Perjumpaan Pertama

Aku benci dibangunkan dengan terpaksa. Hari ini aku merasa lelah, ingin membayar hutang tidurku yang akhir-akhir ini kurang lelap. Dini hari aku mendengar suara anak kucing mengeong dengan semangat. Entah kemana induknya. Suaranya terdengar jelas. Sepertinya ia berada di sekitar halaman rumah.

Aku tidak bisa tidur nyenyak gara-gara rengekan anak kucing itu. Sepertinya ia benar-benar hadir dekat rumahku. Pagi hari ketika matahari baru bangun, sudah ada suara-suara itu. Aku jadi penasaran akan sosok anak kucing misterius itu. Seperti apa wujudnya.

Sudah lama aku tidak bersentuhan dengan dunia kucing. Sejak merantau aku tak pernah ingin dekat-dekat dengan mereka. Aku takut keterikatan sementara aku masih suka berganti-ganti tempat tinggal.

Ketika berhadapan dengan kucing aku harus siap dengan komitmen. Komitmen seumur hidup karena kucing termasuk hewan yang setia. Ia akan terus berada di sekelilingmu dengan kebaikan dan keburukan yang ia punyai.

Aku membuka pintu. Kucari sumber suaranya. Ia ada di sana. Di rerumputan di bawah pohon mangga.

Ia masih baru dilahirkan. Kucingnya masih buta. Tubuhnya masih licin seolah tak berbulu. Seperti anak tikus. Ihhh aku bergidik. Kemanakah induknya.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tak pernah bersentuhan dengan anak kucing buta tanpa induknya.

Kuputuskan tak melakukan apa-apa. Si bayi itu perlu induknya. Jika ada tangan manusia maka mungkin induknya enggan merawatnya.

Kucing bayi itu masih mengeong-ngeong. So induk tetap tak kelihatan.

Sementara langit yang sejak pagi mendung berubah jadi gelap. Tak lama rintik hujan berjatuhan. Duhhh kemanakah si induk kucing.

Rasa kasihan mengalahkan rasa jijikku. Aku mengambil kardus. Kualasi dengan kain yang sudah kotor. Aku mengenakan sarung tangan dan bersikap seolah-olah memegang sesuatu yang biasa. Aslinya aku seperti memegang anak tikus.

Kucing itu diam saja. Ia kemudian nampak nyaman di dalam kardus. Tapi ia nampak lapar. Aku harus berbuat sesuatu.

Aku pun mencari-cari informasi. Air susu induk tetap perlu. Ada juga sih susu kucing bubuk, apakah bisa? Ada juga yang mengusulkan untuk menambahkan mentega.

Aku berangkat dengan jas hujan menembus hujan. Demi kucing itu.

Aku kemudian meramu makanan bayi kucing. Susahnya memberinya makan. Aku menggunakan pipet. Dan makanan itu belepotan. Mungkin karena aku jijik memegang bayi kucing itu sehingga kurang bisa pas mengenai mulutnya.

Kucing yang lapar itu juga berupaya. Ia lalu mencoba menghisap air susu tersebut. Kemauannya untuk hidup kuat.

Induk kucing itu tak datang malam ini. Juga keesokan harinya. Ia benar-benar tak datang. Ia membuang anaknya.

Aku sendiri lama-kelamaan terbiasa menyiapkan air susu buat anak kucing tersebut. Tubuhnya nampak lebih kuat. Wujudnya masih seperti alien. Aneh. Tidak seperti anak kucing pada umumnya.

Hingga tibalah momen tersebut. Bayi kucing itu bisa membuka matanya. Ia tak lagi buta. Yang dilihat pertamanya adalah wajahku. Ia memandangku. Aku menjadi induknya. Ia kuberi nama Mew.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 29, 2018.

5 Tanggapan to “Perjumpaan Pertama”

  1. Kucing baru lagi? Wow.

  2. Hai kak! Keren banget postingannya, semangat terus ya kak.
    Salam kenal, kalau kakak berkenan boleh saya minta ikuti balik?😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: