Seandainya Aruna dan Lidahnya Fokus Ke Makanan

“Aruna dan Lidahnya” sudah membuat penasaran pecinta kuliner dan penikmat film Indonesia sejak trailer-nya dirilis. Makanan-makanan yang disajikan dalam beragam cuplikan film tersebut begitu mengundang selera, dari Rujak Soto, Pengkang Pontianak, hingga Bakmi Kepiting. Kupikir film ini bakal mengupas secara mendalam tentang makanan nusantara, termasuk kaitannya dengan filosofi. Namun ekspektasiku rupanya salah, “Aruna dan Lidahnya” bukan hanya tentang makanan, film ini punya sisi lain yang unik.

Omong-omong tentang makanan nusantara, dengan begitu banyaknya suku bangsa di Indonesia maka negeri ini bak negeri 1001 makanan. Masih banyak kuliner daerah yang belum dikenal oleh masyarakat awam. Salah satu media yang efektif memerkenalkan kuliner nusantara adalah film layar lebar. Setelah kesuksesan “Tabula Rasa”dan “Koki-Koki Cilik”, “Aruna dan Lidahnya” pun menjadi film yang dinantikan.

“Aruna dan Lidahnya” berfokus pada sosok Aruna (Dian Sastrowardoyo). Lajang berusia pertengahan 30-an ini seorang pakar dalam masalah wabah. Ia bekerja di One World, sebuah organisasi yang berkutat di bidang kesehatan. Di luar urusan pekerjaan, Aruna sangat antusias dengan makanan. Ia terobsesi untuk menemukan resep nasi goreng ala Mbok Sawal.

Klop dengan Aruna, ada Bono (Nicholas Saputra). Ia seorang chef yang haus untuk menambah pengetahuan dan menciptakan menu anyar. Keduanya adalah sobat akrab yang suka berbagi banyak hal, termasuk urusan privat.

Cerita kemudian bergulir ketika Aruna ditugaskan untuk melakukan investigasi. Ada laporan dari empat daerah tentang pasien yang diduga mengalami flu burung. Keempat daerah tersebut yaitu Surabaya, Madura, Singkawang, dan Pontianak.

Bono yang sedang jenuh pun mengambil cuti untuk menemaninya. Ia beralasan sedang mencari ide untuk menu baru restoran. Tak hanya Bono yang menemani Aruna. Ia mendapat kejutan dengan kehadiran pria yang pernah ditaksirnya, Faris (Oka Antara). Ia juga diminta melakukan investasi, sehingga Aruna harus bekerja sama dengannya. Eh kejutan tak hanya Faris, tiba-tiba si cantik Nad (Hannah Al Rashid) juga hadir. Bono yang mengajaknya tanpa sepengetahuan Aruna. Keempat insan usia 30-an ini kemudian kompak melalang buana dari Surabaya hingga Pontianak.

Permasalahan mulai runyam ketika Aruna sering berselisih pendapat dengan Faris, termasuk dalam urusan pekerjaan. Ia diam-diam juga cemburu pada Nad. Masalah perselingkuhan, konspirasi, juga kehidupan sehari-hari pun tak luput menjadi bahasan.

Bukan Hanya Tentang Makanan
Kupikir film ini bakal mengupas makanan termasuk filosofinya. Tapi ternyata “Aruna dan Lidahnya” lebih dari itu. Aku belum pernah membaca bukunya, sehingga siap menerima kejutan apapun dari film ini.

Sebenarnya film tema kuliner akan menarik apabila disertai filosofi makanan. Alih-alih tentang makanan, Edwin “si sutradara terbaik FFI 2017” malah mengawinkan dengan persoalan wabah flu burung dan beragam isyu lainnya. Namun, aku tak terusik. Aku tetap menyukai film ini. Sebab, Edwin membungkus film ini dengan cerdik dan komplit. Lihat kualitas jajaran pemainnya, betapa lihainya kamera membidik makanan-makanan menjadi begitu menggiurkan, serta bagaimana Edwin masih memberikan warna khasnya dan menghidupkan beberapa adegan simbolik yang membuat penonton bertanya-tanya usai menontonnya.

Yuk kita bahas satu-persatu. Agak spoiller nih.
Dari segi jajaran akting, keempat pemain menampilkan sosok yang memiliki perbedaan karakter. Perbedaan sifat ini jelas terlihat pada cara berpakaian, gestur dan mimik. Gaya berpakaian Aruna yang sederhana, matanya yang berbinar-binar ketika pasian terduga flu burung, Pak Musa, bercerita tentang soto Lamongan, menggambarkan sebagian karakternya. Lain halnya dengan Nad. Ia suka tidur dengan kaki diangkat menempel ke dinding. Ia juga mudah bercerita apa saja kepada orang yang baru dikenalnya.

Keempat pemeran tersebut berhasil menghidupkan sosok imajinasi dalam buku ke dalam layar lebar. Mereka berinteraksi secara natural,  seperti melihat keempat sahabat yang bertemu dan berbagi cerita. Nicholas Saputra yang kental dengan image misterius Rangga bisa tampil santai dan pandai menggoda. Oka Antara dan Hannah Al Rashid semakin terasah dan menunjukkan kualitasnya. Sedangkan Dian Sastro meski di beberapa adegan masih terlihat karakter Cinta dalam ‘AADC’, ia berhasil menampilkan sosok Aruna yang pemikirannya agak naif dan begitu obsesif pada makanan.

Bagi sebuah film, unsur utama adalah naskah yang berkualitas. Cerita tentang wabah flu burung pada manusia ini sudah usang untuk diangkat. Seingatku kasus flu burung mulai hangat pada tahun 2006. Kasus wabah ini sebenarnya bisa diganti dengan yang lebih kekinian, misalnya difteri. Cerita wabah ini sih yang bagiku agak mengurangi nilai film ini secara keseluruhan.

Tak apa-apalah jika aku kurang suka akan kisah wabah flu burung. Toh ini hanya opini pribadi. Untunglah Edwin menggantinya dengan dialog yang menarik juga adegan-adegan yang berkesan.

“Hati-hati jangan terlalu antipati, entar simpati terus empati lalu jatuh hati,” nasihat Bono kepada Aruna ketika disinggung perasaannya pada Faris.

“Aruna dan Lidahnya” dalam film ini sebagian dibawakan dalam sudut pandang Aruna. Sehingga di beberapa adegan Aruna mengomentari kejadian di sekitarnya seperti dalam “Deadpool”.

“Asem rasanya asin
Asin rasanya tawar”

Ada beberapa adegan yang simbolik dan bikin tanda tanya. Adegan pertama ketika Aruna-Faris bertemu dengan Pak Musa, pasien terduga flu burung. Saat bertemu di rumah sakit, Aruna terpana dengan cerita Pak Musa dengan soto Lamongan buatan istrinya yang sudah meninggal. Kemudian ada adegan di kapal dengan lampu warna-warni dengan sosok laki-laki tua mirip Pak Musa yang semangat berjoget bersama seorang nenek. Hemmm apakah itu kakek yang sama?

Kemudian ada adegan Aruna membuka kulkas, mencicipi perasaan jeruk dan berkata asin. Di tempat lain ia menyedot air di perairan dan berkata rasanya tawar. Wah apa maksudnya ya?

Meski film “Aruna dan Lidahnya” ini memiliki kualitas jempolan film ini masih belum mampu menyedot banyak animo masyarakat. Hingga saat ini berdasarkan situs film Indonesia, “Aruna dan Lidahnya” baru mendulang  73.790 penonton. Sangat jauh dari angka 1 juta penonton. Sedikitnya penonton ini bisa jadi karena layarnya yang terbatas. Sayang sekali, padahal jarang ada film kuliner yang begitu bagus. Mumpung filmnya masih tayang, nonton yuk.

Seandainya “Aruna dan Lidahnya” hanya berfokus ke makanan mungkin filmnya bakal menarik. Untungnya filmnya bukan hanya tentang makanan, jadinya super menarik.

Detail Film:

Judul: Aruna dan Lidahnya

Sutradara : Edwin

Pemeran : Dian Sastro, Nicholas Saputra, Oka Antara, Hannah Al Rashid, Desta, Ayu Azhari

Genre : Drama

Skor: 8/10

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 4, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: