Tentang Even Musik

Aku suka menghadiri pergelaran musik, dari yang sifatnya musik etnik, musik orkestra yang mewah hingga musik modern dengan elektronika. Mereka sama-sama menawarkan musik yang memiliki efek ke tubuh dan hati. Tapi ada kalanya aku merasa agak kecewa dan kurang nyaman di sebuah even musik.

Selain sebuah konser di dalam ruangan, aku juga suka menghadiri festival musik yang diadakan secara outdoor. Seru juga, apalagi jika panggung dan penampilnya ada banyak. Bisa lari ke sana dan ke sini melihat masing-masing musisi, meskipun kadang ada saja yang terlewat dan kemudian menyesal.

Dari beberapa even musik, baik yang sifatnya indoor maupun outdoor ada beberapa hal yang bikin acara menyaksikan pertunjukan bikin kecewa.

Yang pertama adalah soal sound system. Sebuah acara musik yang utama adalah mendengarkan musiknya. Tapi bagaimana jika suara penyanyinya sayup-sayup atau suara musiknya terlalu kencang. Sound system dan mixing yang oke tentunya penting.

Berikutnya adalah soal ketepatan waktu. Bete banget jika acara musik molor karena pengisi acaranya belum datang atau alasan lainnya. Jika acara terlambatnya sebaiknya ada kompensasi bagi penonton, seperti penampilan band pembuka atau minuman dan snack gratis.

Berikutnya adalah lokasi penyelenggaraan. Idealnya sih yang mudah dijangkau mode transportasi. Apalagi jika ada fasilitas tempat makan, mushola dan toilet. Aku pernah ke acara musik yang toilet mobile nya terbatas dan begitu kotor. Di suatu acara musik juga ada yang membatasi pembelian hanya dengan kartu elektronik bank tertentu. Harga kartunya mahal dan nilai dalam kartunya tak seberapa.

Yang bikin terkadang acara musik kurang nyaman sering kali penonton sendiri. Ada yang sibuk memotret dan memvideokan secara terus-menerus sehingga penonton yang ada di belakang tertutupi oleh tangan-tangan tersebut. Memotret kan bisa secukupnya, kecuali kalau ia ditugaskan meliput atau mendokumentasikan. Lebih bete lagi jika memotret menggunakan flash dalam ruangan.

Oleh karena aku tak tahan asap rokok, aku kesal jika banyak penonton yang merokok. Duh apa nggak bisa ya menontonnya nanti saja saat jeda atau setelah band tersebut tampil. Jadinya aku sibuk menahan nafas sambil menonton pertunjukan. Ketika semakin banyak yang merokok aku pun menyerah dan menjauh. Menurutku mereka termasuk manusia-manusia egois sih.

Please jangan minum minuman keras. Rasanya sulit juga dilarang minum. Toh ada beberapa stand yang menjual minuman keras. Sebel sih. Yang lebih kesal lagi di sebuah even, contoh produk minuman keras dibagi-bagikan gratis seolah-olah itu minuman soda. Gimana festival musik dikatakan bersih dan acara yang bermanfaat apabila tak bebas asap rokok dan minuman keras. Hemmm entahlah.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 8, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: