Film Drama dan Anime Tentang Memasak yang Bikin Lapar

Salah satu jenis genre film yang kusukai adalah film dengan bumbu kuliner. Di Indonesia salah satunya adalah “Aruna dan Lidahnya” yang menampilkan adegan-adegan memasak dan menata hidangan tradisional yang begitu menggiurkan.

Adegan memasak itu menyita perhatian. Bagaimana seorang koki merajang bumbu, mengambil hidangan segar, membuat sup, lalu menata makanan-makanan tersebut menjadi nampak begitu nikmat.

Akhir-akhir ini aku suka menyaksikan dua film serial yang juga membahas tentang masakan. Dua serial tersebut adalah “Midnight Diner: Tokyo Series” dan “Food Wars”. Yang pertama adalah film drama real action yang kedua adalah jenis anime. Film pertama lebih bagus dan lebih menyentuh. Sedangkan film kedua agak mengeksploitasi wanita dan cenderung berlebihan dalam menggambarkan kelezatan makanan. Meski demikian aku suka kedua tayangan ini dan menonton beberapa episodenya.

Film “Midnight Diner” berkisah tentang sebuah kedai mungil yang unik. Ia hanya buka pada saat tengah malam hingga pada pukul tujuh pagi. Sebagian besar orang sudah tiba di rumah dan beristirahat, tapi Master, sebutan pengelola kedai itu malah baru memulai harinya.

Meski nampaknya muskil orang-orang menyantap makan saat dini hari di luar rumah tapi ternyata jumlah pelanggan setia kedai ini cukup banyak. Baik wanita maupun pria. Di sini selain tempatnya nyaman, pembeli juga bisa memesan apa saja asal ada bahan makanannya.

Master biasanya hanya diam dan mengamati orang-orang makan. Ia hanya sesekali ikut nimbrung dan lebih banyak di sisi pendengar.

Aku paling suka adegan ia menyiapkan makanan. Menumis bumbu, menyiapkan sayuran, memasukkan potongan daging dan kemudian nampak hidangan sup yang nampak sedap. Bagian lainnya memerlihatkan ia membuat sosis panggang dan hidangan lainnya yang menggoda.

Sementara “Food Wars” berkisah entang seorang remaja 15 tahun bernama Soma yang ingin mengalahkan ayahnya dalam soal kepiawaian memasak. Mereka mempunyai kedai kecil dan juga mau memasak apa saja yang diinginkan pelanggan.

Hingga suatu ketika ada kelompok orang mewakili pengembang yang meminta mereka menutup kedai dan menjual tempat ini ke mereka. Soma mengusirnya. Mereka kemudian mengacaukan bahan makanan dan merusak properti restoran. Soma pun marah besar. Tapi ayahnya rupanya memang berniat menutup kedai sementara. Ia kembali ke New York menjadi chef di restoran temannya. Sedangkan Soma ditantangnya untuk masuk akademi memasak yang elit. Hanya 10 persen dari pendaftar yang bisa lolos ujian masuknya.

Aku baru menonton musim pertama dan beberapa episode anime ini. Ceritanya sebenarnya menarik hanya bagian-bagian yang mengeksploitasi tubuh wanita yang terasa mengganggu. Di dalam film ini aku suka dengan trik memasak daging yang cepat empuk dan matang yaitu dengan bantuan madu. Namun, ada gambar makanan lainnya yang malah bikin mual seperti cumi bakar dengan selai kacang.

Gambar:nytimes,sgcafe, youtube, onetvasia

~ oleh dewipuspasari pada Desember 3, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: