Era Serba Terburu-buru dan Batasan Privasi Jadi Kabur

Setelah liburan, kembali masuk kerja itu tidak enak. Semangat harus dipompa lebih kuat. Motivasi pun ditanamkan ke bawah sadar. Karena masih malas, artikelku tidak panjang-panjang meski judulnya terkesan serius hahaha.

Saat ini disebut era digital. Era keterbukaan dan semacamnya. Era dimana internet dan smartphone memberikan banyak kemudahan.

Eits tunggu. Apabila ada semacam garis waktu alternatif. Apabila ada kapsul waktu dan sebagainya aku ingin tetap berada di era awal tahun 2000-an.

Bukan berarti era sekarang tidak enak. Ya, aku dimudahkan membuat blog. Membaca buku gratisan juga mudah saat ini. Ngobrol dengan teman-teman juga lebih mudah. Era smart gitu lho. Benarkah?

Era 2000-an juga ada internet. Namun perasaan serba diburu-buru tidak seperti ini. Saat ini terkadang ada rasa tidak nyaman. Sabtu Minggu dan liburan lain kadang-kadang masih ditanyai tugas. Batas privasi juga makin tidak jelas. Tiba-tiba ada yang menyapa kita di ranah aplikasi percakapan hingga malam. Nomor kita semakin mudah tersebar, padahal bagiku nomor ponsel itu sesuatu yang privat.

Saat aku datang ke sebuah acara atau menonton film ada sebuah desakan, hei kenapa kamu tidak segera menuliskannya. Bakal basi lho jika tidak segera nulis. Akhir-akhir ini kucoba hal itu kuabaikan. Biarlah kapan saja kutulis sesuai mauku, kecuali ada yang membayarku.

Dulu aku juga pernah menjadi kuli tinta, tapi masih bisa bernafas karena bersifat media cetak, meskipun juga seringkali diburu deadline.

Aku tidak tahu bagaimana menjadi wartawan era digital saat ini. Ia pasti sangat stress karena dituntut untuk menulis saat itu juga, bersamaan dengan acara, dan disetor beberapa menit kemudian.

Bagaimana ia bisa memeriksa semuanya itu benar dalam waktu yang singkat. Mungkin ia sudah membuat draft atau meminta panitia daftar acara dan para penampilnya jika meliput sebuah acara.

Tapi bagaimana jika meliput sebuah bencana atau sesuatu hal yang data itu penting dan harus akurat? Ya tak heran jika berita di portal A dan B bisa jadi berbeda karena wartawan A mungkin tidak sejeli wartawan B atau ada sebab khusus lainnya. Padahal meralat berita bagi sebuah media itu bak sebuah aib.

Ya, aku kangen masa-masa awal hingga pertengahan tahun 2000-an. Aku bisa membaca buku dengan santai tanpa terganggu dengan berbagai aplikasi.

Aku akan menghubungi kawanku jika benar-benar perlu karena aku mengeluarkan biaya untuk itu. Dan aku tak ingin mengganggu kawan-kawan kerjaku saat hari libur kecuali sangat mendesak. Yang penting perasaan diburu-buru dan merasa ketinggalan sesuatu itu tidak seperti saat ini.

Oh aku rindu masa itu. Apalagi lagu-lagu era 90 dan 2000-an adalah yang terbaik. Membaca buku sambil mendengarkan lagu klasik ataupun musik rock saat akhir pekan adalah salah satu liburan terbaik masa itu.

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 12, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: