Story Telling Ala Ahmad Tohari dan Umar Kayam

Yuk membahas lagi tentang story telling. Oleh karena hari ini, 17 Mei, diperingati sebagai hari buku nasional maka saya akan bahas dua penulis dalam negeri  yang ahli dalam bertutur. Tulisan-tulisannya mengalir dan enak dibaca. Tidak hanya mampu mendeskripsikan sesuatu, namun juga membuat pembaca seolah-olah berada dalam situasi yang sama dengan seperti tokoh yang ada dalam cerita tersebut.  Kedua penulis tersebut adalah Ahmad Tohari dan Umar Kayam.

Umar Kayam adalah pengarang yang beken dengan gaya bertuturnya yang kental dengan budaya Jawa. Ia suka memasukkan berbagai jenis makanan juga dalam ceritanya seperti penggeng ayam yang sedap dan sate usus yang nikmat. Makanan-makanan tersebut sebenarnya jamak ditemui dan dimakan, tapi gaya bertuturnya bikin pembaca jadi ingin mencobai makanan tersebut. Ia juga piawai mendeskripsikan sesuatu. Seperti sosok pemuda asing dalam tulisannya berjudul Jimmy Mampir Ngombe. Berikut salah satu paragrafnya.

Minggu sore kemarin, menjelang senja, tiba-tiba begitu saja ada seorang laki-laki, tinggi besar, hènsêm, rambut panjang diikat gaya kadal-mènèk abad ke-19, celana jeans bluwêk baggy, kaos hèm merk Polo, berdiri di ambang pintu.

Ia menggambarkan sosok Jimmy dengan detail, sehingga pembaca bisa membayangkan seperti apakah penampakannya di dunia nyata. Ia menggambarkan Jimmy yang jangkung dengan kalimat-kalimat berikut:

Waktu kakinya di-sêlonjor-kan kok rasanya mak tlolor begitu panjang sekali, sampai ujung sepatunya menggamit kaki kursi saya. Elho, aneh. Dan bagian atas tubuhnya, waktu duduk itu juga nampak modot ke atas, jadi tinggi sekali. Mak duut. Dia tersenyum lagi. Masih terus menawan. Sampai akhirnya keheranan saya akan mulur-modot-nya tubuh dan kakinya jadi ternetralisir.

Umar Kayam ini adalah seorang guru besar dan juga sastrawan. Ia pernah mendapat jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Karya-karyanya yang beken di antaranya Seribu Kunang-kunang di Manhattan (kumpulan cerpen, 1972), Para Priyayi (novel, 1992), Mangan Ora Mangan Kumpul (kumpulan kolom, 1990), Sugih Tanpa Banda (kumpulan kolom, 1994), Satria Piningit, dan Lebaran di Karet (kumpulan cerpen, 2002). Ia meninggal pada tahun 2002. Karya-karyanya hingga sekarang masih terpajang di rak buku.

Penulis lainnya yang tak kalah piawai dalam mendongeng adalah Ahmad Tohari. Ia begitu rinci dalam mendeskripsikan tempat, suasana, dan sebagainya. Membaca karya Ahmad Tohari seperti membaca sebuah sejarah sebuah daerah. Coba lihat bagaimana ia menjelaskan situasi kemarau Ronggeng Dukuh Paruk.

Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah tujuh bulan kerontang. Sepasang burung bangau i tu takkan menemukan genangan air meski hanya selebar telapak kaki. Sawah berubah menjadi padang kering berwarna kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi bercak-bercak hijau di sana-sini adalah kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik.

Ahmad Tohari ini populer dengan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Ia juga beken dengan karyanya berjudul Bekisar Merah, Kubah, dan Di Kaki Bukit Cibalak. Ahmad pandai memasukkan nilai-nilai kultur budaya di suatu daerah dalam tiap karyanya. Ia juga gemar memasukkan situasi politik pada latar cerita tersebut.

Gambar dari: pixabay dan bawah (NU Online)

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 17, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: