Misi Pencarian Kucing

Ketika aku menulis artikel tentang “Baik-baik saja”, aku berupaya meyakinkan diriku sendiri aku baik-baik saja. Ternyata tidak. Kondisiku tidak oke. Di kantor aku tidak begitu fokus bekerja. Aku memikirkan kucingku. Ponoc lepas dari kandang ketika hendak kubawa ke dokter. Ia entah dimana. Aku dan Ponoc tidak baik-baik saja.

Ponoc pilek sudah seminggu lebih. Ia kadang-kadang bersin. Ia tertular si Kecil. Kondisinya nampak buruk ketika Pwan, saudara dan sahabatnya, pergi. Pwan meninggal tertabrak kendaraan. Aku juga masih sedih atas kepergiannya.

Mumpung ada waktu aku berencana membawa Ponoc ke dokter. Sudah beberapa hari sebelumnya aku mencuci kandang poket kucing. Kucuci dan kurangkai. Kandang itu kulapisi biar kucing terasa nyaman.

Hari apes itu tiba. Aku naik ojek daring sedangkan Ponoc kubawa dengan kandang. Ia berontak. Sungguh berontak. Dan bagian teralisnya jebol. Ia melompat. Mungkin kemarin aku memasangnya kurang presisi sehingga kurang rapat.

Mulailah hari buruk itu. Ponoc kabur ke suatu rumah. Hampir 30 menit aku di depan pagar rumah itu yang tak kunjung dibuka. Aku berkali-kali mengucap salam dan mengetuk-ngetuk pagarnya. Setelahnya tak berguna. Pagar dibuka dan Ponoc lepas lagi karena pengemudi ojeknya rupanya takut sama kucing.

Hariku makin buruk. Ponoc lari ke jalan. Aku yakin ia bersembunyi di selokan. Tapi ia tak kunjung kelihatan.

Akhirnya aku minta tolong ke satpam karena aku harus pergi ke kantor. Ada rapat yang tak bisa kutinggalkan. Di sepanjang perjalanan aku mencemaskannya. Di kantor aku berharap rapat usai dan aku bisa bergegas pulang. Satpam juga belum memberikan kabar apakah kucingku telah ditemukan.

Kamis petang hujan turun begitu deras. Ketika memasuki area sekitar kucingku lepas, aku sekilas melihat kelebatan kucing. Aku memanggilnya. Kucing itu sepertinya masuk selokan. Aku melihat ke dalam selokan. Kosong. Ada seorang ojek membantuku memeriksa selokan dengan memotret. Memang kosong. Aku bingung. Aku yakin ia di sana. Aku tak putus asa. Aku terus mencari dengan senter ponsel dan jas hujan. Aku bertanya ke salah satu penghuni rumah apakah ia pernah melihat kucingku. Ia nampak mengawasiku dengan curiga.

Pasangan dan orang yang kukenal menentramkanku. Siapa tahu kucing itu sudah di rumah dan malam nanti ia tiba.

Dia tak ada di rumah. Sampai tengah malam pintu kubuka dan ia tak muncul. Ponoc tak baik-baik saja.

Paginya aku kembali berkeliling sebelum berangkat kerja. Aku kembali menyusuri jalan yang sama berharap menemukannya. Nihil.

Tak ada kabar. Tak ada respon. Peristiwa ini memberiku pelajaran.

Jangan pernah aku menggantungkan diri pada orang-orang. Aku harus percaya pada intuisiku sendiri. Kata-kata manis, kucing akan kembali sendiri atau aku dan kucingku akan baik-baik saja itu hanya sekedar pepesan kosong jika tak ada tindakan. Kucingku si Mungil sampai sekarang tak pernah kembali karena aku percaya kata-kata itu.

Jumat kemarin hujan turun begitu deras sejak siang. Sorenya aku ijin pulang cepat. Dengan jas hujan aku berjalan berkeliling, memanggil-manggil kucingku. Ponoc kamu dimana?

Lagi-lagi nihil. Aku pulang dan berganti pakaian. Aku begitu lapar dan kedinginan.

Tapi ada sesuatu yang membuatku dan memaksaku untuk kembali mencari. Aku pun kembali pergi berkeliling.

Hujan masih begitu deras. Langit makin gelap karena sebentar lagi adzan berkumandang.

Aku mencari dan mencari. Ketika hampir putus asa aku mendengar suara. Aku yakin mendengar suara kucing sayup-sayup. Kali ini aku yakin ia pasti di sana.

Aku menuju selokan itu. Aku yakin ada semacam celah di sana yang cukup buat kucing. Aku memotret dengan berjongkok sekitar selokan. Ya,aku melihatnya. Cukup jauh kujangkau. Ponoc nampak ketakutan dan tak mau mendekat.

Aku berlari menuju rumah. Aku lupa membawa pakan.

Dengan gemetaran aku pun kembali menuju selokan itu. Kucing itu lapar.

Ponoc keluar dari selokan. Ia nampak ketakutan dan lapar. Aku segera menggendongnya.

Rasanya jarak dari lokasi selokan dan rumah begitu jauh. Hujan dan Ponoc terus berontak. Ia mulai tahu itu aku. Tapi ia takut hujan.

Akhirnya aku tiba di rumah. Aku segera menutup pagar dan pintu rumah. Ponoc kuberi makanan.

Aku lega. Aku sangat lega. Aku menangis terisak-isak. Aku akan sulit memaafkan diriku bila aku tak berupaya keras mencarinya.

Aku dan Ponoc kini baik-baik saja. Ia mulai ceria dan kembali bermain-main. Nero dan si Kecil menyambutnya.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 2, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: