. Yang terakhir adalah peristiwa  kerusuhan di Brimob.

Email dari bank membuatku kesal sekaligus penasaran. Email tersebut dari bank N***a. Pesan tersebut memberitahukanku akan e-statement selama sebulan dari aktivitas kartu kreditku. E-statement ini bisa dibuka dengan kombinasi tertentu berdasar data pribadiku.

Aku mengucek-ucek mata. Apakah tidak salah ini? Mereka menyebut namaku detail dengan gelarku. Ada beberapa hal yang salah dan bisa dilaporkan menjadi kasus fraud.

Yang pertama, aku bukan nasabah bank tersebut dan tidak punya kartu kredit sama sekali. Aneh kan kok tiba-tiba ada kartu kredit atas namaku dan digunakan.

Yang kedua bisa jadi dilaporkan atas penggunaan data pribadi yang tak sepatutnya. Hal-hal semacam ini tidak mengenakkan bagi penerima. Membuatku was-was data pribadiku digunakan secara salah.

Aku pun googling sana-sini. Rupanya ada banyak kasus serupa yang dialami netizen. Penyelesaiannya tidak enak, bank tersebut kurang bertanggung jawab dan hanya meminta maaf karena salah kirim. Salah kirim kok namanya bisa tahu secara detail dan juga tahu data pribadinya. Hemmm.

Aku pun membalas email tersebut dan berkata bahwa hal tersebut sudah salah secara hukum ITE, tergolong fraud dan bisa masuk cyber crime. Kok bisa kartu kredit aktif dan digunakan sendiri bukan oleh permintaan orang tersebut. Sungguh hal tersebut tidak enak dan nama bank tersebut akan ku-black list selama-lamanya.

Pesan berikutnya yang membuatku tertegun adalah komentar dengan singkatan yang aku sendiri tidak tahu kepanjangannya. Mungkin aku tahu tapi lupa. Ia juga menyebut-nyebut tentang sebuah spiritualisme klasik dan nama penulis spiritual yang bukunya pernah kubaca.

Alhasil setelah membaca pesan tersebut aku pun browsing. Hingga ku menemukan sebuah blog yang membahas tingkatan kesadaran spiritual. Lagi-lagi aku tertegun. Aku seolah-olah diingatkan akan sesuatu.

Kejadian kerusuhan di Brimob membuatku sedih. Kasihan para anggota Densus yang meninggal.

Aku berangkat dan pergi kerja melewati tempat tersebut. Gara-gara akses jalan sekitar mako Brimob ditutup maka jalan sekitarnya pun macet parah. Untung aku bergegas pulang.

Namun yang membuatku bertanya-tanya benarkah kerusuhan tersebut hanya berawal dari titipan makanan? Kok bisa ya densus kalah dengan mereka, apakah jumlah tahanan teroris banyak banget dan apakah tidak ada kamera CCTV-nya?

Aku kemudian teringat bulan puasa tahun lalu. Saat itu kami mendapat dua narasumber tak disangka-sangka di acara nobar tentang film dokumenter perekrutan ISIS dari kalangan para pelajar dan mahasiswa Indonesia. Dua narasumber yang ikut hadir adalah mantan teroris yang bertobat. Mereka berkata ada trik khusus mendapatkan persenjataan tanpa dicurigai. Dan bagaimana psikologi itu sangat berperan dalam dunia terorisme.

Aku tertegun lagi. Ya harapanku sederhana Indonesia tetap damai dan aman.

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 10, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: