Masa Resesi, Investasi, dan Pekerja Harian yang Mudik

Dua minggu berlalu dan terasa buruk. Kerja dari rumah (work from home) yang sedianya hanya berlaku hingga 27 Maret pun diperpanjang hingga waktu yang dirasa kondusif. Bekerja dari rumah ini tidak semuanya bisa melakukannya. Sektor jasa dan layanan publik tetap perlu datang meskipun waktu pelayanannya banyak dipangkas dan dilakukan modifikasi antrian dan pengaturan duduk di ruang tunggu. Seperti yang diduga sebagian pihak, masa resesi mulai hadir, apakah Kalian sudah bersiap menghadapinya?

Saat ini situasi penuh ketidakpastian. Tidak ada yang tahu apakah mereka masih akan bekerja bulan depan, apakah kantor tetap buka dan usaha mereka akan bertahan nantinya setelah masa pandemi ini berakhir. Di media daring ada banyak pekerja yang mengalami PHK. Ada juga yang mengalami cuti tanpa gaji hingga waktu yang tidak diketahui. Bagi yang bekerja sebagai ASN memang aman, tapi yang bekerja di sektor swasta terutama di bidang pariwisata, momen-momen saat ini seperti mimpi buruk.

Perusahaan memang biasanya memiliki cadangan. Tapi jika tidak ada pemasukan maka cadangan tersebut akan terkuras. Beberapa perusahaan yang memikirkan nasib karyawannya melakukan upaya dengan memotong gaya para pejabatnya agar karyawan tetap bisa digaji. Hal-hal semacam ini sangat perlu diapresiasi.

Minggu lalu juga ada kabar tentang banyaknya pemudik dari Jakarta ke kampung halaman. Tidak sedikit yang melakukan perundungan dan berkomentar buruk. Padahal bisa jadi sebagian pemudik itu pulang kekampung halamannya karena mereka tak punya mata pencaharian lagi. Mereka di posisi yang sulit, maju kena mundur kena. Di Jakarta pendapatan mereka sebagai pekerja harian menurun atau malah mereka tak punya lagi mata pencaharian. Sementara mereka harus makan dan membayar sewa tempat tinggal. Mereka kemudian memilih untuk sementara waktu pulang kampung. Tapi risiko dan peluang tersebarnya Covid-19 jadi makin tinggi.

Di kawasan tempat tinggalku sudah hampir dua minggu tertutup dari para pedagang dan pemulung. Pendapatan mereka pasti menurun karena pelanggan mereka di tempatku juga lumayan. Aku jadi cemas dengan nasib abang penjual nasi goreng, tukang sayur langganan, jasa sol sepatu dan sebagainya. Bagaimana nasib mereka?

Bagi yang punya tabungan dan investasi maka kondisi resesi ini tak begitu berarti. Mereka memiliki dana darurat berupa tabungan dan uang tunai di dompet. Harga emas juga melambung tinggi di tengah krisis ini. Sebaliknya para pekerja harian rata-rata tak punya tabungan. Boro-boro menabung, untuk makan dan kehidupan sehari-hari kadang-kadang mereka kekurangan, sehingga merekalah yang paling terdampak oleh kondisi ini.

Seingatku ada jaminan hari tua dari BPJS Ketenagakerjaan untuk sektor informal. Akan sangat membantu jika dana tersebut bisa cair pada saat kondisi seperti ini. Moga-moga ada kebijakan untuk dapat mengambil dana tersebut, ya mungkin maksimal limapuluh persen dari akumulasi premi yang telah mereka bayarkan.

Menurutku membantu mereka yang tak terdampak adalah penting untuk kondisi saat ini. Tak perlu harus menunggu bantuan dari pemerintah. Ada beberapa lembaga yang siap menyalurkan bantuan baik berupa dana dan kebutuhan pokok bagi mereka yang tak beruntung dan terdampak dengan kondisi saat ini.

Mari kita sama-sama saling membantu dan bergandengan tangan tanpa memedulikan suku, agama, ras, dan sebagainya agar mereka yang tengah bersedih tak merasa sendiri. Semoga kondisi ini segera berlalu dan Indonesia bisa segera bangkit dari masa resesi ini.

Gambar dari pexels

~ oleh dewipuspasari pada April 3, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: