Mereka yang Ulet

Ibukota dan daerah penyangganya itu keras. Tidak semua aktivitas bisa mendatangkan uang dengan mudah. Namun mereka tetap bekerja keras.

Jika aku sedang menekuri jalanan dari kampus menuju rumah, ada beragam pemandangan aneka rupa yang membuatku terharu sekaligus tergugah. Dulu pemandangan ini biasa kulihat di terminal, di atas bus dan angkutan umum. Ada pengamen, pedagang asongan, dan berbagai penjual lainnya. Tapi setelah terminal makin sepi di Jakarta, bus-bus mulai mati, mereka pun turun di jalan-jalan selain di lampu merah.

Di atas kendaraan aku melihat mereka yang berjalan kaki menawarkan dagangan dari sepatu, dompet, senter, mainan anak dari satu toko ke toko lain, satu rumah ke rumah lain dengan sabar. Penjaja keliling bukan hanya penjual bakso dan sate atau tukang sol sepatu dan penjual kasur, ada penjual seperti lemari kecil, lincak, perkakas, tiang jemuran, ember, hingga tirai bambu. Aku merasa trenyuh dan terharu melihat mereka begitu bersemangat untuk menjual barang mereka.

Tentunya sangat tidak mudah berjualan kasur, lincak, ataupun lemari. Calon pembeli bisa melihat lebih banyak pilihan di toko mebel ataupun membelinya secara online.

Saat gerimis atau ketika hujan deras mengguyur perjuangan mereka makin tak mudah. Aku selalu berdoa agar ada yang membeli dagangan mereka.

Aku merenung apa yang mereka dapatkan jika dagangan mereka tak laku. Apa yang akan mereka makan hari itu bagi dia sendiri dan juga keluarga mereka.

Mereka bukan pemalas. Mereka tak punya modal untuk menjajal ojek daring. Kemampuan mereka adalah berjualan dan melakukan jasa seperti menjahit sepatu.

Kadang-kadang terpikir untuk mengumpulkan banyak uang dan kemudian memekerjakan mereka dengan cara yang lebih manusiawi. Aku yakin mereka bukan pemalas. Mereka adalah orang-orang ulet dan rajin.

Di suatu tempat ada yang membuka tempat makan gratis setiap hari selama satu jam. Ini tentunya akan meringankan pekerja informal seperti mereka. Ada juga yang menyediakan air minum secara cuma-cuma agar siapapun bisa meminumnya tanpa pusing untuk keluar uang.

Makanan dan minuman sebesar Rp 10 ribu dan Rp 1 ribu bagi sebagian orang mungkin kecil. Tapi bagi mereka akan sangat berarti.

Mereka yang bekerja keras di jalanan bukan pemalas. Dengan keterbatasan modal mereka pun melakukan apa saja,untuk hidup keluarga dan hidup mereka. Pemda dan Kementerian Sosial seyogyanya lebih membuka mata dengan hal-hal tersebut, dengan memberikan modal kerja dan pelatihan agar kehidupan mereka ke depan lebih baik.

Gambar pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 4, 2019.

4 Tanggapan to “Mereka yang Ulet”

  1. Tidak ada kehidupan yang mudah. Setiap orang memiliki tantangan mereka dalam menghadapi kehidupan. Tidak setiap tantangan itu berkeringat, kadang dalam bentuk yang menjerat jiwa dibandingkan menjerat raga. Saya kagum melihat orang-orang yang bisa bekerja dengan keras dan memberi sedikit keluh, mereka seperti manusia yang utuh dalam dunia mereka.

  2. Semoga yg bekerja di ibukota tetap istiqomah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: