Bali dalam Kabut Pagi

Pagi memiliki pesona tersendiri. Demikian pula dengan sebuah pagi di Bali. Ada banyak wisatawan yang terpukau dengan keindahan panorama dan kekayaan budaya pulau dewata ini. Salah satunya adalah Nishiyama Takashi yang mengabadikan kesannya terhadap Bali lewat buku kaya ilustrasi berjudul Bali dalam Kabut Pagi.

Aku menemukan buku ini secara kebetulan di sebuah lapak buku bekas di kawasan Terminal Senen. Aku langsung jatuh cinta dengan ilustrasinya yang seperti sketsa. Bali lama pertengahan tahun 80-an terekam lewat pena dan cerita. Tigapuluh ribu dan buku itu ada di tangan. Ada banyak ilustrasinya yang dibuat oleh tangan. Indah dan memperkaya cerita.Gambar-gambar itu dilukis sendiri oleh Nishiyama. Sedangkan buku ini diterjemahkan dan disunting masing-masing oleh Kasuya Toshiki dan Noegrohi Soeprapto.

Aku merasa menemukan harta karun. Ketika membaca dan menikmati gambar dalam buku ini aku seolah-olah terlempar dalam Bali pertengahan tahun 80-an dan awal 90-an. Cerita-ceritanya ringan, berkisar keseharian, kebiasaan masyarakat Bali semasa itu. Di dalamnya ada gambar anak sapi menyusu induknya dengan latar panorama sawah, suasana di sebuah pura dan kegiatan bersawah.

Dalam sebuah kisah “Gadis Penjual Jajan”, si penulis penasaran akan benda yang dijual gadis kecil yang berteriak “Ja-ja-jaan”. Gadis itu berhenti dan tersenyum ketika si penulis menyapanya. Anak perempuan sepuluh tahun itu kemudian menurunkan bakulnya dan memerlihatkan kue yang warna dan bentuknya asing.

Ada kue yang digoreng mirip karangan bunga. Kerupuk berwarna merah tua dan kue ketan yang dibungkus dengan daun bambu. Semuanya jajan kata anak perempuan itu. Ooh ternyata jajan adalah kue. Si penulis kemudian membeli kue bambu yang rasanya tak beda jauh dengan kue Jepang, suhama.

Nishiyama kemudian melukiskan pesta desa dan suasana pasar di Bali. Saat itu ia terkagum dengan penari bertopeng yang rupanya sudah berusia uzur. Di pasar ia melihat masih banyak penjual yang menaruh dagangannya di atas kepala alias menyungginya. Suasana pasar yang ramai dengan barang dagangan yang beragam sungguh menarik keinginannya untuk melukisnya.

Melihat buku ini kembali, membuka tiap lembarnya dan mencium aromanya, membawaku kenangan pada lapak buku bekas di Terminal Senen dan Kwitang. Masih adakah lapak-lapak itu. Ooh aku sungguh kangen dengan masa-masa buku berjaya dan aku masih suka bergelung di kasur dengan tumpukan buku.

Detail Buku:
Judul : Bali dalam Kabut Pagi
Penulis : Nishiyama Takashi
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 1996

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 7, 2018.

9 Tanggapan to “Bali dalam Kabut Pagi”

  1. Saya membayangkan, jika saja semua Traveler bisa menyusun buku dengan ilustrasi sendiri seperti ini. Pasti akan menambah nilai

    • Wah nggak semua bisa menggambar hehehe. Tapi memang unik sih sebuah kisah perjalanan lengkap dengan sketsa. Dulu aku punya kawan perempuan yang kemana-mana bawa buku sketsa dan suka menggambar apa yang kami lakukan hari itu, kayak berburu buku dsb. Wah dimana ya gambar-gambar sketsa itu dulu.

  2. Penulisnya org Jepang? Writen in English or in Bahasa?

  3. bali dan kabut
    pikiran saya melayang kalo gak ke trunyan ya ubud
    heaven on bali ituu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: