Blogger dan Influencer

Beberapa waktu linimasa media sosial diramaikan dengan kabar kurang menyenangkan di kalangan influencer. Ada seorang influencer yang meminta makanan gratisan dengan imbal balik mempromosikan makanan tersebut ke para pengikutnya. Pro kontra pun mengiringinya. Sebenarnya siapakah influencer dan apakah blogger bisa disebut influencer?

Dulu jika mendengar istilah ‘influencer’ aku merasa takjub. Kupikir ia adalah orang-orang tertentu yang memiliki gagasan inovatif. Dalam benakku ‘influencer’ itu adalah orang-orang yang memiliki gagasan dan penemuan inovatif yang bisa mengubah dunia, atau pendapatnya diikuti banyak orang. ‘Influencer’ alaku adalah Stephen Spielberg, Disney, Mira Lesmana, Bill Gates, dan sebagainya.

Tapi ternyata aku salah. Istilah “influencer” pada era digital ini lebih merujuk ke mereka yang memiliki banyak pengikut di media sosial. Mereka bisa saja selebgram, selebtwit, youtuber, dan juga blogger.

Berdasarkan kamus Merriam-Webster “influencer” adalah “one who exerts influence : a person who inspires or guides the actions of others”. Ia juga bisa dimaknakan “a person who is able to generate interest in something (such as a consumer product) by posting about it on social media”.

Dari sini maka istilah pertama seperti yang kubayangkan, ia adalah sosok yang menginspirasi dan memengaruhi tindakan seseorang. Sedangkan yang kedua yaitu berkaitan dengan pemasaran. Ia adalah perpanjangan tangan dari bagian pemasaran sehingga memengaruhi pengikutnya untuk tertarik ke produk/jasa yang ia promosikan via akun media sosialnya.

Blogger berdasarkan definisi tersebut maka juga termasuk influencer. Oleh karena kalangan ini juga lumayan sering mendapatkan tawaran untuk mempromosikan barang dan jasa dengan cara yang halus, lewat tulisan dan cerita.

Aku sendiri juga pernah mengalaminya, meskipun belum sering. Aku senang apabila mendapat tawaran itu. Selain karena merasa dipercaya dan mendapatkan ‘bonus’ berupa uang atau barang, aku juga bisa belajar menulis artikel atau cerita yang mengandung unsur komersial.

Namun, aku merasa belum layak menjadi seorang ‘influencer’ dan seingatku tak pernah menuliskannya di profilku. Pasalnya pengikut blog ini tak banyak, demikian pula dengan pengikut akun media sosialku. Aku masih condong untuk menulis suka-suka, meskipun juga ada dua blog yang fokus di kuliner dan perbukuan. Selain itu aku juga agak ‘malas’ menambah pengikut. Biarlah terjadi secara alamiah.

Namun aku tak alergi dengan influencer media sosial. Menurutku mereka hebat bisa membuat orang-orang menyukainya dan kemudian menjadikannya salah satu idola atau panutan. Apalagi jika ada influencer yang mampu membuat pengikutnya membeli produk atau jasa yang dipromosikannya. Mereka luar biasa. Tidak semuanya mampu melakukan hal tersebut. Pemasaran itu sesuatu yang susah.

Tak heran jika mereka dibayar mahal. Aku pernah mendapatkan beberapa kali pesan nyasar via email yang mencantumkan nego biaya untuk satu kali IG story, video youtube, satu kali cuitan, atau foto bercerita di instagram. Duh aku sudah telanjur geer sebelum tahu itu pesan salah alamat dan berulang. Satu kali posting bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta. Wow! Mending aku jadi “influencer” daripada konsultan TI hahaha.

Menjadi “influencer” itu kalau dari sudut pandangku sendiri susah dan mungkin aku belum sanggup. Memasang foto wajah dan OOTD di media sosial saja sangat jarang dan enggan. Biasanya jika ada pekerjaan endorse yang harus memasang foto diri juga kebanyakan kuhapus pada jangka waktu sesuai yang dipersyaratkan. Selain itu gerak-gerik influencer bisa jadi bahan gosip sehingga seolah-olah dituntut sempurna. Wah rasanya aku dobel belum sanggup. Ya rasanya lebih baik tetap jadi blogger menyambi konsultan TI seperti saat ini bisa tetap jadi diri sendiri tanpa sorotan:p

Oh iya kembali ke masalah “influencer” mengajukan diri ke calon klien. Menurutku hak tersebut wajar dan sah-sah saja, jika hal tersebut dipandang sebagai tawaran bisnis. Ini seperti bagian pencari iklan majalah atau teve yang menawarkan jasanya ke perusahaan. Eh iklan di tempatku yuk. Harganya segini pertiap kali muncul. Bisa lebih hemat lho jika ambil paket. Ya, seperti itu kasarannya.

Hal ini wajar. Perusahaan dan influencer akan sama-sama diuntungkan. Jika calon klien bisa mengajukan proposal kerja sama ke influencer, kenapa sebaliknya tidak boleh?

Membuat konten iklan yang menarik dan halus juga tidak mudah. Konsep harus dipikirkan. Unsur cahaya, grading, dan penataan produk juga harus diperhatikan. Apalagi jika dirupakan dalam bentuk video dan tulisan yang memiliki cerita, maka upayanya lebih.

Biasanya yang jadi masalah berkaitan dengan etika dan sopan santun. Yang dianggap sopan apabila menyampaikan proposal dengan ketentuan detail hak dan kewajiban. Tentunya penyampaian proposalnya juga dengan bahasa yang sopan dan tidak memaksa. Sebutkan keuntungan apabila berpromosi melalui akun media sosialnya, bisa juga menyebutkan portofolio kerja sama, persentase engagement dan sebagainya.

Tindakan influencer yang sedang ramai dibahas dikarenakan sikapnya yang dianggap kurang sopan dalam menawarkan kerja sama. Selain itu ada yang menyebut mereka mental gratisan, seolah-olah tidak menghargai kerja keras perusahaan calon klien. Ada pula yang menganggap beberapa influencer yang pernah bekerja sama dengannya tidak melakukan kewajibannya dengan baik, dan sebagainya. Hal-hal yang dilakukan oleh beberapa ‘oknum’ influencer membuat citra influencer memburuk. Beberapa kalangan pun kemudian memprediksi era influencer bakal jatuh.

Aku sendiri menganggap kelakuan beberapa oknum influencer mencederai kesan influencer di mata publik. Masih banyak influencer yang baik dan profesional di mana mereka benar-benar memiliki minat di bidangnya, bukan hanya karena dibayar.

Memang di media sosial cukup banyak influencer yang narsis dan hedonis, tapi bisa jadi itu adalah ‘strategi’-nya untuk menggaet segmen menengah ke atas. Adapula yang isi kontennya tak mendidik tapi laris dab disukai mereka yang labil. Tapi masih banyak influencer yang gemar membagikan hal-hal yang bermanfaat, menarik dan inspiratif dibayar ataupun tidak karena ia memang berminat di topik tersebut. Ada yang minatnya di kucing, buku, makanan, jalan-jalan, make up, dan sebagainya.

Aku sendiri masih bisa dikatakan blogger suka-suka. Nulis apa saja. Kalau tidak nulis seharian, rasanya ada yang kurang. Berpengaruh atau tidak isi tulisan, bukanlah tujuan utama. Dapat tawaran kerja sama tentunya hal yang menyenangkan😀.

Gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Juli 25, 2019.

2 Tanggapan to “Blogger dan Influencer”

  1. Ada juga lho tipe blogger yang menolak kerjasama untuk menjaga subyektivitas dan atau netralitas tulisannya. Karena buatnya integritas serta kepercayaan pembaca itu nomor satu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: