Cerita Alternatif dari Joker yang Depresif

Tak dinyana Joker mengundang antusias movie goers untuk menontonnya. Mungkin karena ulasan yang apik dari mulut ke mulut sehingga banyak yang penasaran. Dan, sudah dua minggu film ini tayang, bangku di bioskop penuh, baik di Depok maupun di Cijantung. Memang “Joker” yang ini memiliki cerita yang berbeda. Kesannya lebih depresif dan mengundang simpati.

Joker berkisah tentang bagaimana sosok Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) berubah menjadi sosok penjahat bebuyutan Batman yang seperti yang biasa kita kenal. Tapi memang Joker yang ini merupakan cerita alternatif, jadi bisa jadi timeline Batman-nya jika film ini misalkan suatu ketika diteruskan, maka kisah Batman-nya juga alternatif, kemungkinan berbeda dengan kisah Batman saat ini. Lebih kelam dan karakter Batmannya abu-abu.

Arthur dikisahkan adalah seorang komedian. Ia dibayar untuk menarik perhatian pengunjung di sebuah toko atau disewa untuk sebuah pertunjukan. Sayangnya, kadang-kadang ia mendapat gangguan karena dianggap aneh. Ia sulit mengendalikan tawanya.

Setelah mengalami penyerangan ia sebenarnya berduka. Lalu seorang rekan di tempat kerjanya, Randall, meminjaminya sebuah pistol.

Arthur sendiri hidup dengan ibunya, Penny, yang ringkih. Keduanya suka menonton sebuah live show, Murray Show, yang dipandu komedian terkenal, Murray Franklin (Robert de Niro). Arthur ingin sekali seperti dia atau suatu ketika sepanggung dengannya.

Seiring dengan waktu ia jatuh hati dengan seorang tetangganya, Sophie Dumont. Untunglah gayungnya bersambut.

Tapi konflik kemudian hadir. Arthur dipecat karena membawa pistol saat ia bekerja. Ia juga membunuh tiga karyawan Thomas Wayne, ayah Bruce Wayne, karena mereka melecehkan seorang wanita di kereta bawah tanah dan memperolok Joker.

Yang lebih membuatnya kacau. Ibunya bercerita jika Thomas Wayne sebenarnya adalah ayahnya. Arthur pun sulit mencernanya satu-persatu.

Paragraf berikut bisa jadi mengandung spoiler

Film yang Kaya Lapis
Film “Joker” mendapat rating R karena mengandung unsur kekerasan. Film ini menurutku tidak cocok bagi anak-anak dan remaja karena bisa jadi mereka tak sungguh-sungguh paham dengan apa yang terjadi pada Arthur.

Ada banyak lapisan dalam film ini sehingga perlu jeli menontonnya. Ketika bagian demi bagian itu terlewati, penonton akan menyadari bahwa selama ini mereka terkecoh.

Gangguan mental yang dialami oleh Arthur diperlihatkan dikarenakan kejadian traumatis masa kecilnya. Rupanya tak hanya sulit mengendalikan tawa, ia juga kerap mengalami delusi. Ia juga kemudian bersikap amoral yang dianggap ‘permisif’ karena mengalami berbagai hal yang membuatnya sedih dan kecewa.

Ya, ada banyak argumentasi tentang bagaimana Joker bisa menjadi jahat seperti itu. Apakah ia benar-benar jahat dan amoral, hal ini menarik didiskusikan apalagi tanggal 10 Oktober lalu diperingati sebagai hari kesehatan mental sedunia.

Dari segi akting maka penampilan Joaquin Phoenix layak diapresiasi. Ia sejak muncul di “Gladiator” memang menarik perhatian. Ia menjadi Joker baru yang sama menariknya dengan Joker versi Heath Ledger. Pemeran lainnya juga memberikan dukungan terhadap pengembangan cerita.

Untuk plot ceritanya sendiri alurnya lambat dan lebih bersifat drama. Hal ini jadi menarik karena karakter Joker sebelum dan sesudah jahat menjadi tergali. Nuansanya yang suram juga selaras dengan film-film DC Comics.

Untuk ceritanya sendiri ada yang menyandingkannya dengan film “Taxi Driver”. Film yang dirilis pertengahan 70-an ini dibintangi Robert de Niro dan Jody Foster yang saat itu baru memasuki usia remaja. Ceritanya adalah seorang pengemudi taksi yang melakukan pembunuhan terhadap komplotan penjualan manusia (human trafficking) dan kemudian malah dianggap pahlawan. Bisa jadi sih, ada bagian yang mirip meskipun nuansa dan keseluruhan ceritanya tak sama. Unsur amoral dan bagaimana kelakuan kriminal bisa dipandang menjadi tindakan kepahlawanan.

Apakah Bakal Dibuat Sekuel?
Film ini direncanakan film solo. Tapi melihat kelarisannya maka bisa jadi bakal dibuat semesta baru dengan Joker dan Batman yang lebih suram dan kelam.

“Apakah kekecewaan dan rasa tersakiti bisa jadi pembenaran alasan berbuat amoral?”

Detail Film:
Judul Film: Joker
Sutradara: Todd Phillips
Pemeran: Joaquin Phoenix, Robert de Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy, Brett Cullen, Glenn Fleshler, Bill Camp, Shea Whigham, dan Marc Maron
Genre: drama thriller
Skor: 8/10
Gambar: IMDb

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 14, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: