Sedikit-sedikit Jadi Karya Fiksi

Jika Kalian setiap hari menulis sekitar 500 kata, maka seratus hari kemudian Kalian bisa menghasilkan sebuah novel karya sendiri. Aku tertegun mendengar pesan inspiratif dari Ahmad Fuadi. Kapan ya aku punya novel yang beneran terbit? Kenapa tidak kumulai dari saat ini?

Ini kali kedua aku menjadi peserta dengan narasumber Ahmad Fuadi. Bagi yang belum mengenalnya, ia adalah pengarang buku populer Negeri Lima Menara. Buku ini telah sukses dilayarlebarkan. Buku ini juga diterbitkan ke berbagai bahasa.

Ini kali kedua aku bertemu dengannya. Aku jadi malu tidak ada perkembangan apapun sejak bertemu dengannya sekitar setahun lalu. Aku tetap rajin menulis sih iya, tapi aku juga belum sama sekali membuat novel.

Sebenarnya aku pernah membuat dua novel dan novelet. Novelet pertamaku berjudul Cyber Club, mengisahkan kehidupan mahasiswa di sebuah jurusan TI. Sedangkan dua novel lainnya berjudul Pacar Instan serta Kisah Gadis Pengkhayal dan Pangeran Beruang. Dua buku pertama kujual sendiri dan lainnya masih terbengkalai tanpa cover. Hiks.

Oh ya meskipun sudah kali kedua berjumpa dengan Ahmad Fuadi aku tidak merasa bosan. Aku merasa mendapat suntikan energi baru agar tetap berharap dan melakukan sesuatu untuk mewujudkannya jadi kenyataan, memiliki buku yang diterbitkan, baik oleh penerbit terkenal maupun lewat self publishing yang sekarang bermunculan.

Bagi Ahmad Fuadi, tulisan itu adalah karpet terbang. Lewat karya tulisannya ia bisa kemana-mana, diundang ke Amerika dan Australia menjadi pembicara. Tulisan itu juga bisa menyentuh perasaan dan memberikan wawasan. Ia bercerita orang Amerika penasaran dengan kehidupan pesantren modern seperti di Gontor yang sebelumnya sedikit terungkap.

Karya tulisan sendiri bisa dari mana saja. Bisa dari hobi, momen hidupmu yang paling berkesan atau dari surat dan diary yang pernah Kalian buat. Mungkin Kalian masih ingat sebuah persimpangan yang membuat Kalian harus memilih dan kemudian mengubah total kehidupan Kalian. Atau Kalian tertarik dengan suatu topik dan ingin menyelidikinya secara mendalam.

Novel yang baik biasanya memiliki keterbaruan. Cerita pesantren jarang dikupas. Tambahkan nilai kelokalan yang hanya ada di tempat tersebut atau daerahmu. Penambahan dialek, kultur budaya juga akan memberikan suatu hal yang berbeda.

Lantas bagaimana agar bisa menghasilkan novel atau karya buku lainnya? Langkah pertama tentu berkomitmen. Sediakan waktu dalam sehari, misal sebelum atau setelah berangkat kerja. Jadikan kegiatan tersebut kebiasaan sehingga misalkan dalam sehari mampu menulis 500 kata maka dalam 100 hari bisa jadi 50 ribu kata. Selanjutnya lakukan proses editing dan mintalah beberapa orang untuk membacanya dan memberikan saran.

Seperti halnya menulis berita, maka ada empat unsur agar niat membuat novel benar-benar terlaksana. Tips menulis ala Anwar Fuadi sebagai berikut:

  • Why: Luruskan niat. Suntikan stamina yang tidak putus.
  • What: Subyeknya familiar.
  • When: Konsisten
  • How: Referensi dan visual

Sudah siapkah Kalian punya karya buku?

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 30, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: