Misteri Raibnya Ayam Kampung

Nasib apes bisa terjadi kapan saja. Tak terkecuali diriku yang sedang menyiapkan ayam kampung untuk dimasak menjadi ayam goreng empuk yang nikmat. Ayam kampung utuh itu hilang di dalam panci rebusan. Kemana gerangan raibnya?

Aku kurang suka ayam goreng yang dijual kebanyakan. Rata-rata rasanya hambar, hanya berasa di kulitnya. Berbeda apabila ayam itu diungkep dahulu dengan beragam bumbu sebelum digoreng. Rasanya bakal jauh lebih nikmat. Apalagi jika ayamnya jenis ayam kampung.

Hari Minggu siang dengan ceria aku mengambil ayam kampung di kulkas. Usai kucuci, aku langsung merebusnya. Oleh karena ayamnya masih beku, maka tidak kupotong-potong dulu. Aku akan merebus setengah matang, baru kupotong-kupotong, kucuci dan kurebus lagi dengan aneka bumbu.

Rencanaku sudah matang. Ayam pun sudah kurebus beberapa lama. Aku mematikan kompor. Kututup dengan telenan kayu dengan menyisakan rongga agar asap rebusan bisa keluar.

Aku lalai.

Usai membersihkan rumah maka aku pun bersih-bersih badan. Lengket dan gerah.

Limabelas menit kemudian aku siap memotong-motong ayam dan menyiapkan bumbu. Tapi kok?

Lho kok kaldu doang ya? Ayamnya kemana?

Aku bengong sambil garuk-garuk kepala. Apakah aku lupa menyimpannya. Jangan-jangan kutaruh di meja depan atau ke kulkas. Kucek ke beberapa tempat dan tidak ada. Waduh.

Aku mengingat-ingat posisi telenan. Posisinya agak bergeser. Tapi panci tidak tumpah. Ada beberapa jejak berupa tetesan air. Duh aku deg-degan. Apakah ayamku dicuri tikus? Aku mencari dan melongok ke berbagai tempat.

Kemudian aku mendengar sesuatu. Bunyi mengunyah yang agak samar. Aku pun membuka kuping lebar-lebar. Lalu tampaklah kebenaran itu.

Seekor kucing bandel nampak asyik mengunyah. Di depannya ada ayam utuh yang sudah tak lagi berbentuk. Ia nampak asyik dan bangga karena berhasil mencuri ayam utuh.

Aku masih terpesona. Bagaimana bisa seekor kucing menggigit ayam kampung utuh yang lumayan besar. Pancinya pun tak tumpah.

Kucing itu makan dengan rakusnya. Ia kemudian menjilati kedua tangannya dan melangkah dengan gagah, keluar dari bawah meja makan.

Hiiiuuh bersiaplah menerima hukuman.

Kucing itu kucing nakal yang semena-mena. Kucing yang sungguh luar biasa tingkat kenakalannya. Rupanya ia tahu bakal dihukum. Ia pun nampak pasrah siap menerima hukuman.

Cak Nero, pelakunya.
Kucing kuning nakal itu tega melakukannya.
Ia benar-benar nakal
Meski kusayang, ia harus dihukum.

Aku menangkapnya. Ia nampak pasrah. Tangan alias kaki depannya terjulur siap dipukul. Aku memukulnya perlahan-lahan. Dasar kucing nakal.

Kupingnya jadi sasaran. Kucing nakal wajib dihukum biar kejadian itu tak berulang. Wajahnya Nero seperti mau menangis sekaligus pasrah. Kujewer dan kusentil kupingnya. Nakal, nakal, nakal.

Cak Nero sudah mendapat hukuman agar ia jera. Aku kemudian yang bingung menjelaskan alasan tidak jadi makan malam dengan ayam goreng. Ayam kampungnya yang beli itu pasangan lagi. Waduh, gantian nih kayaknya aku yang bakal dimarahi. Gara-gara Cak Nero nih.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 25, 2018.

8 Tanggapan to “Misteri Raibnya Ayam Kampung”

  1. Hahaha … itulah kucing yg pintar dan baik, Mbak Dewi. Mana ada kucing yg baik kalau lg mau mkan hrs minta dulu. Mencuri itu emang sifat dan hakikatnya kucing. Kucing yg kembali kpd hakikatnya itulah kucing yg baik πŸ˜‚πŸ˜‚ πŸ™‚

    Kyaknya kucingmu blm diberi mkan dg kenyang tu, hihi…
    Oya, ntar klau yg bli ayam kampung itu marahin kamu, panggil nama Nero 3 kali ya…πŸ˜‡πŸ˜‚πŸ˜‚βœŒβœŒβœŒ

  2. Awalnya aku kira bakalan seru nih, apa lagi cerita ttg makan. Eh eh..ga taunya ga jadi coz so dimakan kucing ayamnya… πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

    Yg sabar ya Bu. Jangan dihukum Neronya,..

    Walau ga jadi masak tu ayam, kan lumayan jadi tulisan. 😎😎✌

    Nah, klo aku beneran bakal ceritain ttg makan Ayam betulan dan ga ada kucing yg berani ngambilnya coz habis semua aku sikat. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

    Insya Allah segera di posting/publish..✌

  3. Bagus artikelnya sangat menghibur

  4. Bagus artikelnya, lucu dan menghibur.tks salam

  5. Sebenarnya Nero tidak salah, karena Nero tidak tahu harus bagaimana jika melihat Bekakak Ayam yang menggoda hatinya, saat itu Nero mungkin sedang lapar, Nero melihat kesempatan untuk menghilangkan rasa laparnya, saran dan usul saya, dimaafkan saja kelakuan Si Nero dan mungkin Bekakak Ayam belum rezeki kita atau mungkin memang rezeki Si Nero, mohon ijin tertawa setelah membaca “Misteri Raibnya Ayam Kampung” he,,,he,…he lucu bingit…

    • Aku masih heran kok dia kuat membawa ayam itu. Padahal kan lumayan berat dan pancinya tidak tumpah. Si Nero dapat hukuman dijewer, biar jera. Nakalnya kali ini paripurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: