Filsafat dan Paradoks Media Sosial

Filsafat. Ilmu ini tergolong asing bagiku yang sehari-hari lebih banyak berkutat dengan konsultasi TI dan dunia tulis-menulis. Awalnya aku berpikiran ilmu ini rumit, hanya cocok untuk pemikir. Namun seiring waktu, aku meyakini manfaat untuk mempelajari ilmu ini. Hal-hal yang diuraikan dalam mata kuliah filsafat bisa diterapkan di berbagai bidang kehidupan, termasuk ke dalam penelitian di bidang teknologi informasi. Oh iya kali ini tulisannya agak serius dan panjang.

Filsafat disebut sebagai mater scientiarum atau induk segala jenis ilmu pengetahuan (Rapar, 1996). Dari satu bidang ilmu inilah kemudian lahir beragam ilmu yang saat ini ada dunia dan dikenal oleh masyarakat luas. Bidang-bidang ilmu baru tersebut terus berkembang menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan dan kebutuhan masyarakat, demikian pula dengan induknya, ilmu filsafat.

Saat aku duduk di bangku SMP dan mulai mempelajari tentang kebudayaan Yunani Romawi, aku terkagum-kagum bagaimana masyarakat jaman dulu memiliki wadah untuk berdiskusi dan mengemukakan pikiran. Aku membayangkan ada sebuah ruangan yang nyaman dimana seorang filsuf dengan penuh semangat bercerita tentang gagasannya. Kemudian, para filsuf lainnya menanggapinya.

Aku tidak tahu bagaimana situasi diskusi tersebut, apakah berlangsung alot dengan banyak perdebatan, ataukah tanggapan dan kritik tersebut disampaikan dengan bahasa yang sopan dan pikiran yang terbuka. Yang hanya dapat kita ketahui, kegiatan tersebut menghasilkan banyak pemikiran yang berpengaruh hingga era saat ini.

Diawali dengan hal yang mendasar seperti siapakah diri kita dan darimana asal-usulnya. Kemudian, bergulir ke pertanyaan siapakah sang pencipta, bagaimana wujud bumi, siapa yang sebenarnya bergerak, bumi atau mataharikah dan seterusnya.

Di Indonesia ilmu filsafat juga terus berkembang. Sekilas ilmu ini kurang populer namun opini, pemikiran, dan paradigma yang berkembang di masyarakat saat ini juga merupakan buah hasil dari perkembangan ilmu filsafat. Ilmu filsafat bisa digunakan untuk menyikapi hal-hal yang sedang tren, menjadi isu dan bahan perdebatan di masyarakat. Salah satu hal yang masih populer dan besar pengaruhnya di masyarakat yaitu perkembangan media sosial.

Pemilihan topik berkaitan dengan media sosial ini karena kegelisahan aku terkait dengan realita media sosial dan tingkah laku netizen saat ini. Setelah pers sempat terpasung pada era orde baru, keran kebebasan mengemukakan pendapat pun kemudian terbuka lebar. Kebebasan berbicara ini semakin kebablasan dengan ditunjang oleh media sosial.

Netizen, termasuk sebagian pengguna media sosial di Indonesia seolah-olah kaget dan senang dengan mainan baru. Mereka pun kemudian menjadikan media sosial sebagai bagian dari gaya hidupnya. Apa yang mereka pikiran diungkapkan lewat akun media sosial tanpa disaring terlebih dulu.

Lantas, apakah media sosial saat ini masih layak disebut sebagai media penghubung dan media berbagi (connecting and sharing)? Atau lebih pas disebut juga media penyebar hoax dan ujaran kebencian yang sifatnya memecah-belah?

a. Tentang Internet dan Media Sosial

Aku masih ingat mulai menggunakan internet sekitar tahun 1997-1998. Satu dekade kemudian penggunaan internet meluas, apalagi lima tahun terakhir dengan ponsel pintar yang semakin murah dan mudah didapat. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, hingga tahun 2017 pengguna internet di Indonesia mencapai 143 juta.

Internet berawal dari sebuah proyek internet Amerika pada tahun 1968 kemudian penggunaannya meluas dengan adanya world wide web pada tahun 1989. Internet semakin populer dengan era web 2.0 atau yang disebut era partisipasi.

Dengan platform web 2.0 inilah teknologi media sosial berkembang cepat. Diawali dengan LiveJournal dan Blogger pada tahun 1999, selanjutnya Wikipedia, MySpace, Friendster, dan Facebook. Setelah itu beragam media sosial bermunculan, seperti Google Plus, Instagram, WhatsApp, Kaskus, YouTube, Vimeo, Line, Twitter, dan sebagainya. Hingga saat ini media sosial yang populer per Agustus 2018 di dunia yaitu Facebook dengan 2,23 Miliar pengguna, disusul dengan YouTube, Instagram, Qzone, dan Twitter.

b. Teori Kritis Kebebasan dan Media Sosial

Adanya era web 2.0 dan kehadiran media sosial ini seolah-olah menjadi kebangkitan kebebasan berbicara. Di Indonesia, warga negara sebenarnya bebas berpendapat dan telah diatur dalam UUD pasal 28 yang berbunyi “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang”, namun faktanya pada Orde Baru kebebasan tersebut terkekang. Kebebasan berpendapat tersebut bukan hanya dialami masyarakat awam, namun juga oleh media massa.

Setelah era reformasi, maka kemudian Undang-undang pers pun diperbarui, dengan adanya UU No 40 tahun 1990 tentang Pers. Di dalam UU tersebut media bebas menyampaikan informasi dan pembetnuk opini sesuai dengan asas, fungsi, hak, dan kewajiban.

Usai ditetapkannya UU Pers tersebut, media-media tumbuh bak bak rumput liar. Yang dulunya pers terkekang dan seolah-olah berita dan informasi bersifat eksklusif, hanya dimiliki dan boleh disampaikan oleh kalangan tertentu dengan dikendalikan oleh pemerintah, sejak era reformasi menjadi terbuka lebar.

Aku sendiri dibesarkan pada era tahun 90-an. Saat itu aku mengalami hal-hal yang seperti dirasakan oleh filsuf teori kritis, yakni sebuah aliran filsafat yang berkaca pada kondisi sosial budaya yang ingin didobrak. Seperti yang disampaikan oleh Max Horkheimer teori ini berupaya untuk membebaskan manusia dari keadaan yang nampaknya memperbudak mereka.

Perjuangan untuk mendapatkan kebebasan pers dan kebebasan berpendapat itu telah berhasil. Kebebasan ini didukung dengan lahirnya era web 2.0 dan kehadiran media sosial. Lalu lahirlah yang disebut jurnalime warga (citizen journalisme).

Blog dan media sosial lainnya seperti YouTube, Twitter, dan Facebook menjadi semacam media alternatif. Para netizen pun mengungkapkan opininya lewat blog dan media sosial tersebut, terkadang hanya berupa komentar singkat atau berupa status untuk menanggapi isu terkini.

Semangat para netizen untuk menyuarakan gagasannya ini awalnya disambut hangat. Namun saat ini ada sisi negatifnya, yakni ketika mereka menyampaikan uneg-unegnya dengan sebebas-bebasnya.

c. Ontologi dan Aksiologi Media Sosial

Sebenarnya apa itu media sosial dan kontribusi apa yang ingin diwujudkan oleh pembuatnya? Ada beragam teori tentang media sosial, demikian juga dengan manfaat dan etika ketika menggunakan media sosial. Kedua hal ini bisa dipandang dari sisi ontologi dan aksiologi dari segi ilmu filsafat.

Ontologi atau metafisika disebut sebagai teori mengenai realitas, tentang obyek di luar diri manusia, bisa berupa teori, model, dan sebagainya. Sedangkan aksiologi di sini erat kaitannya dengan pengaruh bagi manusia, sisi etika dan sebagainya.

Media sosial didefinisikan sebagai media yang digunakan konsumen untuk berbagi teks, gambar, suara, video kepada orang lain dan sebagainya (Kotler dan Kevin, 2016). Sedangkan Taprial dan Priya, 2012 mendefinisikan media sosial sebagai media agar individu menjadi sosial secara daring dengan berbagi isi kepada orang lain. Berdasarkan definisi tersebut maka media sosial memiliki karakteristik yaitu berbagi, daring, dan adanya interaksi. Model interaksi inilah yang membedakan antara media konvensional dan media sosial.

Saat ini model interaksi ini kemudian diadopsi oleh situs berita. Ada berbagai teori tentang media sosial, seperti apakah sebenarnya database penyimpanan datanya, apakah media sosial membentuk teori komunikasi baru, bagaimana model media sosial di Indonesia dan sebagainya.

Dari sisi aksiologi, media sosial saat ini jelas sangat berpengaruh, terutama erat kaitannya dengan gaya hidup milenial. Segalanya, baik yang bersifat informatif dan tidak penting diungkapkan ke dalam media sosial. Awalnya media sosial bermanfaat untuk berbagi dan menghubungkan satu sama lain, namun di luar itu ada sisi gelapnya, apalagi jika dikaitkan dengan sisi etis.

Media sosial sebenarnya memiliki manfaat bagi masyarakat di era digital. Dengan adanya media sosial mereka bisa mendapatkan informasi terkini, melakukan interaksi sosial, bertukar informasi, mendapatkan hiburan, membangun komunitas dan citra sebuah perusahaan, membantu mengenalkan dan memasarkan produk dan sebagainya.

Di luar itu yang sering lupa disadari oleh netizen, media sosial memiliki landasan etika berkomunikasi, sama halnya dengan di dunia nyata. Ada teori hak dan kewajiban, dimana netizen juga perlu menjaga tindak tanduknya agar dalan berkomunikasi di media sosial tetap menghormati dan menghargai hak-hak orang lain.

Ada juga teori keutamaan, artinya, saat berinteraksi di media sosial tetap perlu mencerminkan sikap yang baik. Teori berikutnya yaitu utilitarisme, yakni adanya netiket, sama halnya dengan berinteraksi di dunia nyata.

d. Paradoks Media Sosial

Saat ini media sosial mulai mendapatkan terpaan. Ujian itu berupa tabiat penggunanya yang tidak mengindahkan etika sehingga informasi di media sosial dipenuhi dengan hoax dan ungkapan kebencian. Mereka seolah-olah menganggap media sosial sebagai ‘tempat sampah’ sehingga bisa meluapkan kemarahan dan caci maki dengan mudahnya.

Mereka lupa bahwa media sosial juga merekam jejak digital sehingga yang terjadi seseorang atau organisasi yang merasa dicemarkan nama baiknya bisa mengajukan tuntutan. Hal tersebut diakomodasi oleh UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Saat ini ada banyak kasus ITE yang menjerat netizen.

Adanya kasus-kasus tersebut menjadi sebuah gunung es tentang kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia tentang etika bermedia sosial. Mereka seolah-olah lupa bahwa etika di dunia nyata juga berlaku di media sosial. Mereka lupa bahwa mereka berinteraksi dengan manusia, bukan mesin. Mereka kebablasan menerjemahkan kebebasan.

Seperti yang disampaikan oleh Agus Riwanto, pengamat politik Universitas Sebelas Maret, yang dikutip oleh Republika (2018), sesuai dengan UUD pasal 28 C, maka berpendapat, termasuk di media online, harus sesuai dengan regulasi dan juga berpegang teguh pada kaidah moral. Jangan sampai kebebasan berpendapat itu menjadi keblabasan dan memicu konflik di masyarakat.

Fenomena ini memunculkan sinisme di masyarakat dan pemikiran pascamodern (postmodernisme), benarkah media sosial itu benar-benar menguntungkan bagi netizen, atau malah merusak moral dan berpotensi memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa. Slogan connecting dan sharing seolah-olah hanya pepesan kosong, karena media sosial ini malah membuat seolah-olah penggunanya menjadi beberapa kubu dan informasi yang dibagikan itu hoax dan hanya merupakan ungkapan kebencian.

Apabila kondisi tidak sehat ini dibiarkan maka media sosial hanyalah ‘tempat sampah’ untuk membagi ‘berita sampah’ dan menghubungkan mereka yang hobi berkata-kata kasar dan bertingkah laku ‘sampah’. Berpendapat secara kasar dan kebiasaan menyebarkan berita hoax di media sosial bisa jadi akan terbawa ke dunia nyata, sehingga akan melahirkan generasi ‘mulut sampah’ dan ‘penyebar berita kebohongan’. Ini akan menjadi sebuah ironi dan ‘menodai’ kebebasan berpendapat yang dulu sangat diperjuangkan hingga menelan korban jiwa.

Tak heran apabila kemudian ada akun-akun yang memilih untuk dinonaktifkan oleh pemiliknya karena merasa gerah diserang secara membabi buta dengan bahasa yang tak mengindahkan kesopanan. Ada juga yang memilih menonaktifkan semua akun media sosialnya dan beranggapan dunia nyata lebih murni dibandingkan media sosial yang warganya semakin ‘ganas’. Namun apakah layak sebuah media sosial dimusnahkan karena tabiat penggunanya? Meniru salah satu gaya promosi sebuah film, apakah dunia bakal lebih baik tanpa media sosial?

Kurang sadarnya netizen akan pentingnya etika ini tentunya merupakan sisi gelap dari media sosial. Etika bermedia sosial perlu disosialisasikan dengan gencar, terutama kepada kalangan muda yang aktif menggunakannya. Masih banyak keuntungan yang bisa diraih lewat bermedia sosial. Netizen lainnya yang merasa terganggu bisa melapor apabila mendapat gangguan dan pencemaran nama baik agar akun media sosial pengganggu tersebut dinonaktifkan. Dunia dalam media sosial perlu bersih-bersih. Kebebasan berpendapat secara keblablasan akan ‘menodai’ perjuangan meraih kebebasan berpendapat. Pemikiran pascamodern perlu disampaikan untuk menyampaikan fenomena media sosial yang dirasakan mendegradasi humanisme, sehingga ada ungkapan,

“Apakah dunia bakal lebih nyaman dan damai tanpa adanya media sosial?”

Gambar: pexels dan pixabay

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 18, 2019.

5 Tanggapan to “Filsafat dan Paradoks Media Sosial”

  1. seperti yang kakak kutip di awal, filsafat ini sangat erat kesannya dengan kekakuan dan berat. aku sendiri sedang senang-senangnya belajar filsafat, lagi hobby baca pemikiran pemikiran filsuf lama hingga jaman pembaruan.
    selain pengontrolan media sosial, penggiatan kegiatan diskusi langsung dengan stimulus positif juga penting kak, bukannya membandingkan tapi lingkungan yang menjunjung budaya diskusi tatap muka nyatanya bisa mengembalikan keberanian mengemukakan pendapat secara langsung. (berasal dari pengalaman) aku sendiri beruntung karena berada di lingkungan yang masih mengupayakan hal tersebut. 🙂

    postingan kakak sangat menyenangkan untuk dibaca..
    semangat terus kak..

  2. Wah terima kasih komentarnya Bunda. Netizen Indonesia sebagian kayak masih euforia, seperti anak-anak yang dapat mainan baru.

  3. Ralat, bukan ngengangin, bergizi hehe

  4. Ngenyangin mbak, kontennya, bagus bgt. Trnyata ada sisi “berat” ny ini medsos, ya. Haha…

    Seperti halny kebebasan2 lainny, ya medsos jg punya paradoksny sendiri.

    Kebebasan itu sbnerny gak bebas, krena gmnapun kan hak satu manusia dibatasi oleh hak manusia lainny. Tp mnurutku ini bagus, krena ini masa transisi, sperti halny anak baru puber, masy indonesia lg dilanda kebingungan ngadepin kebebasan.

    Nnt juga (entah kapan) anak yg baru puber ini jg bakal tumbuh jd dewasa. Bru deh wktu itu medsos bakal jd “ruang duduk” para filsuf di zaman kejayaanny dlu.

    Ini jg trmasuk tugas ortu, bwt didik anakny, klo indonesia mau beranjak dewasa 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: