Dari Sabang Sampai Merauke, Bukan Hanya Gambaran Geografis Indonesia

Kamera menyorot alam pegunungan Penanggungan. Selanjutnya kamera berpindah ke sekumpulan pemuda dengan alat musiknya, yang merupakan perpaduan instrumen musik tradisional dan instrumen musik gesek. Vokal yang indah lalu mengalun dari sosok Farhad Hasan yang mengenakan rompi batik. Musik itu semakin indah dengan menonjolkan tari kecak, gamelan, lantunan khas seorang sinden, dan petikan yang dihasilkan oleh sape, alat musik tradisional khas Dayak. Dari video klip  mash up-cover lagu resmi Asian Games 2019 sekitar delapan menitan terlihat warna-warni budaya Indonesia.

Setiap kali aku memutar video klip lagu yang dikomposeri oleh Alffy Rev, aku merasa terharu. Dari video klip yang mendaur ulang dan mengkombinasikan beberapa lagu resmi Asian Games tersebut terlihatlah Indonesia kecil. Indonesia yang berwarna-warni, dari suku, bahasa, baju adat, dan keseniannya. Aku semakin merinding ketika mendengar pidato bung Karno di video klip ini diiringi dengan petikan sape.

“Dari Sabang sampai Merauke, empat perkataan ini bukanlah sekedar ilmu bumi,
dari Sabang sampai Merauke bukanlah sekedar menggambarkan geografis.
Ia adalah merupakan satu kesatuan kebangsaan,
dia adalah merupakan satu kesatuan kenegaraan,
kesatuan tekad, kesatuan ideologi, satu kesatuan nasional yang hidup laksana api unggun,”

(pidato Bung Karno)

Aku sangat setuju dengan isi pidato bapak bangsa ini. Indonesia begitu luas terdiri dari 17.504 pulau dan 1.340 suku bangsa. Dibandingkan dengan negara lainnya, jumlah suku Indonesia lebih banyak. Bahkan seperti yang dikutip oleh Tribun News, Indonesia tercatat sebagai negara dengan suku bangsa terbanyak di dunia. Ini tentunya merupakan kekayaan dan potensi bangsa yang membanggakan.  Lantas apa yang membuat negeri dengan banyak suku ini tetap satu? Bukan hanya kesamaan nasib sebagai daerah yang pernah dijajah, melainkan tekad untuk menjadi satu bangsa dan satu negara, serta satu ideologi, yaitu ideologi Pancasila.

Pidato Bung Karno membakar semangat (sumber: XDetik)

Ideologi Pancasila merupakan perekat dari keberagaman bangsa Indonesia. Di dalamnya memuat nilai-nilai moral yang baik, toleransi, persatuan-kesatuan, tolong-menolong, saling menghargai antarsuku dan antaragama, dan sebagainya. Sayangnya ideologi ini kini mulai terancam dengan oknum-oknum yang berupaya menggoyang Pancasila dan memunculkan ideologi baru yang tak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia

Ketahanan ideologi merupakan salah satu dari aspek ketahanan nasional bangsa Indonesia. Keempat aspek lainnya adalah ketahanan politik, ketahanan ekonomi, ketahanan sosial budaya, serta ketahanan pertahanan dan keamanan. Jika salah satu aspek rapuh maka Indonesia akan menjadi lemah.

Masalah ideologi, serta pentingnya persatuan-kesatuan bangsa ini digarisbawahi oleh Kolonel Beben Nurpadillah,  Kepala Bidang Media Massa Deputi 7 KemenkoPulhukam dalam acara Workshop Produksi dan Diseminasi Konten Kreatif Hankam. Workhop Kominfo ini diadakan di Ruang Apung Perpustakaan UI pada Selasa, 21 Mei 2019. Beliau berharap dengan adanya even ini peserta bisa memahami tentang pentingnya ketahanan nasional, termasuk salah satunya yaitu ketahanan ideologi.

Kolonel Beben Nurpadillah menekankan pentingnya ketahanan nasional

Netizen Juga Bisa Ikut Berkiprah dalam Menjaga Ideologi Pancasila dan Persatuan Kesatuan Bangsa
Tentunya semua berharap Indonesia tetap satu. Menurut pembicara berikutnya, Wicaksono alias Ndoro Kakung, Yan Kurniawan dari Drone Emprit, dan Dikdik Sadaka, Kepala Sub Direktorat Pertananan Keamanan Dir. Infokom Polhukam IKP Kominfo, masyarakat seharusnya ikut berperan aktif dalam menjaga ideologi Pancasila dan persatuan-kesatuan bangsa.

Menjaga ideologi Pancasila bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti bertoleransi terhadap perbedaan agama, suku bangsa, ras, dan antargolongan. Nah, bagi netizen, para pembicara berulang kali menekankan akan pentingnya untuk membuat konten kreatif Hankam dan menyebarkan konten yang bersifat produktif dan kreatif tentang pentingnya ketahanan nasional bagi bangsa Indonesia. Konten tentang video klip Alffy Rev tentang dukungan kepada atlet Asian Games dari seluruh masyarakat Indonesia, bisa menjadi salah satu contohnya.

Ndoro Kakung memberikan contoh tentang menulis di bidang Polhukam

Mereka mengingatkan agar netizen lebih banyak membuat dan menyebarkan konten-konten yang informatif dan bermanfaat misalnya tentang TNI yang menjaga di wilayah perbatasan, masyarakat Indonesia yang memberikan sumbangan ke lokasi yang terpapar bencana alam tanpa membedakan suku bangsa dan agama. Hal-hal yang bermanfaat itu akan bisa menangkal konten radikal dan konten negatif yang cukup banyak beredar di media massa.

Kalian juga bisa melakukannya, misalnya dengan membuat status di Twitter atau Facebook yang membahas aneka masakan dan budaya dari suku bangsa lain, misalnya suku Dayak. Bagi para blogger, juga bisa memperbanyak tulisan yang membahas indahnya keragaman budaya, menulis tentang cagar budaya di sebuah daerah, dan kisah-kisah rakyat dari daerah lain yang kaya pesan moral.

“Love is our
Peace is our weapon
Love is our
Peace is our weapon”

(Slank)

Yan Kurniawan dari Drone Emprit memberikan gambaran tentang hasil analisa konten negatif di media sosial

Gambar dari: Youtube/AIESEC UnHas, XDetik, dan dokumen pribadi

 

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 21, 2019.

2 Tanggapan to “Dari Sabang Sampai Merauke, Bukan Hanya Gambaran Geografis Indonesia”

  1. 17.504 kak, bukan 17.054 🙂

    Jaman dulu mah berikan aku 10 pemuda, jaman sekarang mungkin berikan aku 10 netizen gitu ya kak, wkkwkw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: