Suatu Petang

Petang itu tak jauh dengan hari sebelumnya. Semakin langit gelap jalanan makin padat oleh kendaraan. Dua pertiga jalan digunakan oleh mereka yang kembali ke Jakarta. Hanya tersisa satu lajur untuk arah sebaliknya. Petang yang sebenarnya tak berbeda dengan biasanya.

Langit hari itu lebih gelap. Aku was-was hujan bakal turun. Bukan tubuhku yang lebih kukuatirkan melainkan hasil pekerjaanku. Aku cemas apabila laptopku masuk angin seperti dulu. Namun kemacetan ini tak bisa membawaku lekas untuk tiba di kediamanku. Masih jauh. Masih berkilo-kilo atau satu setengah jaman jika berjalan kaki seperti yang iseng-iseng kulakukan dulu.

Mataku tertumbuk pada penjaja jalanan. Penjual kasur. Ia memanggul dua buah kasur gulung di bahu kiri dan kanannya. Wajahnya kuyu dan tak bersemangat. Sepertinya hari ini belum ada dagangannya yang laku. Lantas bagaimana ia memenuhi kebutuhan dirinya?

Di dekat tiang rambu-rambu, aku melihat bapak tua dengan pandangan mata yang nanar ke langit. Entah apa yang dilihatnya. Ia bukan pengemis. Sosoknya masih menyimpan sisa-sisa kewibawaan. Ia membawa sebuah keranjang rotan. Mungkin ia penjual rumput atau yang biasa menawarkan jasa jual beli barang bekas.

Di belokan usai perempatan, seorang pedagang membawa tiang jemuran. Ada dua buah. Aku tahu ia pasti kesusahan membawa dan menawarkannya.

Petang itu tak beda dengan hari-hari biasanya. Namun mataku terasa panas. Masih banyak mereka yang tak sejahtera di kota yang disebut metropolitan.

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 13, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: