Menuju Indonesia Sebagai Raja Buah

Setiap kali melewati kawasan Kramat Jati menuju Pasar Rebo, aku merasa segar. Ada beragam buah yang menggoda selera, melon, semangka, alpukat, durian, pepaya, nanas, dan buah-buah musiman seperti rambutan, duku, buah naga, dan, mangga. Tak tahan aku untuk membeli dan bisa-bisa kalap karena harganya terbilang terjangkau. Tapi kenapa Indonesia belum bisa disebut negara buah?

Sebagai negara tropis, Indonesia diuntungkan dengan kesuburan tanahnya dan kondisi iklimnya. Beragam tanaman tumbuh subur, baik tanaman lokal maupun tanaman yang berasal dari negara lain. Hingga tahun 2013 tercatat sekitar 329 jenis buah-buahan (dilansir dari blog Universitas Atmajaya Yogja, 2013). Di antara varietas tersebut 266 di antaranya merupakan buah lokal.

Oleh karena kawasannya yang masih banyak berupa hutan rimba dan kualitas tanahnya yang subur maka varietas buah terbanyak adalah Sumatera (148), disusul Kalimantan (144), Jawa (96) dan diikuti daerah-daerah lainnya. Yang bisa jadi catatan di antara 266 buah lokal tersebut ada 34 jenis buah lokal yang mulai langka.

Beragam Isu Tentang Buah Indonesia
Dengan melimpahnya produksi buah-buahan di Indonesia masih menyimpan berbagai isu. Ragam isu tersebut di antaranya terancam punahnya buah yang mulai langka. Saat ini sudah ada langkah untuk mengantisipasinya dengan membuat berbagai kebun plasma nutfah di beberapa daerah. Namun, tidak semua benih buah langka itu mudah ditanam. Selain itu juga sudah ada sistem database plasma nutfah yang memuat tentang data-data tanaman dari karakteristik tanaman hingga lokasinya.

Buah-buah lokal tersebut umumnya berada di hutan Kalimantan. Dengan intensifnya perubahan hutan-hutan menjadi perkebunan sawit maka nasib buah langka pun terancam. Buah-buah lokal yang mulai jarang terlihat di antaranya gandaria, menteng, duwet, cermai, lai, dan masih banyak lagi.

Memang ada beragam faktor kelangkaan buah lokal tersebut selain karena perubahan lahan. Faktor tersebut di antaranya kurang dikenalnya buah itu oleh masyarakat, rasanya yang bisa jadi kurang disukai, dan kurang komersial.

Isu lainnya berkaitan dengan tingkat konsumsi buah-buahan. Meskipun Indonesia kaya akan beragam jenis buah dan produksinya cukup besar, namun tidak sepadan dengan besaran konsumsinya. Berdasarkan Southeast Asian Food and Agriculture Science and Technology (SEAFAST) Center Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dirilis April 2018 lalu, konsumsi buah dan sayuran warga Indonesia masih jauh dari standar FAO dan WHO. Jumlah konsumsi buah dan sayuran baru 180 gram perkapita perhari, jauh dari standar WHO yakni 400 gram.

Kenapa konsumsi buah-buahan di masyarakat masih rendah? Bisa jadi kebiasaan menyantap buah belum membudaya di masyarakat. Masyarakat masih terbiasa mengonsumsi nasi dan lauk-pauk, tetapi buah dan sayuran tidak selalu ada di meja makan. Padahal buah-buahan kaya serat, vitamin, dan mineral.

Buah-buahan bisa jadi masih dianggap kebutuhan sekunder bahkan tersier bagi masyarakat. Padahal harga buah sebenarnya tidak begitu mahal. Di pasar buah sekilo bisa didapatkan dengan Rp 10 ribu. Buah pepaya bisa dapat dua dengan Rp 10 ribu. Dibandingkan dengan sebungkus rokok jelas harga buah lebih murah. Namun, harga buah ini bisa jadi relatif memberatkan bagi masyarakat menengah ke bawah yang untuk pemenuhan kebutuhan pokoknya saja masih kurang.

Di negara seperti India, buah-buahan disubsidi agar masyarakat bisa mengonsumsinya setiap hari. Harga buah di sana begitu murah dan masyarakat bisa mengonsumsinya setiap hari. Tapi apakah kiranya buah-buahan di Indonesia benar-benar perlu untuk disubdisi, ataukah hanya mengubah kebiasaan? Bagaimana menurut Kalian?

(Berlanjut)

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 26, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: