Dini Hari

Langit masih gelap. Jarum pendek juga belum mencapai angka empat. Aku mendengar suara rengekan anak kucing yang lemah. Disusul kemudian suara burung dalam sangkar yang nampak memilukan.

Biasanya aku suka mendengar suara anak kucing. Mereka seperti menemaniku yang terjaga saat dini hari. Biasanya ada si induk yang menjawab rengekan mereka, seperti seorang ibu yang menentramkan anak-anaknya saat mereka bermimpi kurang baik. Tapi aku tahu kondisi mereka yang membuatku prihatin. Dua anak kucing itu sendiri. Induknya depresi.

Coki si kucing liar berwarna cokelat yang suka tidur di halaman entah kemana. Ia dari tadi mengeong-ngeong, sibuk untuk masuk ke rumah dan bersembunyi di sudut-sudut. Ia tak sama sekali tersentuh oleh kedua bayinya. Ia pun juga enggan untuk makan. Aku tak tahu keinginannya.

Si Mungil sama sepertiku, ia nampak marah. Tapi sayangnya si Mungil juga tak mau berurusan dengan bayi malang. Mungkin ia sudah lelah mengurus si Kidut yang baru berusia dua bulan. Ia induk yang lumayan baik meski ini kelahirannya yang pertama.

Dua bayi kucing itu kutaruh dalam boks yang kulapisi kain. Tadi mereka kuberi susu kucing sisa si Kidut dan Mungil. Mereka menghisapnya sedikit. Aku tak yakin apakah susu itu cocok buat kucing yang masih bayi. Tapi tak ada alternatif.

Bayi kucing itu masih buta. Nampaknya mereka mencari induknya. Sosok yang dianggap mereka hangat. Sosok yang membawa mereka ke dunia. Tapi sosok itu meninggalkan mereka. Ia larut dalam pikirannya, tak jelas maunya.

Serupa dengan si bayi kucing yang merana, aku juga merasa nelangsa dengan nasib burung-burung di sangkar. Seandainya mereka terbang bebas, tentu mereka lebih bahagia.

Sayangnya kebebasan itu mahal kini di Indonesia. Lahan hijau kini berubah menjadi perumahan. Serangga pun mulai punah sebagai makanan sebagian dari mereka. Sebagian burung ditangkapi jadi hiasan rumah, lainnya hidup dengan kekuatiran habitatnya bisa tercerabut oleh ketamakan manusia.

Bayi kucing di halaman itu berhenti merengek. Semoga keduanya tak apa-apa sehingga besok aku bisa kembali memberinya susu. Burung-burung juga tak lagi berkicau. Suasana di luar kembali hening. Aku mencoba untuk kembali tidur. Satu jam memejamkan mata akan berguna.

Gambar: pixabay

~ oleh dewipuspasari pada Februari 12, 2020.

2 Tanggapan to “Dini Hari”

  1. Mungkin induk kucing sedang mencari bapak dari anak-anaknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: