Imlek

Suatu hari hujan angin turun hampir tiap hari. Setiap pulang sekolah aku bergegas masuk rumah karena hujan dipastikan agar segera tiba. Langit telah begitu gelapnya dan angin mulai bertiup kencang. Nenek berkomentar Imlek akan segera tiba. Jauh sebelum Imlek dijadikan hari libur oleh Gus Dur, keluarga kami terbiasa dengan perayaan tersebut setiap tahunnya. Beberapa tetangga kami merupakan keturunan Tionghoa. Mereka merayakannya. Setiap Imlek biasanya ada hantaran.

Ada dodol China atau kue keranjang yang nikmat. Itu jenis hantaran yang lazim. Selain itu ada lontong kuah yang disebut Lontong Cap Gomeh. Sedap dan gurih. Aku yang tak merayakannya pun ikut gembira.

Hujan-hujan deras di luar sana. Biarlah tiba membersihkan jalan dan mengisi sungai. Kami di rumah hangat dengan sajian lontong hangat dan kue keranjang. Ayah suka sekali kue keranjang itu digoreng dengan sedikit tepung terigu cair. Aku suka dua-duanya. Dodol ini agak keras dan tidak begitu manis, aku menyukainya.

Sejak Imlek dijadikan hari libur, perayaan ini semakin meriah. Aku dulu hampir setiap hari jelang Imlek meliput agenda barongsai di berbagai tempat. Di pusat perbelanjaan ataupun di sekitaran klenteng di Surabaya. Meriah dan aku juga menyukainya.

Bagi Kawan-kawan yang merayakan, saya ucapkan “Selamat Merayakan Imlek”. Semoga tahun ini negeri ini tetap damai dan makin maju oleh prestasi dan kontribusi dari anak negeri.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 5, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: