Suka Duka Jadi Editor

Dulu sekitar empat tahunan aku merangkap menjadi editor majalah internal perusahaan. Latar belakang pekerjaan sebelumnya sebagai jurnalis turut membantuku. Tapi gaya bahasa koran dan majalah perusahaan tentu berbeda sehingga aku perlu waktu menyesuaikan diri. Nah, berikut suka duka pengalamanku mencicipi pekerjaan sebagai editor.

Beberapa waktu belakangan aku disibukkan dengan kegiatan mengedit sekumpulan artikel untuk diterbitkan sebagai buku. Awalnya aku bingung bagaimana merangkai artikel tersebut sehingga mengalir dan menjadi sebuah kesatuan tema. Maka aku membacanya berulang kali. Ada kalanya aku berupaya menempatkan diri sebagai penulis agar aku memahami konteks tulisan yang dibuatnya.

Menjadi editor itu ada poin plus dan minusnya. Minus pertamanya ini bukan pekerjaan utamaku dan tak menghasilkan uang. Istilahnya aku merepotkan diri melakukan pekerjaan ini. Sudah beberapa hari bahkan hitungan minggu aku menyisihkan waktu untik melakukannya. Tapi aku tahu ke depan aku bisa mendapatkan pengalaman dari pekerjaan ini.

Dulu aku melakukan pekerjaan editor setiap hari. Pekerjaan dulu berkaitan dengan kehumasan dan protokoler. Apabila urusan itu sudah selesai maka aku pun merencanakan sebuah majalah internal yang terbit tiap tiga bulanan. Apa saja isinya, laporan khusus apa saja yang akan dibahas dan sebagainya. Biasanya aku bekerja dengan pimpinan redaksi yang merupakan atasanku dan rekan-rekan lainnya yang akan bertugas sebagai ‘wartawan’ di luar pekerjaan sebagai humas.

Aku menyusun lay out, membuat draft rencana berita dan urutannya. Biasanya dengan adanya berita baru yang tak masuk daftar atau berita pesanan maka urutannya pun berubah. Bahkan pernah hampir sebagian lay out pun berubah total.

Ketika aku masih memiliki partner hal tersebut sangat membantu. Paling-paling ketika halamannya berubah maka aku harus memangkas berita atau menambahkannya untuk memenuhi halaman karena lembar sis kiri dan kanan halaman di majalah itu bida berbeda.

Tapi kemudian aku bekerja sendiri, sehingga pekerjaan pun semakin bertambah. Menjadi editor tak hanya urusan membuat artikel menjadi lebih mudah dibaca, sesuai EYD, dan pas dengan sebuah halaman, tapi juga menambahkan sentuhan. Biasanya sesuai tema majalah saat itu. Sehingga ketika pembaca menyimak artikel-artikel terutama artikel liputan khusus, dalam sebuah majalah akan terasa benang merahnya. Ada gagasan yang kami tuangkan. Tapi tentu saja kami tak bisa memengaruhi fakta. Fakta itu tetap kami biarkan apa adanya. Kadang-kadang malah ada fakta atau opini dari pihak lain yang bertentangan dengan gagasan kami. Hal itu kami biarkan apa adanya.

Ada sebuah artikel yang bagus. Bahasanya runtut, gagasannya jelas dan diksinya indah. Artikel-artikel ini kuapresiasi. Jelas ia membantu tugasku. Ada juga artikel yang sebaliknya. Kacau. Jika aku tidak sedang mood maka artikel ini kukerjakan paling akhir.

Saat itu aku tidak pernah menolak berita atau artikel. Aku menghargai proses setiap orang menulis. Mungkin ia memang masih belajar menulis dan agak kesulitan mengungkapkan gagasannya. Jika aku masih sulit menangkap idenya maka aku datang ke penulis tersebut atau menghubunginya. Aku mengorek informasi secara halus tentang apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan lewat tulisannya.

Kadang-kadang ada juga penulis yang mau belajar. Ia ingin tahu bagian apa saja yang aku ubah. Aku tunjukkan kepadanya bagian mana yang perlu ia tonjolkan, EYD yang tepat dan sebagainya.

Menjadi editor tak selamanya aku benar. Kadang-kadang aku kelelahan. Tugasku juga mengedit berita di website dan masih banyak pekerjaan lainnya. Aku pernah salah membuat singkatan. Untunglah masih ada Pimred yang membaca dan melakukan finalisasi draft terakhir majalah sebelum naik cetak.

Saat ini aku masih menata sebuah buku. Tinggal finalisasinya dan rupanya malah lama. Kadang-kadang aku jenuh dan berharap pekerjaan ‘sukarela’ ku ini segera selesai.

Lantas apa poin plusnya sebagai editor? Banyak membaca akan menambah kemampuan menulis. Berlatih mengedit juga membuat kepekaanku untuk berempati juga bertambah. Aku jadi belajar menyelami pikiran seseorang. Aku juga belajar lagi tentang ejaan yang benar, cara memilih diksi dan memilah-milah artikel untuk dikategorisasikan

Ya ada banyak manfaat sebagai editor. Memang waktuku jadi semakin terkuras. Tapi aku yakin suatu ketika ilmu ini akan bermanfaat bagiku dan bagi sekelilingku.

Gambar: pixabay

 

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 19, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: