Ketika Aku

Ketika aku kecil ada dua momen yang kusuka. Momen malam takbiran dan ketika lampu padam. Ketika remaja aku paling menikmati momenku bersama radio dan tape recorder. Saat dewasa aku paling suka Jumat malam.

Ketika aku kecil, malam takbiran berlangsung semarak dan menyenangkan. Ibu sibuk menyiapkan baju-baju anaknya dan menyetrikanya. Aku menunggu ayah memecah celengan gerabahnya, lalu membantunya menghitung uang recehan tersebut.

Tugasku kemudian bertambah dengan menata kue lebaran. Asyiknya aku bisa mencicipi kue-kue yang bentuknya tak sempurna.  Ada kue kupu-kupu, kue cokelat bentuk beruang, kue kering bentuk bunga, dan kue semprit dengan taburan misis cokelat.

Nenek kemudian memanggilku. Ia juga memintaku menata kue-kuenya. Kue nenek kebanyakan jenis kue kaleng. Aku paling suka biskuit marie dan semprong-nya yang manis dan lembut. Kadang-kadang ada sirup gula buatan sendiri. Biskuit marie itu enak banget dicelup dengan sirup gula.

Di masjid juga ramai. Ada banyai anak kecil berkumpul berharap ada pawai. Tapi pawai tak selalu ada. Meski demikian malam takbiran berlangsung semarak, bahkan menurutku lebih wah dibandingkan keesokan harinya.

Momen berikutnya yang kusukai asalkan besoknya tak ada pelajaran adalah mati lampu. Saat mati lampu kami berkumpul di meja makan. Ada saja yang kami obrolkan untuk mengusir sepi. Kadang-kadang kami bermain dengan bayangan untuk melatih imajinasi.

Tapi ketika beban sekolah semakin berat, aku benci dengan mati lampu, menyusahkan untuk belajar dan beraktivitas. Begitu juga dengan waktu-waktu ketika remaja dan seterusnya. Aku jadi benar-benar membenci momen ini, berbeda dengan waktu masih kanak-kanak. Hemmm bagaimana dengan daerah lainnya yang masih sering mati lampu ya?

Ketika aku remaja duniaku digantikan dengan musik. Saban hari aku mendengarkan musik, kemudian mencari majalah tentang musik dan suka datang ke toko kaset untuk menambah informasi tentang musik. Dulu aku sampai punya keinginan menjadi wartawan musik. Sebagian harapanku terkabul meskipun tidak sampai ke Woodstock.

Ketika aku dewasa rupanya aku menyukai Jumat malam. Jumat malam ketika pekerjaan usai aku bisa bersenang-senang, baik sendirian ataupun beramai-ramai dengan kawan-kawan. Kami bisa mencobai tempat makan baru, karaokean, ke sebuah pameran, nonton film, atau sekedar nongkrong di warung kaki lima sambil ngobrol ini itu.

Tapi ada kalanya Jumat malam berlalu begitu saja. Aku hanya ingin tiduran dan terlelap.

Gambar dari pexels

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 4, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: