Bisakah Berinvestasi dengan Rp 100 Ribu?

Seorang satpam yang kukenal, bercerita gajinya masih di bawah UMR Jakarta. Tapi sehari-hari ia tak nampak mengeluh dan bekerja dengan penuh semangat. Ia menerima pekerjaan apa saja di luar jam berjaganya. Ia juga masih bisa menyisihkan uang. Misalkan ia hanya mampu menyisihkan seratus ribu perbulan apakah ia tetap bisa berinvestasi?

Jawabannya tentu bisa dengan pilihan berbagai instrumen investasi saat ini. Namun, untuk mengetahui jenis produk investasi yang tepat maka mereka yang ingin berinvestasi perlu mengenal dirinya sendiri. Apakah ia tipe yang takut dengan risiko, moderat, atau tipe yang agresif?

Sebelumnya yuk bahas dulu perbedaan tabungan dan investasi. Tabungan adalah uang yang disisihkan untuk disimpan. Uang ini bisa dimasukkan ke celengan, atau disimpan ke kantor pos, koperasi atau bank. Dulu menabung di bank memang diharapkan bisa meningkatkan nilai uang. Namun, dengan bunga saat ini yang berkisar 0-2 persen setahun belum dikurangi biaya administrasi bulanan maka menabung di bank seolah-olah hanya menaruh uang di tempat yang nyaman.

Menabung tetap bisa digunakan jadi pilihan menyimpan dana dan membentuk dana darurat karena sifatnya yang mudah dicairkan atau mudah diambil. Namun jika tujuannya untuk meningkatkan nilai uang maka tabungan bukanlah pilihan yang tepat.

Bagaimana dengan tabungan berjangka?
Tabungan berjangka memiliki keunggulan dibandingkan tabungan konvensional. Tabungan berjangka memaksa seseorang untuk disiplin menabung, dengan mengatur jangka waktunya apakah mingguan atau bulanan dan waktu mengumpulkannya, apakah setahun, dua tahun, atau lebih dari itu. Plusnya, selain bisa menanamkan rasa disiplin menabung, bunga atau yield-nya lebih besar dibandingkan bunga bank. Biasanya tabungan berjangka memiliki bunga berkisar 4-5 persen per tahun.

Dulu aku pernah dua kali membuka tabungan berjangka di dua bank, bank Mandiri dan NISP. Dengan Rp 100 ribu per bulan maka aku bisa menikmati fasilitas tersebut. Namun, ketika mengambil pilihan ini berkomitmenlah untuk tak mengambil dananya hingga sesuai jangka waktu. Pasalnya, penalti atau dendanya besar jika diambil sebelum jatuh tempo. Di bank Mandiri penaltinya Rp 150 ribu sendiri. Nyesak kan?!

Berinvestasi Emas?
Berbeda dengan tabungan, investasi dipilih karena sifatnya yang umumnya dapat meningkatkan nilai. Yang perlu diketahui investasi juga memiliki tingkat risiko. Ada yang risikonya rendah juga ada yang tinggi. Tingkat risiko ini juga ada kaitannya dengan waktu. Biasanya semakin lama waktu berinvestasi maka tingkat pengembaliannya juga cukup tinggi dan risikonya semakin turun.

Contoh beragam investasi adalah emas, reksadana, dan saham. Produk investasi ini saat ini bisa dimiliki dengan Rp 100 ribu per bulan. Tapi sebelumnya tanyakan ke dirimu, apa tujuanmu berinvestasi. Berapa lama waktu untuk berinvestasi? Apakah Kamu sanggup menerima risiko, misalkan harga saham berjatuhan? Atau lebih menyukai yang risikonya rendah?

Emas salah satu pilihan berinvestasi yang dianggap risikonya rendah. Nilai emas dalam beberapa tahun terakhir ini cenderung memiliki pergerakan yang sedikit. Tapi masih banyak yang suka dengan pilihan investasi ini.

Harga emas per gramnya berkisar Rp 550-580 ribu. Di Tokopedia, aku menjumpai sistem investasi emas dengan dimulai puluhan ribu tapi dalam bentuk nonfisik. Jadi emas itu tidak Kalian terima dalam wujud emas koin atau batangan. Namun emas itu tetap milik Kalian dan bisa diperdagangkan jika Kalian merasa nilainya sudah tumbuh.

Aku sudah mencoba membelinya. Kalian bisa membelinya dari angka Rp 10 ribu.
Kalau aku sendiri tiap bulan kuupayakan menyediakan dana Rp 100 ribu untuk membelinya. Memang sih dalam setahun nanti kira-kira hanya terkumpul dua gram emas. Tapi daripada tidak punya sama sekali hehehe.

Reksadana Rp 100 Ribu Banyak Pilihannya
Reksadana adalah merupakan wadah untuk berinvestasi. Wujudnya bisa berupa reksadana pasar uang, saham, campuran, dan pendapatan tetap. Biasanya yang bisa dibeli dengan Rp 100 ribu adalah reksadana pasar uang dan saham.

Dulu aku suka membeli reksadana di CS Bank Mandiri. Tapi karena tidak bisa top up secara online maka aku pindah ke Bank Commonwealth. Tempat yang pernah kucoba lainnya Danareksa dengan D’One-nya. Di Bank Commonwealth ini ada berbagai pilihan reksadana yang bisa dibeli Rp 100 ribu dan di-top up tiap bulannya.

Jika misalkan Kalian hanya punya puluhan ribu. Misalkan bulan ini Rp 10 ribu dan bulan depannya Rp 75 ribu maka tetap bisa punya reksadana. Tokopedia juga punya fitur reksadana dimulai dengan Rp 10 ribu. Sama dengan emas, Kalian juga bisa menjualnya lagi jika sudah merasa untung.

Bagaimana dengan Saham?
Uhhhm aku kurang merekomendasikan saham untuk investor pemula. Saham perlu pengetahuan dan kontrol emosi yang baik.

Sebenarnya dengan Rp 100 ribu Kalian bisa memiliki saham lapis dua atau lapis tiga. Saat ini pembelian saham min 1 lot. Satu lot sendiri saat ini hanya terdiri dari 100 lembar. Jadinya 1 lembar sekitar Rp 1000, padahal ada berbagai saham murah yang nilainya di bawah Rp 1 ribu per lembarnya.

Dulu aku membuka akun saham di Danareksa. Selain saham di sini aku juga bisa membeli obligasi dan reksadana. Tapi aku sekarang sudah tak main saham. Siapa tahu kapan-kapan aku berinvestasi di saham lagi.

Aku kurang update dengan dana untuk membuka akun saham. Jaman dulu aku menyediakan dana Rp 5 juta untuk memiliki akun di Danareksa. Entau berapa nilai pembukaan di tempat lain.

Oh ya kenapa aku tidak menyarankan deposito dan obligasi? Karena nilai pembukaannya besar. Deposito masih memiliki batas minimal Rp 1 juta dan yield-nya sekarang minim, sedangkan obligasi biasanya dimulai dari Rp 5 juta dan yield-nya lebih besar daripada deposito. Kalian bisa saja berinvestasi di reksadana dulu, baru setelah terkumpul kemudian mengambil ORI dengan yield di atas 8 persen.

Nah, jangan bersusah jika hanya dapat menyisihkan dana Rp 100 ribu per bulan. Kalian tetap punya kesempatan untuk menabung dan berinvestasi.

Gambar dari dokpri dan pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 9, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: