Laki-Laki di Indonesia Lebih Banyak Daripada Perempuan

Jika melihat data yang dirilis Bappenas ada hal yang menarik tentang jumlah penduduk di Indonesia. Yang pertama jumlah penduduk Indonesia begitu besar. Tahun ini mencapai 266,91 juta jiwa dan diperkirakan tahun depan mencapai 269,6 juta jiwa. Dari angka tersebut rupanya komposisi pria masih lebih banyak daripada kaum hawa.

Pada tahun 2019 berdasarkan data yang dirilis Databoks Katadata bersumberkan Bappenas, jumlah laki-laki di Indonesia adalah 134 juta jiwa. Sedangkan jumlah perempuan mencapai 132, 89 juta jiwa. Komposisi ini tidak banyak berubah dari tahun-tahun. Ini membuktikan bahwa argumentasi kelompok yang beralasan poligami karena jumlah perempuan lebih banyak itu tidak benar hehehe. Apalagi jika melihat komposisi berdasarkan kelompok usia. Berdasarkan usia 15 hingga 49 tahun, para pria berjumlah 73.087.700, sedangkan perempuan berjumlah 71.759.000.

Nah jika melihat piramida usia tersebut maka maka Indonesia beruntung karena jumlah usia produktifnya lebih banyak daripada usia tidak produktifnya. Mereka yang masuk dalam kelompok umur siap bekerja (15-64) tahun berjumlah sekitar 68 persen dari total populasi. Dengan demikian Indonesia pada tahun-tahun mendatang akan merasakan bonus demografi dengan jumlah usia produktif yang akan semakin besar.

Minusnya rasio ketergantungan penduduk tahun ini masih besar, yakni mencapai 45,56 persen. Angka ini menunjukkan 100 orang usia produktif menanggung 46 penduduk usia non produktif (usia 0-14 tahun dan usia 65 tahun ke atas). Ini berarti beban perorangan rata-rata masih besar untuk membiayai anak-anak dan orang tua mereka. Jika angka ini masih besar mereka akan susah untuk menabung karena pengeluaran lumayan besar.

Di negara maju seperti negara-negara di Eropa dan Jepang, jumlah penduduk usia produktif mulai mencemaskan. Hal ini dikarenakan banyak penduduknya yang enggan menikah dan memiliki anak. Tak heran jika kemudian ada kebijakan memberikan tunjangan bagi warganya yang mau memiliki anak.

Namun data lainnya dari data penduduk Indonesia 2019 agak bikin sedih karena dari hampir 50 persen lansia masih bekerja. Meski sudah lanjut usia mereka terus bekerja, untuk membantu keluarga atau untuk mencukupi kebutuhan dirinya sendiri. Ada yang menjadi buruh, berusaha sendiri, atau bekerja di lingkungan keluarganya tanpa dibayar. Hal ini agak menyedihkan karena pada usia tersebut sebaiknya mereka tinggal menikmati buah jerih payah. Tapi ini juga membuktikan bahwa anggapan penduduk Indonesia itu banyak yang malas itu kurang benar. Meski usia sudah lanjut mereka enggan untuk meminta-minta dan terus bekerja.

Tentang lansia ini aku mendapati hal yang menarik di Singapura. Mereka memperlakukan para lansia dengan hormat. Mereka menyebutnya dengan warga senior. Mereka bebas naik angkutan umum dan mendapat tempat prioritas. Mereka juga boleh bekerja untuk hal-hal yang bersifat layanan umum. Aku beberapa kali menjumpai para lansia bekerja di bidang pariwisata dan mereka nampak senang dan berdedikasi melakukan pekerjaannya.

Gambar: databoks katadata

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 30, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: