Ketika Malang Masih Berkabut

Ada masa ketika kota Malang hawanya masih cukup dingin dan masih suka berkabut. Masa-masa yang membuat Malang menjadi mudah dirindukan karena hawanya. Tapi saat ini Malang sudah seperti kota tetangganya, mulai macet dan hawanya panas.

Jaman dulu di sekitar jalan Kaliurang, Sarangan dan Letjen Sutoyo ada banyak sekali pepohonan. Dimana-mana ada pohon. Hijau sekali. Ketika kecil kami bertiga suka diajak ayah jalan-jalan, kadang-kadang kami naik becak, kadang-kadang jalan kaki. Dimana-mana pohon dan hawa begitu sejuk. Hawa saat pagi begitu segar, membersihkan racun dari paru-paru.

Malang berkabut masa dulu masih sering ditemui. Kadang-kadang kabutnya cukup tebal sehingga kami harus berhati-hati. Dingin dan berkabut, oh rasanya aku tetap ingin hangat berselimut.

Aku dulu sangat menyukai pagi hari. Biasanya hari Minggu pamanku mengajakku jalan-jalan. Langit masih belum begitu terang, aku dibonceng pamanku menuju pasar ikan.

Aku lupa dimana persisnya. Yang kuingat kawasan itu penuh ikan. Ikan-ikan besar dan aneka rupa. Aku suka melihatnya.

Biasanya pamanku tak langsung membelinya. Ia berkeliling dan kemudian asyik memerhatikan pedagang bersama ikan-ikan itu. Ia memberitahuku berbagai jenis ikan laut. Aku yang masih kecil terpukau akan ukurannya yang besar dan membayangkan masakan dari olahan ikan tersebut. Namun, diam-diam aku merasa kasihan kepada ikan-ikan tersebut. Apakah keluarganya tak sedih apabila anaknya atau ibunya kumakan.

Aku pernah hampir menangis dan bercerita tentang hewan-hewan yang kami makan. Aku membayangkan ayam yang kupelihara dan kemudian kami makan. Rasanya menyedihkan. Tapi ibu dan kakak menyakinkan hewan-hewan itu akan masuk surga karena dimakan manusia.

Sampai saat ini aku sendiri merasa gamang akan memakan hewan. Ada keinginan untuk menjadi vegetarian tapi beberapa studi menunjukkan manusia tetap perlu protein dan lemak hewani. Aku mulai mengurangi makanan hewani meskipun tidak sepenuhnya benar-benar lepas dari makanan hewani.

Ya bagian kisah yang kurindukan dari kota kelahiranku yaitu hawa dinginnya, kabutnya yang sesekali hadir, dan pasar ikannya. Kota Malang telah berubah wajah, menjadi kota pariwisata yang makin panas dan sesak. Meski demikian aku tetap merindukannya, jalan-jalan yang biasa kulewati dan menyimpan cerita.

~ oleh dewipuspasari pada Desember 14, 2018.

5 Tanggapan to “Ketika Malang Masih Berkabut”

  1. ???

  2. Maaf mbak sblume, mbak asli Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: