Empath

Empati berbeda dengan simpati. Simpati adalah rasa belas kasih terhadap orang lain. Misalnya kita bersimpati ketika ada kabar duka menimpa seseorang. Sedangkan empati adalah kemampuan untuk berada di posisi orang tersebut. Ketika seseorang bercerita ia merasakan tubuhnya sakit dan lapar maka kita seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang tersebut. Kita kemudian langsung tergerak untuk membantunya.

Menjadi empath itu ada suka dukanya. Ketika aku kecil hingga dewasa aku tak memahami kemampuan itu. Aku hanya tahu aku mudah terkoneksi dengan orang asing. Aku bisa langsung akrab dengan orang yang baru kukenal dan orang tersebut tak segan menceritakan masalahnya kepadaku.

Seseorang dalam waktu beberapa menit bisa langsung bercerita ia mengalami masalah di keluarganya. Ia tak merasa dihargai, merasa lelah menjadi pencari nafkah, dan sebagainya. Ada juga yang bercerita tentang kekecewaannya di tempat kerja. Ada juga yang mengungkapkan dukanya karena ada anggota keluarganya yang tak kunjung sembuh.

Menjadi seorang empath kadang-kadang tak perlu melakukan apa-apa. Aku sering kali hanya cukup mendengar. Lupakan gawai. Aku mendengar mereka dengan intens. Kadang-kadang memberikan dukungan dengan menepuk pundak, menggenggam tangan bagi sesama jenis hingga merangkulnya jika aku paham masalah yang ia alami sungguh berat. Kadang-kadang mereka hanya perlu didengar, diperhatikan, dan didukung.

Dulu aku terbiasa untuk mengontrol emosiku. Aku tak akan ikut menangis karena dulu menangis dianggap menunjukkan kelemahan. Aku hanya menunjukkan aku memahami masalah yang ia sampaikan. Aku mendengarnya dan berkomentar singkat. Mereka tak perlu nasihat, mereka hanya ingin didengar. Setelah merasa cukup mereka akan pergi. Jika kami di tempat umum dan orang-orang memerhatikan maka mereka akan mengira kami kawan dekat atau keluarga. Padahal aku tak tahu namanya. Aku tak bertemu lagi dengannya.

Menjadi empath membuatku mampu menyerap emosi,mengetahui emosi orang-orang yang ada di sekelilingku. Apakah mereka sedang bad mood, ceria, tertekan, dan sebagainya.

Semakin dewasa kemampuan itu kadang-kadang merugikanku. Mendengarkan, menyerap emosi, dan memasuki masalah mereka seringkali menyedot energiku. Tak semua masalah itu dimiliki oleh orang-orang baik. Tak sedikit orang jahat juga memiliki masalah dan rencana. Ketika aku mendengar mereka bercerita dengan masalahnya aku tahu mereka bukan orang baik. Aku mencoba membuat mereka henti bercerita. Jika tidak energi negatif itu akan menyedotku, membuatku lemas.

Kini kemampuan itu terus bertambah. Tidak hanya lewat pertemuan tapi juga lewat suara, musik, berita di teve, menonton film dan membaca artikel. Aku menjadi sensitif dengan emosi. Mungkin hal ini ada kaitannya dengan kemampuan berimajinasi. Aku juga mulai bisa membaca emosi para hewan di sekelilingku.

Air mata bisa langsung mengalir hanya karena membaca sebuah berita tentang nenek yang tinggal sendirian dan masih bekerja keras. Aku juga bisa mendengarkan kucing-kucing bercerita kepadaku meski aku tak paham bahasa mereka.

Menjadi empath memang memerlukan energi. Aku perlu men-charge energi dengan tidur dan mengisolasi diri. Kemampuan empath ini mungkin ada kaitannya dengan kepribadianku yang masuk iNFJa.

Aku sedang belajar cara mengontrol kemampuan empath ini agar tak merongrong energiku. Caranya dengan lebih berfokus pada diriku. Apa sebenarnya yang kuperlukan, bukan hanya keperluan orang lain.

Menjadi empath memang membuatku lebih mudah bersosialisasi dan beradaptasi di lingkungan baru. Tapi sesekali kemampuan empath perlu kutinggalkan dan lebih berfokus ke aku.

Gambar: pexels

~ oleh dewipuspasari pada April 4, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: