Hidup di Megapolitan: Gengsi vs Kenyamanan vs Hemat

Beberapa hari lalu di timeline twitter ramai bahas tentang pengeluaran di Jakarta. Hal ini dipicu oleh salah seorang selebtwit yang memberikan gambaran pengeluarannya yang fantastis. Ya, bisa ditebak, hal ini membuat para ‘netizen’ pun berontak untuk menghakimi. Padahal menurutku pengeluaran selebtwit tersebut masih wajar untuk ukuran tinggal di Jakarta Pusat. Sebenarnya berapa sih idealnya hidup di megapolitan seperti di Jakarta.

Ketika membaca utas cuitan selebtwit tersebut memang ia tidak salah. Gajinya memang besar di atas Rp 10 juta. Selain itu ia juga mendapatkan bonus, uang cuti, dan THR yang besar. Jadinya ia memilih di luar gajinya yang ia investasikan. Gaji bulanan tak masalah hanya sisa sedikit. Oleh karena ia memilih faktor kenyamanan untuk hidup di Jakarta.

Menurutku pengeluaran itu mengikuti besaran gaji. Kalau ditanya bisakah hidup di Jakarta dengan gaji satu jutaan? Jawabannya, bisa. Tetapi ini dengan catatan Kalian tinggal bersama orang tua atau kos ramai-ramai yang besarannya kurang dari Rp 300 ribu. Untuk transportasinya bisa dengan naik KRL atau TransJakarta yang berkisar Rp 6-7ribu/pulang pergi dan untuk makannya bawa bekal sendiri. Selebihnya bisa digunakan untuk membeli pulsa.

Awal-awal aku bekerja kantoran, aku ingat gajiku minim. Pengeluaran besarku di kosan yang saat itu Rp 500 ribuan di kawasan Cempaka Putih. Enaknya, tak ada biaya transportasi. Aku tinggal jalan kaki ke kantor. Biasanya aku bawa bekal atau jika lagi malas maka aku beli makanan pinggir jalan, seperti nasi goreng yang saat itu Rp 4 ribu per porsinya.  Meski demikian, ternyata aku masih bisa menabung Rp 500 ribu per bulan dan mengirim ke orang tua. Aku juga masih bisa nonton bioskop dan jajan di kawasan Kelapa Gading.

Oleh karena terbiasa hidup hemat maka aku agak susah untuk diajak menghambur-hamburkan uang hehehe. Makan yang agak mahal saja biasanya pulangnya merasa bersalah. Ketika membeli baju diskonan dan kemudian tak dipakai, rasanya jadi tak enak.

Nah dengan gaya hidupku yang tak banyak berubah maka ketika gaji kemudian merangkak naik maka lebihnya jadi lumayan banyak. Aku jadi bisa menabung lebih banyak dan melakukan hal yang kuinginkan, seperti melanjutkan kuliah, jalan-jalan, dan sebagainya.

Ada beberapa hal yang berubah memang untuk saat ini. Aku mempertimbangkan kenyamanan, sehingga otomatis ada pos pengeluaran yang bertambah. Jika dulu aku tak masalah naik angkot ngetem lama atau super berdesak-desakan di KRL, kini aku lebih sering numpang pasangan atau naik ojek daring. Biasanya aku cek lalu lintas dulu jika pergi ke kawasan ramai. Kemudian aku numpang kendaraan pasangan dan lanjut dengan naik angkutan umum atau naik ojek daring. Jika ke kantor saja saat ini lebih sering naik ojek daring daripada naik angkutan publik. Faktor pertamanya adalah kenyamanan dan kedua adalah pemangkasan waktu.

Ketika aku naik mikrolet gangguannya lumayan, proses ngetem, kemudian pengamen yang memaksa, lalu juga supir yang merokok. Yang ketiga ini paling menjengkelkan. Aku beberapa kali diturunkan gara-gara meminta pak sopir untuk tak merokok. Biasanya aku naik mikrolet dua kali dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Dengan adanya ojek daring ini aku bisa memangkas waktu separuhnya. Jika biasanya bisa 1,5 jam naik angkot, kini bisa 45 menitan. Waktu 45 menit itu berharga. Dikali dua sudah 1,5 jam sendiri. Aku bisa menulis artikel, bermain bersama kucing, atau memasak.

Kenapa tidak bawa kendaraan sendiri? Nah, ini dia PR-ku. Sepertinya jika melihat ongkos ojol yang makin naik, mau tak mau aku harus memberanikan diri untuk naik kendaraan pribadi. Atau jika pelayanan angkutan umum sudah makin baik, maka aku akan kembali naik mikrolet seperti dulu. Omong-omong aku pernah jalan kaki ke kantor, perjalanannya sekitar 1,5 jam. Hasilnya? Capek bukan main. Soalnya trotoar dipakai untuk parkir motor, terus siap-siap deh sering diklakson motor atau mobil, padahal aku sudah jalan mepet banget.

Godaan di Jakarta

Pengeluaran umumnya berbanding lurus dengan pendapatan. Jadinya mereka yang hemat apabila tetap konsisten dengan gaya hidupnya saat ini maka tabungannya akan cepat membengkak. Seandainya gaji seseorang Rp 10 juta dan ia sudah cukup dengan Rp 5 juta untuk biaya hidup dengan suami dan anaknya, maka ia bisa mencicil rumah dan berinvestasi. Misalkan ia berinvestasi Rp 1 juta/bulan maka ia bisa mendapatkan Rp 12,5  – 15 juta per tahunnya bergantung pada jenis investasinya.

Tapi hidup di Jakarta, apalagi hidup dan bekerja di Jakarta Pusat rasanya sulit menghindar dari hedonisme. Pusat perbelanjaan ada dimana-mana, belum lagi hiburan seperti spa, karaoke, tempat nonton, dan kafe yang lucu-lucu. Satu juta bisa lho habis dalam sehari jika tidak kuat menahan godaan.  Harga baju saja sudah ratusan ribu, makan di mal juga sudah jamak menghabiskan sekitar seratus ribu, bahkan seringnya lebih. Potong rambut atau sekedar facial di mal juga sudah ratusan ribu, belum nonton dan beli pop corn.

Jadinya aku tak kaget apabila seorang eksekutif muda kebingungan gajinya puluhan juta seperti menguap begitu saja.

 

Pasanganku ketika magang di sebuah perusahaan investasi ternama bercerita, karyawan di sana sudah terbiasa sarapan roti dan kopi di kafe beken, makannya juga di mal, sore harinya mereka juga jajan kopi lagi. Biaya untuk makan sehari jika ditotal bisa mencapai Rp 250-300 ribu/hari. Kalau sebulan jadinya hampir Rp 10 juta. Untuk itu mending beli kopi gilingan dan bikin sendiri, sekali-kali saja beli kopi di kafe hehehe.

Mereka juga rata-rata tinggal di kost ekslusif atau apartemen yang elit. Biayanya bisa Rp 2-3 juta per bulan. Belum lagi biaya transportasi. Oleh karena lelah bekerja maka mereka lebih suka pesan taksi untuk menuju apartemen. Meskipun dekat biaya taksi juga mahal, bisa Rp 30-50 ribuan. Jadinya untuk hal primer maka pengeluaran bisa mencapai Rp 15 juta, belum pengeluaran lain-lain, seperti ikut keanggotaan gym yang juga tak murah. Oleh karenanya tak heran jika banyak eksekutif muda bergaji besar tak punya tabungan, sementara mengubah gaya hidup itu tak mudah, apalagi jika lingkungan pergaulannya juga sama. Ada rasa gengsi ketika teman makan di kafe, kita juga tak ikutan makan di sana. Kawan-kawan beli baju dan sepatu merk beken di mal papan atas, kitanya jadi segan beli baju dan sepatu di ITC.

Lantas kira-kira berapa untuk biaya hidup yang nyaman tapi juga tak boros di Jakarta? Bagi yang lajang menurutku Rp 3- 4 juta sudah cukup, dan Rp 5-6 juta untuk yang sudah berkeluarga.

Jika Kalian merasa selama ini lebih besar pasak daripada tiang, maka evaluasi pengeluaran. Atau, sudah waktunya Kalian minta kenaikan gaji ke atasan, pindah kerja, atau mencari pekerjaan sampingan. Jangan lupa untuk selalu bersyukur atas gaji yang didapat dan banggalah dengan pekerjaan Kalian.

Gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Juni 13, 2019.

4 Tanggapan to “Hidup di Megapolitan: Gengsi vs Kenyamanan vs Hemat”

  1. kenaikan biaya/gaya hidup kadang berbanding lurus dengan kenaikan pendapatan

  2. Saat ini biaya hidup sudah naik, untuk ukuran mahasiswa yang tinggal dipinggiran jakarta saja, uang kiriman 1,5j-2jt per bulan rasanya tak cukup lagi dengan beban harga kos yang juga ikutan naik. harus pikir-pikir nyari sambilan atau bisnis biar memadai. Tambahannya, biar cukup ya harus masak sendiri, tapi ternyata itu cukup sulit, uang segitu jangan harap bisa hangout di tempat fancy. Saya merasakan hal yang sama, disisi lain, memang kenyamanan dan waktu tempuh perlu dipikir juga walau harus mengeluarkan biaya lebih. Saat ini 3 juta dihabiskan itu sejujurnya ngepas sekali,untuk makan, kosan, transportasi… mau nabung jg agak sulit. hidup di jakarta memang harus pintar-pintar sedikit untuk manajemen keuangannya, kalau mampu, bisnis bisa jadi solusi. Tak lupa sedekahnya juga diperbaiki, biar bisa nambah rejeki. Artikel yg menarik mba, saya sangat setuju dengan opininya.

    • Sependapat Nadia, hidup di Jakarta juga perlu mempertimbangkan masalah kenyamanan dan waktu. Karena waktu rasanya cepat habis di jalanan Jakarta.
      Saat ini aku sudah punya rumah sendiri jadi lumayan memangkas biaya. Dulu ngontrak rumah 1,5 juta itu udah yang rasanya paling murah di sekitaran Jakpus (tahun 2011). Aku juga pernah sewa rumah petak dengan fasilitas minim Rp 1 juta. Tinggal pilih saja hemat atau nyaman.

      Oh iya selamat menikmati masa kuliah. Biasanya berat tapi sangat berkesan.

      Salam Nadia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: