Adiksi Plastik

Aku terpaku mendengar kata adiksi plastik yang dibahas dalam BBC 6 Minutes English. Benarkah selama ini kita teradiksi plastik sehingga sulit untuk mengubah kebiasaan untuk mengurangi penggunaan plastik? Oh bisa jadi.

Plastik dan produk plastik dimana-mana. Plastik ada di kemasan makanan dan minuman. Plastik menjadi bahan ember, gayung, tempat makanan, botol minum, wadah tempat sampah, bangku, mainan anak, dan masih banyak lagi. Bahkan berbelanja kita masih suka menggunakan kantung plastik. Bahkan kantung plastik ini kita gunakan sebagai alas wadah tempat sampah.

Seberapa akutnya aku dan kamu dengan plastik? Di rumah biasanya ada peralatan makan plastik, minuman dengan kemasan plastik, serta sedotan plastik. Aku dan mungkin kamu dan kaum ibu juga suka mengumpulkan kantung plastik wadah belanjaan.

Plastik memang sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Tapi bahan plastik tak ramah lingkungan. Plastik sulit diuraikan. Mungkin jika dibiarkan sampah plastik akan mendiami daratan Jawa dalam 20 tahun mendatang atau malah lebih. Plastik tak bisa dibiarkan semena-mena. Harus ada upaya untuk mengurangi adiksi plastik dan menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan.

Yang banyak dirugikan oleh plastik adalah alam, hewan dan tanaman. Ada banyak hewan yang kesakitan dan meninggal karena sampah plastik termasuk hewan lautan. Terlalu banyak plastik. Sampah plastik itu dimana-mana hingga mencemari perairan. Hewan-hewan kadang-kadang tidak tahu yang disantapnya adalah plastik yang tak bisa dicerna dan malah merusak sistem pencernaannya.

Memang sulit mengurangi adiksi plastik. Tapi ancaman plastik terus membayangi. Perlahan tapi pasti kebiasaan menggunakan plastik harus dikurangi. Caranya bisa dengan melakukan daur ulang dan menggunakan seminim mungkin plastik. Jika ada botol beling lebih baik mengisinya dengan air minum daripada membeli minuman dengan kemasan plastik.

Aku baru sampai tahap tidak lagi menggunakan sedotan plastik dan mengumpulkan sampah botol plastik untuk diambil pemulung. Aku mulai sering membawa minuman sendiri atau menggunakan gelas dan botol daripada menggunakan atau membeli minuman berplastik.

Aku masih menggunakan kantung plastik sebagai wadah sampah rumah tangga karena petugas sampah tak mau mengambil jika sampah tak dibungkus di kantung plastik. Aku jadi dilema. Ketika sampah kemudian kupisahkan antara sampah basah dan kering oleh petugas sampah keliling tetap disatukan.

Adiksi plastik masih terjadi dimana saja. Produsen plastik masih tetap untung besar. Hanya ada satu kata menurut Wiji Thukul menghadapi ancaman plastik, “Lawan” (dengan perlahan penuh tekad, tapi pasti).

Gambar:pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 21, 2019.

2 Tanggapan to “Adiksi Plastik”

  1. Hallo Dewi,
    Tulisanmu cukup menarik dan kami ingin menawarkan kerjasama content placement di blog ini, kalau boleh tahu kami bisa kontak kamu via apa ya?
    Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: