Jakarta Mendung, Eh Bukan Itu Polusi

Akhir-akhir ini Jakarta pagi hari seperti mendung. Langit berwarna kelabu. Tapi tak ada hujan mengguyur. Juga bukan kabut. Itu adalah polusi yang makin memburuk.

Baru saja Jakarta merayakan ulang tahun. Eh dapat hadiah. Tapi bukan hadiah yang menggembirakan. Apa enaknya mendapatkan lingkungannya makin tercermar. Apalagi udara bagi manusia adalah hal yang vital.

Aku masih beruntung tinggal di pinggiran Jakarta Timur yang cukup rindang dibandingkan kawasan lainnya di Jakarta pada umumnya. Hampir setiap rumah punya pohon dan tanaman. Tapi setiap kali menuju Jakarta pusat aku merasa gentar. Apalagi jika naik roda dua. Tingkat polusi udara di Jakarta memang memprihatinkan. Sayangnya tak banyak perubahan.

Predikat nomor dua kemudian masuk ke nomor satu kota paling buruk polusinya tentu bukan hal yang menyenangkan. Ada banyak sumber kenapa Jakarta mendapatkannya. Ruang terbuka hijau sangat terbatas. Rata-rata berubah menjadi apartemen, pemukiman dan pusat perbelanjaan. Kendaraan juga terus bertambah. Belum lagi masih adanya masyarakat yang suka bakar-bakar sampah. Konon polusi ini juga diperburuk oleh beroperasinya PLTU dan PLTGU Muara Karang.

Tapi alih-alih tiap pihak saling bekerja sama memberikan solusi, mereka tak ingin disalahkan. PLN menganggap pembangkit listrik di Jakarta Utara tersebut telah melakukan pemeriksaan emisi dan dinilai masih di bawah ambang batas. Pihak pemotor juga enggan disalahkan karena mereka merasa belum ada angkutan publik yang cepat dan dapat diandalkan dan relatif nyaman. Akhirnya solusinya adalah bagi-bagi lidah mertua, tanaman yang dianggap mampu menyerap polutan udara.

Jakarta bukan daerah yang miskin. APBD nya terbesar. Pendapatan pajaknya begitu besar. Dananya trilyunan. Tapi entah kemana dana itu terserap. Tak banyak inovasi dan pembangunan. Yang terlihat di mata hanya ada jembatan penyeberangan yang diperindah, tapi tak menyentuh akar permasalahan. Yang bisa diapresiasi adalah beroperasinya MRT. Aku menunggu gebrakan lainnya agar transportasi publik makin merata, bisa melayani berbagai sudut Jakarta dan bisa diandalkan.

Di Jakarta ada banyak kantor kementerian. Salah satunya kementerian lingkungan. Juga ada dinas pertamanan dan Kementerian Perhubungan. Mereka bisa bekerja sama dengan Pemda DKI memberikan solusi nyata bagi warga Jakarta. Jikapun perlu ruang terbuka hijau lebih banyak maka sebenarnya dari segi dana, Pemda DKI tak perlu kuatir. Toh pendapatannya besar.

Jika perlu morotarium  kendaraan baru juga bisa dilakukan jika terpaksa. Setiap hari selalu ada penambahan kendaraan karena proses pengajuan kredit yang mudah. Masyarakat juga perlu diedukasi agar tak suka bakar sampah.

Wah aku hari ini ke Jakarta pusat. Siap-siap masker agar tak berdampak ke kesehatan pernafasan

Gambar atas dari jawa pos, lainnya dokpri

~ oleh dewipuspasari pada Juli 31, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: