Angan dan Realita “Saturday Night”

Nasi goreng di piringku sudah tak tersisa. Aku siap memenuhi tantangan kawan-kawan mengambil piring kedua berisikan mie goreng dengan potongan kubis, sawi hijau dan telur orak-arik juga suwiran daging ayam. Harumnya yang tersebar dari uapnya yang masih mengepul membuatku tergoda. Tapi kali ini aku ingin membaginya bersama kawan. Kami perempuan-perempuan yang merayakan Sabtu malam itu dengan pesta makan murah meriah.

Saturday Night lagu Suede memiliki tone yang suram. Aku menyukai lagu ini sejak awal kemunculannya. Hingga saat ini aku tetap masih suka memperdengarkannya, mengenang masa-masa Sabtu malam yang pernah kurasakan.

Hari Sabtu itu menurutku istimewa. Dulu setiap Sabtu sore kami berpakaian lebih bagus dan kemudian asyik bermain di luar. Kami diperbolehkan main lebih malam dari biasanya. Menyenangkan. Kami bermain jamuran, gobak sodor atau kejar-kejaran.

Makan malam dan acara teve juga biasanya lebih istimewa. Ya, aku suka Sabtu malam, tidak perlu belajar, hanya bermain dan bersenang-senang.

Sabtu malam mulai terasa berbeda ketika remaja. Aku mulai iri kepada mereka yang punya pasangan. Aku juga ingin memiliki seseorang yang spesial. Tapi siapa sahaya? Hanya seorang kutu buku, maniak musik, dan pengkhayal. Aku remaja yang di bawah radar.

Aku menciptakan sosok khayalan. Pangeran khayalan. Ia suka bercerita lucu-lucu dan teman diskusi yang menyenangkan. Aku bisa bertukar pikiran apa saja, dari cerita The X-Files, lagu-lagu Elvis atau Nirvana, hingga cerita kocak dari kisah Tintin atau serial Nina. Sosok itu pernah hadir meski tak seideal bayanganku, tapi kami hanya berteman.

Sabtu rutinitasku hanya mengikuti latihan teater k-ta. Kadang-kadang kakak menjemput dan kami kesana kemari sambil membeli makanan.

Saat itu aku berharap ada yang menelponku. Sayang seringnya tak sesuai harapan. Pembicaraan di telepon seringkali membosankan, sehingga ingin gagang telpon ingin segera kututup. Cobalah bercerita tentang nada, udara, dan apa saja. Jangan biarkan aku menjawab apa yang kumakan, dan apa yang kulakukan. Cobalah bercerita tentang kelinci nakal yang menyiram cerobong asap, aku akan ikut tertawa terpingkal-pingkal dan waktu tak terasa sudah melaju cepat.

Pangeran impianku itu hingga akhir remajaku tak kunjung kudapatkan. Kadang-kadang ia muncul sekejab, seolah-olah aku berkhayal dan kemudian ia menghilang. Sabtu malamku sebagian besar hanya kuhabiskan di kamar kosanku atau di lab di kampus mengerjakan tugas pemrograman.

Hingga masa itu. Kami perempuan-perempuan lajang menikmati masa pulang lebih cepat karena deadline lebih awal. Kami sebenarnya harus menyimpan tenaga untuk keesokan hari, karena kami tetap harus meliput berita. Tapi tak apa-apalah sesekali kami berkumpul, merayakan hari, dan mengobrol bebas. Kami merayakan Sabtu malam dengan asyik makan. Tak peduli dengan minyak, tak peduli dengan berat badan.

Beberapa bulan kemudian setelah pesta makan itu kawan-kawanku berpaling ke karir lain. Tinggal aku dan kawanku satunya yang telah berpasangan.

Tulisan-tulisanku telah kusetorkan dan sudah diperiksa redaktur. Hanya ada dua tulisanku yang dimuat untuk koran esok harinya, dari empat tulisan. Aku masih bersyukur.

Aku belum mau pulang. Aku belum tahu kemana besok aku harus mencari berita. Tapi bukan itu yang kupikirkan saat itu. Aku merasa sepi.

Aku melangkah ke luar gedung dan menatap jalan raya yang masih ramai malam itu. Aku harus naik angkutan umum dua kali menuju kosanku. Sepanjang jalan aku melamun. Aku merasa Sabtu malamku begitu sendu. Tak ada yang menghubungiku, tak ada yang menjemputku, dan tak ada yang menungguku.

Itu kisah Sabtu malam bertahun-tahun silam. Aku masih mengingatnya sambil mendengarkan lagu Saturday Night yang dibawakan oleh Brett Anderson dengan indah.

Tak semua Sabtu malamku buruk. Seringkali aku juga menikmati kesendirianku saat itu. Ada banyak kenangan manis tentang Sabtu malamku. Cerita tentang persahabatan dan kisah-kisah indah sekaligus kocak yang terjalin pada Sabtu malam.

Bagian terbaik Sabtu malamku saat ini membaca buku di kamar, sambil mendengarkan musik dari radio hingga aku merasa mengantuk dan tertidur.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 13, 2018.

2 Tanggapan to “Angan dan Realita “Saturday Night””

  1. So, beda Sabtu mlammu yg skrg dg yg dulu apa ya? Jika bs memilih, ap yg skrg lbh baik atau gmn?

    • Itu cerita-cerita lama yang hadir ketika mendengar lagu Saturday Night-nya Suede. Lagunya muram jadinya dipilih cerita Sabtu malam yang sedang suram. Aslinya Sabtu malam lebih berwarna-warni, tak selalu sepi dan suram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: