Permainan dan Olahraga Tradisional Masuk Muatan Lokal?

Aku masih ingat betapa serunya bermain bentengan. Aku berlari membebaskan temanku kemudian bisa merebut benteng lawan. Wah aku bermain hingga berkeringat, lupa jika sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Saat ini aku tak yakin anak-anak mengenal dan pernah bermain bentengan.

Dulu sebelum era nintendo dan sega menyerang, aku puas bermain. Ada banyak permainan sederhana yang biasa kumainkan. Yang permainannya seperti olahraga karena termasuk olah fisik di antaranya petak umpet atau tekongan, bentengan, kejar-kejaran atau playon, engklek, egrang, gobak sodor, dan main tali atau lompat tinggi.

Sedangkan yang bisa dilakukan dengan santai di antaranya main bekel atau bekelan, main tutup botol atau krempyeng, main halma, cublek-cublek suweng, jamuran, main kelereng atau nekeran, dan sebagainya. Masih banyak lagi permainan tradisional. Banyak juga yang tidak perlu alat, hanya berbekal teman dan keantusiasan.

Agak disayangkan saat ini anak-anak lebih suka bermain gawai dan play station. Mungkin mereka tidak tahu permainan ini atau dianggapnya kurang menarik. Tapi siapa yang tak kenal maka tak sayang. Aku yakin sebagian dari mereka tak pernah mencobanya.

Masuk Kurikulum?

Ide permainan dan olahraga tradisional masuk kurikulum sebenarnya bukan sesuatu hal yang baru. Ide ini sudah mengemuka sejak pertengahan tahun 2000-an. Baru-baru ini kubaca Cimahi mencoba memasukkannya ke kurikulum SD. Ini sesuatu hal yang menarik. Muatan lokal perlu ditambah agar anak-anak tak lupa sejarah dan kultur daerahnya.

Dulu pelajaran bahasa daerah dan IPS saat SD di tempatku lumayan komplet. Kami belajar bahasa daerah dari unggah-ungguh, tulisan Jawa, tembang Jawa, juga bahasa untuk keseharian. Panggilan hewan, anak hewan saja ada lho bahasa Jawanya. Anak kucing disebut cemeng. Anak wedhus disebut cempe, dan masih banyak lagi.

Kami juga diperkenalkan dengan rumah adat, tari-tarian, baju adat dan sebagainya lewat gambar dan juga tugas kliping. Alhasil pengetahuan geografi dan budaya masa itu cukup bagus.

Kekayaan dan daerah Malang juga digali waktu SD hingga SMA. Kami diperkenalkan batas wilayah Malang, sejarahnya, juga aneka potensinya. Waktu SMA kami diajak ke sentral keramik karena dulu Malang dikenal sebagai daerah perajin keramik. Kami sampai ikut praktik belajar membuatnya. Sayangnya kerajinan keramik ini mulai lesu.

Aku sangat setuju jika konten lokal diperbanyak. Permainan dan olahraga tradisional bukan sekedar menghibur, ada banyak nilai di dalamnya, seperti kerja sama antar tim, kepemimpinan, kreativitas, melatih memori, dan sebagainya.

“Selamat Hari Pendidikan, Semoga Kualitas Pendidikan Indonesia Semakin Meningkat”

Gambar dari: Tribun, Gamesiana, dan Blog UMY

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 2, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: