Kisah-kisah Saat Mudik

Dulu waktu masih tinggal di Malang, aku sering merasa iri dengan mereka yang melakukan mudik. Sepertinya momen tersebut seru dan asyik. Kini setelah tinggal merantau, hampir tiap tahun aku melakukan mudik, ke Malang dan ke Subang berselang-seling.

Mudik kualami kali pertama ketika aku mulai kuliah. Aku kuliah di Surabaya ujung timur. Untuk menuju Malang aku bisa memilih tiga mode transportasi, kereta, bus, atau travel. Yang paling murah adalah dengan naik kereta dan yang paling mahal tentunya dengan travel.

Jika naik kereta maka aku bisa naik angkutan umum lalu menuju Stasiun Gubeng atau Wonokromo. Tapi terlambat sedikit bisa gawat. Aku pernah terlambat dan harus menunggu cukup lama hingga kereta berikutnya tiba. Itupun tak selalu dapat tempat duduk.

Pemandangan naik kereta jauh lebih indah daripada naik bus. Ada banyak sawah dan pegunungan yang kulihat. Tapi waktu tempuhnya juga lebih lama, sekitar 2, 5 jam hingga 3 jam.

Sedangkan untuk naik bus aku harus naik angkot dua kali hingga ke Stasiun Purabaya, Bungurasih. Naik busnya murah tapi yang bikin seram dulu adalah calo busnya. Aku suka was-was ditarik-tarik atau dipaksa masuk ke sebuah bus. Ketika sudah tahu triknya, maka akupun naik bus di ujung, tidak di dalam terminal.

Waktu itu aku lancar-lancar saja mudik ke Malang. Yang dulu bikin ngeper adalah ketika aku sudah bekerja sebagai kuli tinta. Kami hanya dapat jatah libur H-1 dan hari H. Lebaran hari kedua kami sudah kembali bertugas.

Aku menumpang motor kawanku. Rupanya jalan begitu macet. Kami lewat Sidoarjo baru ke Malang, beda rute dengan biasanya apabila aku naik bus atau naik kereta.

Perjalanan terasa jauh dan aku mengantuk. Kami baru selesai deadline pukul 21.00 dan hingga pukul 23.00 kami masih di jalan. Mungkin karena mengantuk dan pantatku panas, aku salah meletakkan kaki ke knalpot. Eh sol sepatuku leleh. Ketika aku turun dari kendaraan aku terhuyung-huyung mau jatuh.

Rupanya sepatu sebelah kananku leleh. Padahal itu sepatu favoritku. Sepatu wedges hitam dan semiboot yang bakal susah kujumpai lagi. Ada semacam geriginya. Unik dan agak sangar. Aku sedih sepatuku itu rusak dan tak bisa diperbaiki. Aku tak pernah bertemu jenis sepatu itu lagi.

Ada banyak cerita mudik lainnya yang seru. Seperti ketika kami mudik 26 jam dari Jakarta ke Malang naik mobil kakak. Ketika kami melewati sebuah daerah sekitar Nganjuk ada yang sudah melakukan sholat Id. Kami bingung padahal lebaran pemerintah diperkirakan baru lusa. Mereka mendahului H-2.

Cerita mudik dengan kendaraan pribadi jauh lebih seru dibandingkan ketika naik kereta dan pesawat terbang. Bagaimana dengan Kalian, apakah punya cerita menarik saat mudik?

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 23, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: