Kenapa “Parasite” Banyak Diunggulkan Masuk Nominasi “Best Foreign” Oscar?

Film “Parasite” langsung banyak dibicarakan ketika memenangkan penghargaan Palme d’Or di ajang Cannes Film Festival. Filmnya yang kemudian diputar di Indonesia pun lumayan laku dan memiliki masa putar yang lumayan lama. Ia pun digadang-gadang masuk nominasi film berbahasa asing terbaik di ajang Oscar.

Film “Parasite” bercerita tentang keluarga miskin yang hidup di semi-basement apartemen di pinggiran Korea Selatan. Mereka setiap hari menyambung hidup dengan bekerja apa saja, seperti melipat kardus untuk box makanan cepat saji.

Anak sulung mereka yang laki-laki, Kim Ki-woo (Choi Woo-shik) telah beberapa kali gagal masuk universitas. Sedangkan anak perempuan, Kim Ki-jung (Park So-dam) tidak melanjutkan pendidikan karena tidak ada biaya. Si ayah, Kim Ki-taek (Song Kang-ho), yang dulunya pengemudi juga menganggur. Sedangkan si ibu,Kim Chong-sook (Jang Hye-jin), yang dulunya atlet sekarang menjadi ibu rumah tangga.

Mereka hidup dari hari ke hari. Hingga suatu ketika kawan Ki-woo, Min-hyuk, menawari pekerjaan sebagai guru les privat Da-hye, putri keluarga Park kaya raya.

Nasib beruntung kemudian menghampiri. Ia diterima mengajar dengan honor mingguan yang besar. Tak merasa cukup ia pun menyamarkan adiknya sebagai ahli seni untuk mengajar putra bungsu keluarga Park. Lagi-lagi lolos. Adiknya yang menyamar dengan nama Jessica pun turut bekerja di rumah keluarga tersebut.

Ups sebentar lagi ada spoiler. Tapi memang tujuan ulasan ini diskusi karena filmnya sudah lumayan lama.

Dasar serakah mereka kemudian melakukan tindakan licik untuk memasukkan seluruh anggota keluarga, menggantikan pekerja lama keluarga Park.

Niat jahat mereka kemudian terkuak ketika asisten rumah tangga lama memaksa masuk ke rumah ketika keluarga Park tengah berlibur. Ia berdalih hendak mengambil barangnya yang tertinggal. Ternyata itu hanya kedok. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Karena ceroboh rahasia keluarga Kim pun ketahuan si eks asisten rumah tangga tersebut. Apa yang harus dilakukan mereka?

Ada Banyak Hal Menarik, Sisi Lain Korsel
Selama ini Korea Selatan yang kuketahui adalah kota besar yang penduduknya makmur dan pekerja keras. Tapi rupanya ada sudut-sudut lain dari kota Seoul dan kota lainnya di Korsel yang jarang diungkap di film.

Di dalam “Parasite” sisi masyarakat suburban kelas bawah dibidik. Di balik kokoh dan megahnya dinding-dinding apartemen, ada keluarga yang tak beruntung. Mereka meninggali semi-basement,di bagian bawah apartemen yang sebenarnya tak layak ditinggali. Rumah mereka sempit dan kumuh. Langit-langitnya rendah dan dinding luar mereka sering menjadi tempat mereka yang buang air sembarangan.

Ya, rupanya ada saja yang mau tinggal di tempat tersebut seperti halnya di Jakarta dulu di mana banyak rumah kardus dan juga rumah ‘darurat’ di bawah jembatan dan pinggir rel kereta.

Mencari pekerjaan di Korsel juga rupanya tak mudah, sehingga mereka mau melakukan apa saja seperti pekerjaan melipat kardus. Pekerjaan ini rupanya ada meskipun honornya juga tak banyak.

Kemudian juga ada bagian bawah tanah di rumah keluarga Park yang tak diketahui anggota keluarga, kecuali eks asisten. Rupanya selama bertahun-tahun ia menyembunyikan suaminya di sini dari kejaran rentenir. Ini menarik karena bisa jadi berkaitan dengan perang antara Korut dan Korsel pada masa lalu.

Aroma Tak Sedap Jadi Pemicu
Sayangnya ada saja yang merasa tak puas ketika kondisinya berubah dan kemudian serakah. Sayangnya mereka melakukan hal tak terpuji ketika memaksakan niatnya.

Di sini kemudian rupanya ada niat keluarga Kim untuk suatu ketika menguasai dan mengendalikan keluarga Park. Tapi rupanya ada dua anggota keluarga Park yang mulai curiga, yaitu kepala keluarga alias Tuan Park dan putra bungsunya.

Si putra bungsu merasa curiga dengan polosnya. Ia mencium aroma yang sama dari pakaian keempat orang tersebut. Sedangkan Tuan Park mulai merasa sopir barunya, Tuan Kim tersebut mulai agak melewati batas. Ia juga menyinggung aroma tak sedap dari Tuan Kim. Menurutnya bau itu mengganggunya. Aroma yang khas dari para mereka yang hidup di tempat yang dirasa kurang layak.

Mungkin bukan aroma badan tapi aroma pakaian. Keluarga Kim tinggal di bawah tanah dan mereka nampaknya menjemur sebagian pakaian di dalam rumah atau lorong sehingga kurang terkena matahari dan aroma bajunya jadi tak sedap karena tak kering oleh matahari.

Aroma inilah yang kemudian memicu persoalan. Kim mendengar Tuan Park menyinggung bau tersebut. Ia merasa tersinggung. Ketika ia juga melihat Nyonya Park juga terganggu dengan aroma tubuhnya, dengan melakukan gerakan tangan, ia kemudian merasa kesal. Saat Tuan Park hendak mengambil kunci dan kemudian menutup hidung ketika bersentuhan dengan si pembunuh, ia jadi merasa terganggu dan demikian marah, meskipun sikap menutup hidung itu tak ditujukan ke dirinya. Ia pun mengamuk dan melakukan hal yang kemudian sangat disesalinya.

Rupanya banyak orang yang merasa dilecehkan ketika seseorang baik dikenal maupun tidak, mencela aroma badannya. Dulu di dunia nyata juga ada kejadian seseorang membunuh hanya karena ia diejek bau badan. Oleh karena itu berhati-hatilah bersikap jika dirasa ada seseorang yang aroma tubuhnya dianggap menganggu. Sampaikan dengan sopan yang dirasa tak menyakiti, atau lebih baik dihindari dengan menjaga jarak.

Simbol-simbol dalam Film
Pengambilan gambar dalam film ini menarik, selain akting para pemainnya, juga jalan ceritanya yang biasa. Poin plot film ini sangat menonjol. Komedi gelap dengan cerita realistis yang terbilang unik. Inilah kekuatan film ini.

Pengambilan gambar yang paling kusukai ketika ketiga orang Kim berlari dari rumah keluarga Park kembali ke rumahnya. Di sana kamera menyorot pergerakan ketiganya, ketika ketiganya berlari menuju MRT dalam kondisi hujan yang begitu deras. Kemudian mereka harus berhujan-hujan menuruni tangga demi tangga seperti tiada habisnya menuju kediaman mereka, yang ternyata kemudian kebanjiran.

Bagian ini sungguh dramatis. Pada saat ini penonton seolah-olah diajak menyelami kehidupan mereka yang nelangsa. Hujan, banjir, dan kediaman yang menjadi benar-benar tak layak karena kebanjiran. Tapi mereka kemudian masih bertahan.

Ketika mereka menuju rumah mereka yang begitu jauh dan terus turun ke bawah seolah-olah menggambarkan kesenjangan sosial yang besar. Keluarga Park yang berada di tempat tinggi dengan rumah yang megah dan lapang dibandingkan dengan rumah keluarga Kim yang pelosok, berada di bagian sangat bawah dengan rumah sempit. Ketika di awal film digambarkan ada banyak kecoa di rumah mereka yang makin mendramatisasi kediaman Kim yang kumuh.

Lantas apa yang dimaksud parasit? Parasit adalah sebuah makhluk yang merugikan induk semangnya. Ia menghisap dan merugikannya. Bisa jadi yang dimaksud keluarga Kim menjadi parasit keluarga Park.

Film bergenre drama thriller dengan sentuhan komedi gelap ini menarik. Jalan cerita yang unik, akting pemain yang apik, juga sudut-sudut pengambilan gambar yang dramatis. Kupikir ia salah satu kandidat nominasi best foreign yang kuat, bisa menjadi lawan yang berat bagi “Kucumbu Tubuh Indahmu”.

Detail Film:
Judul: Parasite
Sutradara: Bong Joon-ho
Pemeran: Song Kang-ho, Lee Sun-kyun, Cho Yeo-jeong, Choi Woo-shik, dan Park So-dam
Genre: drama, thriller
Skor: 8/10

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 2, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: