Lestari

Ketika membaca Gili Lawa terbakar, aku merasa nelangsa. Duh kok bisa sih sebegitu teledornya manusia membuat pulau yang begitu indah jadi rusak dalam sekejab. Hukuman apa yang kiranya pantas bagi pelakunya agar mereka jera?

Kejadian semacam ini bukan kali pertama terjadi di negeri ini. Seperti mimpi buruk yang berulang. Terjadi lagi dan lagi. Apakah peristiwa di Gili Lawa ini bisa menjadi momen kesadaran akan pentingnya berhati-hati selama berwisata?

Tahun lalu sabana Bromo juga terbakar puluhan hektar karena ulah wisatawan. Pada tahun 2015, hutan Gunung Muria dan hutan kawasan Gunung Semeru juga terbakar karena ulah pendaki.

Hal yang kontradiksi dan ironis ketika mereka yang berlibur ke alam liar namun malah merusak alam tersebut?

Apakah memang berwisata saat ini sekedar tren tanpa dibarengi kesadaran melestarikan alam tersebut?

Pulau Sempu sudah beberapa lama ditutup karena kawasan Segara Anakan yang malah kotor dan kumuh oleh para wisatawan yang berkemah. Ketika ke Kawah Ijen aku melihat beberapa pos kotor oleh sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh pendaki.

Mungkin sudah sepatutnya pemerintah daerah dan pengelola tempat wisata menerapkan screening dan pembatasan jumlah wisatawan seperti yang dilakukan di Pantai Tiga Warna di Kabupaten Malang. Jangan sampai kelestarian alam tergadaikan.

“Oleh karena alam yang indah bukan hanya milik manusia, namun juga flora dan fauna. Di dalamnya melekat tanggung jawab untuk melindungi dan melestarikannya, jangan sekedar dieksploitasi”.

Gambar dari Kompas

 

 

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 4, 2018.

6 Tanggapan to “Lestari”

  1. Indonesia itu kaya..tapi bbrp orang2nya kere mental…syedih…

  2. Saya benci dengan mereka yang tidak bertanggung jawab seperti ini.
    Saya setuju dengan screening, dengan memberikan tarif mahal 😂😂

    • Di Kabupaten Malang di Pantai Tiga Warna para warganya yang mengawal proses pembatasan wisata. Terbukti mereka tak silau dengan uang dari para wisatawan. Sebaiknya pengelola lainnya juga bersikap arif dan meneladani sikap mereka, dengan lebih memprioritaskan kelestarian alam daripada membuka pintu selebar-lebarnya untuk pariwisata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: