“Off The Record”

Ketika aku sedang sibuk mencatat keterangan narasumber sambil menelaah penjelasannya, si narasumber mengeluarkan jeda. Ia kemudian berkata yang ini “off the record” ya. Aku pun menghentikan alat perekam dan tak lagj menulis. Aku hanya mendengarkannya.

“Off the record” biasa ditemui di pekerjaan jurnalisme. Ini merupakan hak seorang narasumber dan wajib dijaga betul kepercayaannya. Biasanya hal yang disebut “off the record” adalah sesuatu yang sifatnya rahasia, belum waktunya disampaikan ke publik atau tidak perlu diketahui khalayak ramai karena menyangkut keselamatan atau privasi narasumber.

Hal-hal yang diminta oleh narasumber untuk tak diberitakan itulah yang harus dijaga betul. Apabila si jurnalis melanggarnya dan memuatnya di pemberitaan maka ia dianggap telah melanggar etika jurnalisme.

Aku ingat dulu kami diminta untuk menghargai narasumber. Apabila narasumber menolak wawancara maka kami juga harus menghargai keputusannya. Demikian pula jika ia tak ingin ada pernyataan yang dikutip.

Selain merusak kepercayaan narasumber kepada si wartawan, pernyataan yang sifatnya “off the record” bisa mengancam karir atau nyawa narasumber tersebut. Si narasumber juga berhak untuk menggugat.

Sebenarnya masalah “off the record” juga bisa kita jumpai sehari-hari. Ketika seseorang bercerita hal yang pribadi maka bukan hak kita untuk menyebarkannya karena bisa jadi pemilik informasi itu tak nyaman dan ia menganggapnya info itu hanya di antara keduanya saja. Kepercayaan itu mahal, teman.

Gambar:pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 30, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: