Kurang Bernyali

Seorang penulis yang masih belia di Kompasiana beberapa waktu lalu menulis sesuatu yang membuatku merenung. Ia merasa kecewa karena sebagian penulis di Kompasiana enggan menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan isu tertentu. Ia berkata itu sesuatu yang pengecut. Aku terdiam dan mengakui aku salah satu di antara pengecut itu.

Mungkin istilah yang tepat bukan pengecut. Pengecut lebih pas untuk hal-hal yang sifatnya buruk. Misalnya takut mengakui ia salah. Istilah yang lebih halus adalah kurang bernyali. Ya nyali itu penting apalagi ketika menulis hal-hal yang masih kontroversi.

Aku tak tahu apa yang terjadi di masyarakat Indonesia saat ini. Indonesia adalah negara demokrasi tapi entah kenapa sekarang masyarakat malah suka menghujat dengan bahasa-bahasa kasar ketika ia tak setuju dengan sesuatu pendapat. Selain itu ada media sosial yang keberadaannya kadang-kadang merugikan pihak tertentu. Seseorang yang benar malah bisa disudutkan dan beralih posisi. Pihak yang mayoritas dan memiliki banyak pendukung itulah seolah-olah yang benar.

Ya kondisi masyarakat dengan penetrasi internet dan kemudahan bermedsos ini menjadi koin dengan dua sisi. Menguntungkan tapi juga bisa merugikan. Demikian halnya ketika kita menulis sesuatu baik di blog pribadi maupun blog keroyokan seperti Kompasiana dan UCNews.

Sebelum Kamu berani menulis sesuatu, apakah Kamu cukup bernyali?

Aku harus akui aku tak punya banyak nyali. Aku tak tahan dihujat dan dimaki-maki seolah-olah aku penjahat keji. Aku pernah menulis sesuatu yang tak populer. Yang kuingat aku mengomentari film Thor. Menurutku bahasaku lugas ketika mengritik film Thor tersebut yang jalan ceritanya kurang bagus. Memang aku membandingkan dengan film DC Comics saat itu yang diputar hampir bersamaan. Dan kusebutkan untuk saat itu film DC lebih bagus.

Apa yang terjadi? Isi kolom komentarku penuh dengan bahasa binatang. Aku tak tahan membacanya. Astaga topik ringan saja bisa menuai hujatan. Apalagi jika aku menulis sesuatu yang kontroversial.

Dulu sebelum rame medsos tulisanku tentang resensi buku Narnia juga panen hujatan, begitu pula tulisan tentang wartawan bodrek. Mereka seolah-olah hanya membaca beberapa kata dan kemudian menyimpulkan seperti yang mereka bayangkan, bukan yang ada di tulisan. Cerita tentang asal mula dunia memang ada dalam Narnia, tentunya dalam versi mereka.

Bagaimana dengan topik kontroversi? Isu tentang ketidakadilan yang dirasakan minoritas baik dari segi agama, suku, dan ras memang masih terjadi di masyarakat. Kita tidak bisa tutup mata. Kekerasan yang dialami wanita, diskriminasi terhadap wanita juga masih terjadi.

Namun ketika menulis hal-hal kontroversi tersebut jangan lupa menambahkan nyali. Bukan hanya nyali membaca komentar tapi juga serangan terhadap keluarga dan juga kawan-kawan dekat. Bisa saja personamu yang diulik-ulik. Ketika mereka menemukan kelemahanmu di medsos misal tak sengaja berkomentar konyol dan lain-lain, maka mereka akan berpesta, dan menyerangmu dengan hal tersebut. Yang terjadi kebenaran yang kamu sampaikan bisa tertutupi oleh hal tersebut,seolah-olah kamu tak layak berpendapat dan menyampaikan kebenaran.

Demikian pula dengan isu wanita. Yang berkomentar perih bahkan sebagian kaum wanita sendiri. Aku tak tahu-tahu apa yang tertanam di benak mereka sehingga kadang-kadang mereka tak punya empati dan simpati terhadap kasus yang menimpa kaum wanita.

Ya, aku masih kurang bernyali. Demokrasi Indonesia diuji oleh kekuatan massa dari medsos dan tekanan lainnya.

Tapi bukankah kita hidup di alam manusia bukan alam fauna?

Gambar: pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 22, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: