The Night Comes For Us: Brutalnya Level Tinggi Melebihi Headshot

Kabar diproduksinya sebuah film laga berjudul The Night Comes For Us sudah lama didengar. Penggemar Mo Brothers dengan sabar menanti, apalagi sutradara tersebut akan menyandingkan dua aktor laga yang namanya telah mendunia, Iko Uwais dan Joe Taslim. Akhirnya film The Night Comes For Us itu meluncur, namun sayangnya hanya tayang di Netflix.

The Night Comes for Us membahas tentang sebuah kejadian penyerbuan kelompok triad yang merasa dikhianati oleh anggotanya. Adalah Ito (Joe Taslim) yang mendapat masalah karena menyelamatkan seorang anak perempuan, Reina (Asha Kenyeri Bermudez). Ia menitipkannya ke kekasihnya, Shinta (Salvita Decorte). Namun, menyadari ancaman yang bakal dihadapi mereka, Shinta pun menghubungi kawan-kawan lama Ito.

Fatih (Abimana Aryasatya) dan sepupunya, Wisnu (Dimas Anggara) hadir di rumah susun tersebut ketika Ito sudah sadar. Lalu datang seseorang yang dulu dibenci Ito, Bobby (Zack Lee) yang juga berniat menolongnya. Ketiganya akan menjaga anak perempuan itu dan pacarnya, sementara Ito akan mengambil uang dari toko daging, Yohan (Revaldo) yang juga anggota jaringan komplotan penjahat tersebut.

Rupanya kabar berkhianatnya Ito sudah terdengar ke telinga Chien Wu (Sunny Pang). Ia meminta salah satu six seas, sosok andalan triad tersebut, Arian (Iko Uwais) untuk menghabisi Ito. Tak lama sementara Ito berupaya merampas uang dengan melawan belasan kawanan Yohan, tempat tinggal mereka pun dikepung.

Satu-persatu sosok pencabut nyawa datang meneror. Ada dua pemburu sadis Alma (Dian Sastro) dan Elena (Hannah Al Rashid) dengan senjatanya yang khas dan menakutkan. Apakah Ito berhasil kabur dan menyelamatkan anak perempuan tersebut?

Filmnya Sadis dan Brutal
Film terakhir garapan Timo Tjahjanto bekerja sama dengan Kimo Stamboel atau yang biasa disebut dengan The Mo Brothers ini yang kutonton adalah Headshot. Film ini dibintangi oleh Iko Uwais, Chelsea Islan, Julie Estelle, dan Sunny Pang. Film yang mengisahkan hilang ingatannya anggota mafia yang berbelot dan dirawat seorang dokter ini menurutku cukup brutal. Ada banyak adegan bersimbah darah yang bikin mual. Namun rupanya film tersebut tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan The Night Comes for Us. Film ini mungkin lebih pas dengan rating 21 tahun ke atas atau malah lebih, karena level brutalnya tak kenal ampun.

Ya, aktor dan aktris laga banyak merupakan alumni dari The Raid, Buffalo Boys, Headshot, dan Wiro Sableng. Di antaranya Iko Uwais, Joe Taslim, Julie Estelle, Sunny Pang, dan Yayan Ruhian. Indonesia memang masih kekurangan dan perlu aktor dan aktris laga.

Mungkin alasan film ini kurang cocok ditonton banyak pihak dan bakal banyak sensornya maka film ini ditayangkan via Netflix. Di bioskop meskipun sudah ada ratingnya, masih sering ditemui keluarga yang membawa anak-anaknya untuk menonton bersama mereka sebuah film dewasa. Aku pernah menonton Ninja Assasin yang sadis. Ada anak kecil yang menangis tak henti-henti, tapi ortunya tak kunjung pergi. Mungkin si anak kecil itu ketakutan dengan adegan di depannya. Aku saja sering nutup mata jika brutalnya tidak tertahankan.

Oke kembali ke The Night Comes for Us. Ide ceritanya sederhana dan tema besarnya agak mirip dengan Headshot. Jangan pernah berkhianat dalam jejaring kriminal. Jika sudah masuk ke dalam lingkaran tersebut maka bakal susah untuk meninggalkannya.

Yang menarik di sini adalah pendalaman karakternya. Tiap tokoh punya karakter pembeda yang memudahkan untuk mengenalinya. Fatih lebih sabar dan bijak, Ito masih suka berpikir pendek, Wisnu masih polos dan sederhana, sedangkan Bobby tipe panasan dan brangasan. Mereka seperti menyatu dengan karakternya. Keempat pria tersebut memiliki jalinan persahabatan yang natural, meski tidak selalu akur, seperti pertemanan pada umumnya.

Di sini iko Uwais tampil trendi. Nampak ganteng dan lebih berkharisma dibandingkan film-film sebelumnya. Ia nampak sangat mudah mengalahkan lawan-lawannya. Beberapa gerakannya seperti diperlambat, tidak secepat biasanya.

Para wanita pembunuh juga tak kalah meyakinkan. Julie Estelle sebagai operator misterius makin meyakinkan sebagai aktris laga. Ia sudah pernah berlaga di The Raid 2 dan Headshot, sehingga gerakannya makin mantap. Hannah Al Rashid juga pernah berperan di Buffalo Boys, Comic 8, dan sebuah film pendek Gareth Evans. Ia juga seorang pesilat sehingga gerakan bela dirinya tangkas dan luwes. Prisia juga memiliki latar yang sama dengan Hannah.

Yang menarik Timo juga mengajak Dara alias Shareefa Daanish di film ini. Film Dara dan Rumah Dara adalah salah satu film ikonik The Mo Brothers yang tak kalah brutal. Apakah bakal ada lagi sekuelnya? Oh ya ada si cantik Cinta alias Dian Sastro. Ia keluar dari zona nyamannya dan menjadi pembunuh dengan benang tajam. Gerakannya belum setangkas Hannah dan Julie, tapi upayanya patut diapresiasi. Penampilannya dengan rambut pendek nampak cukup garang.

Dari segi sinematografi dan koreografi patut diacungi jempol. Di luar kebrutalan dan kesadisannya yang level tinggi, aku mengagumi film ini.

Apresiasi film ini cukup baik dari para kritikus film mancanegara. Bahkan situs tomat busuk memberi skor di atas delapan. Oh ya rekan Timo, Kimo dipastikan akan menyutradarai Dreadout yang diangkat dari game horror-survival buatan anak negeri. Wah apakah bakal melampaui Resident Evil? Hemmm sepertinya bakal sebrutal The Night Comes for Us.

Detail Film:
Judul: The Night Comes For Us
Sutradara: Timo Tjahjanto
Pemeran: Joe Taslim, Iko Uwais, Zack Lee, Sunny Pang, Abimana Aryasatya, Dimas Anggara, Revaldo, Morgan Oey, Julie Estelle, Hannah Al Rashid, Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Arifin Putra, Shareefa Daanish, Yayan Ruhian, Prisia Nasution, Epy Kusnandar, Salvita Decorte,
Asha Kenyeri Bermudez
Genre : Laga
Skor :7/10 (Bisa 7,5 seandainya tidak terlalu sadis)
Gambar milik Netflix

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 30, 2018.

4 Tanggapan to “The Night Comes For Us: Brutalnya Level Tinggi Melebihi Headshot”

  1. Waw… film laga brutal. Penasaran, jd pngin nonton jg. Ada Dian Sastro pula, kyaknya dia lg pindah genre film ya 🙂

  2. ada satu misteri di film ini
    epy kusnandar jadi night handler
    tapi dia muncul di scene apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: