Heterogen

Hari masih pagi, sesi istirahat juga belum lama, Guruku kemudian memanggil nama-nama kawanku. Ada beberapa nama yang disebut sudah menunggak SPP sekian bulan. Kawan-kawanku itu diminta pulang untuk meminta dana tersebut dari orang tuanya. Saat mereka kembali ke kelas, sebagian tidak membawa uang sama sekali. Jadilah mereka kembali menunggak dan siap kapan saja diminta kembali pulang.

Lingkungan aku dibesarkan heterogen. Ada beberapa yang kaya, tapi tidak sedikit yang menengah ke bawah. Demikian pula lingkungan sekolah TK dan sekolah dasarku. Ada yang kaya, tapi sebagian keluarga pas-pasan sepertiku dan sebagian lainnya termasuk yang susah mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-harinya.

Saat itu tidak banyak prasangka dan stereotipe. Yang miskin dan kaya juga dari beragam suku dan ras, termasuk keturunan Tionghoa dan Arab.

Di lingkungan tempat tinggalku pada masa dulu, kadang-kadang aku menjumpai tetanggaku yang berhutang untuk sekedar membeli beras. Ada juga beberapa di antaranya yang tak punya kamar mandi dan WC, sehingga kemudian dibuatlah kamar mandi dan WC umum secara gotong-royong dari sumbangan warga. Ya saat itu tidak ada dana dari kelurahan, para warga yang mampu membantu yang tak berpunya. Kamar mandi dan WC umum itu masih ada hingga sekarang yang bisa digunakan oleh banyak warga.

Profesi tetanggaku beragam. Ada tetanggaku yang menjadi buruh cuci dan setrika. Ada pula yang menyediakan jasa pijat. Ada pula yang berjualan makanan keliling dan tukang parkir. Yang membuatku kasihan sekaligus kagum, tetanggaku yang menjadi buruh setrika saat itu bersetrika dengan menggunakan setrika arang. Setiap beberapa saat ia membuka dalaman setrika untuk dikipasi agar bara api tetap menyala dan panas. Ada kalanya setrika harus dibuka dan dibiarkan dulu karena terlalu panas.

Meskipun lingkunganku heterogen, aku tidak pernah mendengar ada yang suka mengolok-olok dan menghina yang tak berpunya. Lingkungan rumahku rukun dan damai. Kami sama-sama ikut kerja bakti dan lomba tujuhbelasan. Anak-anaknya juga bermain bersama tak ada yang dikucilkan. Demikian pula lingkungan sekolahku. Memang ada beberapa anak yang nakal, tapi sangat jarang yang mengolok-olok latar belakang kondisi perekonomian. Kami heterogen dan itu bukan masalah.

Gambar dari pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 5, 2018.

4 Tanggapan to “Heterogen”

  1. Indahnya hidup dlm keberagaman, tp tetap saling menghormati. That’s life.

  2. begitulah kehidupan yang sebenarnya, tidak ada kedengkian, semuanya sama, yang kaya bersedekah yang tidak punya. Indahnya kebersamaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: