Menulis Harian Beban atau Tantangan?

Sudah lebih dari dua tahun aku menulis tiap hari di blog ini. Kemudian sejak tiga bulan lalu aku juga mulai membuat artikel harian di Kompasiana. Alhasil kini aku punya ‘pekerjaan’ membuat dua tulisan perhari. Hemmm apakah ini beban atau tantangan?

Kadang-kadang aku berharap sehari lebih dari 24 jam hehehe. Agar aku bisa melakukan banyak hal. Termasuk membuat lebih banyak tulisan.

Aku suka kegiatan menulis. Bagiku ketika berhasil menyelesaikan satu artikel tiap hari itu rasanya melegakan. Kemudian dilanjutkan membuat artikel berikutnya. Tentunya aku mencuri-curi waktu ketika aku sedang penat dengan pekerjaanku di kantor.

Saat ini aku masih bekerja penuh waktu. Di rumah juga masih melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mengepel, dan sebagainya. Aku juga aktif terlibat di kegiatan komunitas. Lantas kapan waktu menulis? Kadang-kadang aku sulit menjawab pertanyaan ini karena waktu menulisku jarang yang tetap. Aku melakukannya sesempatnya, sehingga ada tulisan yang panjang dan juga yang hanya beberapa paragraf. Kadang-kadang aku juga buntu ide, dan ada momen aku begitu enggan menulis.

Biasanya aku menulis sebelum tidur, ketika semua kegiatan telah kulakukan. Hal ini sebenarnya kurang bagus untuk kesehatan tapi jika tak menulis maka aku merasa ada sesuatu yang kurang dan bisa jadi malah sulit tidur.

Waktu lainnya yaitu ketika pasangan sudah berangkat kerja. Biasanya ada waktu sekitar 30 menitan untukku menulis sebelum melakukan kegiatan rumah tangga dan bersiap berangkat kerja.

Dulu pasangan bertanya kepadaku apakah menulis itu beban atau tantangan? Ia menggodaku diperbudak oleh tulisan. Hahaha aku suka dengan istilah itu, diperbudak oleh tulisan. Bahasa yang lebih aneh lagi adalah kecanduan menulis. Wah aku jadi tersentil, benarkah?

Hemmm bisa jadi ya. Ada selebgram yang sehari tak tenang jika belum memutakhirkan linimasanya. Begitu pula dengan YouTuber dan masyarakat Twitter. Aku belum merasa lega jika belum membuat dua tulisan perhari. Secara kasat mata dua hal tersebut mirip. Wah aku jadi bertanya-tanya ke diriku sendiri benarkah aku diperbudak tulisan?

Bisa jadi ya bisa jadi tidak. Aku kurang suka akan kata budak dan beban karena konotasinya negatif. Aku lebih menyukai istilah tantangan karena bersifat positif.

Dulu ketika masih jadi kuli tinta kami diminta untuk produktif menulis. Menulislah, tuangkan isi benakmu, yang akan abadi di dirimu adalah tulisan tersebut. Ya, tulisan seperti aktivitas, ia bisa baik dan juga buruk. Keduanya akan sama-sama dikenang apalagi sekarang jejak digital sulit dihapus.

Motto Pak Dahlan Iskan yang sering diucapkan kepada kami bahwa mood tidak ada kaitannya dengan akivitas menulis. Sedang malas atau rajin maka tidak ada bedanya. Hahaha benar juga sih waktu itu menulis memang pekerjaan kami jadinya kalau tidak menulis ya tidak ada duit.

Kini aku menulis karena hobi. Tapi aku suka akan kegiatan ini. Memang kadang-kadang menulis bisa menjadi beban ketika dipatok waktunya dan aku belum mendapatkan ide untuk menyelesaikannya.

Menulis harian lebih kusuka sebagai tantangan. Bagaimana aku bisa mendapatkan ide menulis dua artikel perhari itulah tantangan besarnya. Hal positif yang kualami aku jadi punya bank ide. Setiap ide yang melintas kemudian kucata. Dari pekerjaan, aktivitas di kantor, sepanjang perjalanan pulang pergi, juga kegiatan di rumah semuanya memberikan inspirasi.

Menulis harian itu tantangan tersendiri. Memang kadang-kadang ada beban, tapi lebih banyak positifnya.

Gambar dari pexels

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 2, 2019.

6 Tanggapan to “Menulis Harian Beban atau Tantangan?”

  1. Halo Mbak Dewi. salam kenal yah.
    gi mana caranya dapat orderan tulisan yah?

    • Kalau berdasarkan pengalamanku ada beberapa cara:
      1. Rajin menulis saja, biasanya jika ada yang tertarik dengan tulisan kita maka mereka akan menghubungi kita secara langsung. Akan lebih baik jika di info tentang penulis/kontak kami disertakan alamat email yang aktif.
      2. Gabung dengan komunitas blogger, biasanya ada tawaran konten berbayar dengan persyaratan tertentu
      3. Rajin nulis di Kompasiana, kadang-kadang mereka akan hubungi kita dan kalau dapat tawaran ini nilainya lumayan, bisa dapat sampai Rp 1 juta per artikel.
      Yang penting rajin nulis saja dan aktif di komunitas.

  2. Wah masih belajar nulis nih kak, soalnya masih pemula 🙂

  3. Betul sekali. Banyak hal positif dan lama-lama tidak menjadi beban lagi. Aku juga sedang berlatih menulis setiap hari, mbak Dewi. Tetap semangat dan tak pernah lelah mencintai dunia menulis.
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: