Kocaknya Dunia, Antara Informatika dan Dunia Tulisan

Ketika hendak lulus dari teknik informatika, aku berupaya mencari pekerjaan non TI. Doaku langsung terkabul. Hari ini wisuda, besok paginya aku sudah menjalani training seminggu penuh menjadi kuli tinta.

Empat setengah tahun berkecimpung dengan tugas-tugas pemrogaman aku merasa eneg. Aku jarang tidur nyenyak dan kadang-kadang membiarkanku sengaja diculik alien karena sesak memikirkan tugas-tugas. Aku ingin rehat sejenak dan tak menyentuh sama sekali koding dan koding.

Mungkin pepatah keluar dari mulut paus hampir masuk ke perut singa bisa jadi perumpamaan. Sudah senang-senang keluar dari mulut paus dengan sekoci seperti kisah Pinnokio dan ayah angkatnya, eh perahuku terdampar di sebuah pulau dan kemudian aku jadi bulan-bulanan singa lapar.

Hehehe tenggat waktu itu mencekam. Setiap hari aku memikirkan apa yang harus kuliput hari ini. Jika tak ada agenda kota maka tugasku pun berkeliling. Aku menuju mal demi mal, kemudian ke pusat seni budaya, hotel-hotel, baru kemudian ke kebun binatang. Seperti sebuah rekreasi. Pekerjaanku seperti bermain-main. Tapi pikiranku penuh dengan beban, hayooo mana beritamu hari ini.

Kadang-kadang aku tak memiliki ide dan tak membawa berita. Ini mengerikan. Jika beberapa hari tak memilih kabar apapun maka aku bisa dipecat. Huuhu.

Karena dikejar-kejar singa lapar kemudian diikuti rombongan babun, maka kreativitasku pun meningkat. Manusia konon sanggup beradaptasi dan nekat. Aku mulailah rajin mencari informasi ke kenalan desainer, ke salon-salon, ke toko mainan, komunitas, ke bioskop dan sebagainya. Aku menjadi semi sales. Aku memerkenalkan diri lalu mengorek-ngorek sesuatu yang bisa jadi ide tulisan. Kemudian selain gaya hidup dan seni budaya, aku juga mengamati kota.

Dari sebuah bantaran sungai ada perajin gitar. Ia membuatnya dari rumah. Namun, kualitasnya tak kalah.

Di balik pusat-pusat perbelanjaan yang mewah, di gang demi gang ada perkampungan yang pada masa itu warganya sebagian berasal dari menengah ke bawah. Tapi mereka begitu guyup. Di sana aku merasai semangkuk rawon terenak yang dibuat oleh seorang nenek. Aku menyantapnya di rumahnya, di sebuah rumah bambu.

Ketika singgah ke gang Dolly masa-masa dulu, aku terheran-heran melihat lokasinya tak jauh dari TVRI Surabaya. Saat pagi ia seperti kampung biasa. Ketika sore hingga malam situasi kemudian berubah. Aku takjub melihat rumah-rumah akuarium di mana para gadis duduk berjajar di dalamnya. Beberapa pria klimis dengan baju rapi membawakan sebuah buku seperti menu. Isinya adalah katalog.

Aku sempat berbincang dengan pekerja di sana dan sulit menerima realita. Beberapa di antara mereka sadar akan pekerjaannya itu kurang terpuji tapi sudah merasa nyaman. Mereka mengelabui keluarga di rumah, berdalih bekerja di toko.

Peta prostitusi di Surabaya masa itu memprihatinkan. Tak hanya di Dolly, juga ada di beberapa tempat lain, termasuk di kawasan makam. Tiap daerah memiliki patokan harga tersendiri. Miris.

Para pelaku prostitusi bukan hanya perempuan, namun juga pria dan waria. Beberapa kawasan juga menjadi tempat berkumpulnya mereka yang gay atau lesbian.

Hiburan malam di Surabaya juga memberikan sisi lain dari kota metropolitan. Dari satu klub ke klub lain aku melihat beberapa pengunjung masih remaja. Di awal masih live music, tapi setelahnya bisa berubah. Tapi menariknya ruang klub itu sering dimanfaatkan jadi ajang nobar Formula satu.

Beberapa tahun lalu aku mahasiswi yang lugu tapi dalam beberapa bulan setelah lulus aku menyadari sesuatu. Hidup itu sungguh berwarna. Sebuah klub malam bisa saja sesumbar tempatnya ramai, namun di tempat lain yang mengundang Emha Ainun Najib malah jauh lebih ramai.

Saat aku pulang ke Malang usai bekerja hingga larut malam, teman seperjalananku itu rupa-rupa. Ada di antaranya pelaku prostitusi, pedagang, waria yang habis nyanyi berkeliling, dan sebagainya. Di sebuah elf menuju terminal aku mendengar cerita-cerita dari mereka. Saat-saat itu tak ada perbedaan di antara kita. Kami hanyalah musafir yang hendak pulang atau melanjutkan perjalanan.

Selama jadi kuli tinta aku makin sedikit punya waktu tidur. Saat libur sehari dalam seminggu kubuat jadi ajang balas dendam. Aku bisa tidur terus-terusan. Hanya bangun untuk beribadah dan makan.

Pengalamanku menjadi kuli tinta sungguh membekas. Ia memberikanku warna. Aku tak bisa lagi melihat sesuatu hitam dan putih, karena setiap warna bisa jadi ada percampuran hitam dan putih, atau warna lainnya.

Hidup itu kocak. Tak lama dari kuli tinta aku kembali ke dunia TI. Aku ditempatkan mengurus jaringan. Tapi tak lama kemudian aku bergeser menjadi admin website perusahaan. Setelah itu duniaku menjadi hibrid, aku mengelola web juga mengurus kontennya, baik yang dirilis di website maupun di majalah internal.

Setiap tahun kami menerbitkan empat majalah. Satu majalah berkisar 60 halaman dengan artikel berkisar 60-100 buah. Aku memikirkan desain kontennya, mengisi beberapa di antaranya, dan mengeditnya. Ketika artikel-artikel ini ditata maka mulailah pekerjaan beratnya. Satu artikel bisa ditambah kurang, digabung, atau malah ditunda. Ketika sudah selesai dan kemudian diedit oleh atasan maka formatnya bisa amburadul lagi. Belum lagi ketika sudah diperiksa oleh direksi. Jika lolos dan revisinya sedikit aku bisa bernafas lega.

Memperdalam Informatika
Aku melanjutkan kuliah lagi. Tetap di ranah informatika. Aku mengambil kelas malam dan kembali ke rumah rata-rata pukul 22.30 hingga tengah malam. Di kantor aku menahan kantuk.

Setelah lulus aku kemudian menjadi peneliti dan konsultan. Pekerjaanku membuat analisa dan menyusun strategi. Umumnya menyusun IT blueprint, IT roadmap juga mengukur implementasi TI di sebuah perusahaan.

Kembali ke hibrid

Dunia itu kocak. Aku menghindari TI tapi kemudian aku sadar bahwa aku menyukainya. Setelah itu aku kembali rajn menulis di blog dan kadang-kadang menjadi kontributor media online.

Dunia informatika dan tulisan itu sesuatu yang berbeda. Dua-duanya kusuka dan kemudian menjadi bagian hidupku. Sulit untuk kupilih.

Hemmm aku jadi ingin mulai rajin menulis tentang dunia informatika. Terutama yang ada kaitannya dengan pekerjaanku saat ini.

Gambar pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Desember 28, 2019.

5 Tanggapan to “Kocaknya Dunia, Antara Informatika dan Dunia Tulisan”

  1. Wiii menariknyaaa. Kalau keduanya digabungkan, bisa jadi hebat banget Kakkk

  2. Klau baca cerita Anda, menurutku, kau hbat. Bisa mengatur smuanya. Klau saya mungkin tak sanggup.

    Yah, namanya hobi, ya kan… psti mengerjakannya dg smngat meski tak gampang.

    Salut dech pokoknya.

    • Wah aku nggak segitunya, cuma suka nulis saja. Kadang-kadang juga sempat juga menulis, tapi mungkin karena suka, jadinya ‘libur’ nulisnya tak lama. Ketika aku fokus di nulis, aku kangen informatika, demikian sebaliknya, akhirnya pilih dua-duanya jalan bareng.

  3. Woooww

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: