“Friend Zone”, Ketika Jatuh Cinta pada Sahabat

Bagaimana bila Kalian menyukai sahabat sendiri, apakah Kalian akan mengungkapkannya atau memendam perasaan tersebut. Ada kalanya seseorang sudah nyaman dalam zona pertemanan tersebut, sehingga ragu dan kuatir ketika berupa meningkatkan status tersebut, seperti kisah Palm dan Gink dalam “Friend Zone”.
Cerita “Friend Zone” berfokus pada hubungan Palm (Naphat Siangsomboon) dan Gink (Pimchanok Luevisadpaibul). Keduanya bersahabat sejak SMA. Palm selalu bersedia menemani Gink melakukan aksi-aksinya yang konyol, termasuk membuntuti ayah Gink karena Gink merasa ayahnya mengkhianati ibunya.


Sayangnya hubungan mereka hanya sebatas teman karena Palm tak menjawab jujur ketika Gink menanyakan apakah Palm ada perasaan khusus kepadanya. Sejak itu Palm memendam perasaannya selama 10 tahun. Gink pun melabuhkan hatinya ke pria lain dan nampaknya menuju arah serius.

Namun setiap kali Gink ada masalah, ia pun meminta tolong Palm untuk hadir, meskipun Palm sedang terbang menunaikan tugasnya sebagai pramugari. Merasa lelah seolah-olah kebaikannya dimanfaatkan, Palm pun berupaya menyudahi ‘friend zone’-nya tersebut. Berhasilkah?

Film “Friend Zone” merupakan drama komedi romantis yang apik. Ketika menyaksikannya Kalian akan senyum-senyum sendiri.


Ceritanya ini manis. Sosok Gink begitu imut sekaligus naif. Sementara sosok Palm juga begitu charming, ia tampan dan baik hati. Sebenarnya ia juga mudah untuk mendapatkan pacar, namun ia mudah tak tega terhadap kawannya satu ini, sehingga mau saja diminta tolong ini dan itu.

Ketika keduanya bersama, keduanya menjadi diri mereka sendiri. Mereka tak malu tampil konyol dan bercerita tentang permasalahan mereka. Tapi keduanya menahan ego masing-masing. Ada beberapa adegan di awal yang menunjukkan sebenarnya Gink juga menyukai Palm, tapi ia kecewa mendengar reaksi Palm. Kedua pemeran Palm dan Gink, Naphat dan Pinchanok, nampak santai dan natural. Mereka tak canggung melakukan banyak adegan konyol.

Oleh karena film ini merupakan drama komedi romantis maka banyak adegan yang mengocok perut. Beberapa adegan terasa berlebihan tapi tetap bisa membuatku tertawa terbahak-bahak. Yang tambah bikin kocak adalah kumpulan beberapa pria yang juga mengalami nasib yang sama dengan Palm, ketika mereka berkeluh kesah, bukannya penonton jadi sedih, tapi malah tertawa geli.


Film ini sebenarnya memiliki premis sederhana. Tapi berkat eksekusi yang apik dan bumbu komedi yang pas, film ini jadi menarik dan berkesan. Oh ya Indonesia juga disebutkan di film ini sebagai salah satu negara yang menjadi tujuan kekasih Gink untuk merekam jingle iklan.

Film besutan Chayanop Boonprakob menggunakan alur maju dan mundur. Tapi mudah sih timeline-nya untuk diidentifikasi. Skor 7.5/10. Oh iya gambar-gambar dari film Thailand ini aku ambil dari IMDb.

~ oleh dewipuspasari pada Maret 14, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: