Ramadan yang Berbeda Tahun Ini


Pandemi Covid-19 belum kunjung usai. Agar penderita tak terus bertambah maka dilakukan PSBB di Jakarta dan berbagai daerah lainnya. Hal ini membuat suasana Ramadan tahun ini bakal berbeda.
Biasanya yang khas di bulan Ramadan adalah semangat orang-orang melakukan ibadah komunal. Masjid-masjid pada siang hari ramai oleh mereka yang hendak sholat sekaligus kultum.

Demikian pula halnya dengan suasana pada sore hari, seusai Ashar. Biasanya anak-anak mengaji atau mengikuti pesantren kilat. Para ibu menyiapkan takjil — kadang-kadang juga makanan berat, untuk buka bersama di masjid sebelum menunaikan ibadah sholat Maghrib.

Sementara di jalan ada begitu banyak penjual makanan dadakan, dari menu es, jajanan pasar, gorengan, hingga makanan berat. Hampir setiap ruas jalan ada penjual makanan. Meriah.

Malam harinya baru para warga melakukan sholat tarawih bersama dilanjutkan dengan tadarusan. Menyenangkan, terasa damai. Meski pada hari kesekian biasanya keramaian berpindah ke restoran untuk buka bersama dan mal untul berbelanja pakaian, kemudian berpindah ke tol dan jalan-jalan besar menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Salah satu keseruan yang bakal hilang tahun ini adalah klotekan atau pawai membunyikan orang sahur dengan bambu atau botol. Dulu yang kurindukan ketika ngekos di Surabaya adalah bunyi-bunyian ini yang sudah ada sejak pukul 02.00.

Puasa tahun ini juga lebaran kali ini semua itu kiranya hanya angan-angan. Memang masih ada masjid di Jakarta yang menggelar sholat tarawih meski dianjurkan untuk sholat di rumah.

Anjuran untuk melakukan ibadah di rumah patut kita lakukan karena dengan cara tersebut penyebaran virus bisa terminimalisasi. Jikapun seandainya masjid di lingkungan rumahnya masih mengadakan tarawih bersama maka sebaiknya tetap waspada dan ekstra hati-hati, mengikuti anjuran cara menjaga kebersihan dan kesehatan diri.

Ada satu hal yang membuatku tertegun dengan makna ibadah Ramadan tahun ini. Kita melakukan ibadah sendirian atau bersama keluarga pada masa seperti ini memiliki hikmah tersendiri.

Saat melakukan ibadah sendirian kita bisa fokus mengintropeksi diri. Sasaran dari Ramadan adalah meningkatkan kualitas kebaikan dari kita sendiri. Kita sendiri yang paling tahu keburukan dan kelemahan diri sendiri dan harapan yang ingin dikabulkan. Ketika beribadah dengan pasangan, orang tua, atau anak maka rasa kekeluargaan dan kasih sayang juga akan meningkat.

Ketika nantinya merayakan hari raya, maka kita juga akan mendapat bahan renungan. Apakah hari raya hanya sekedar ajang kumpul-kumpul dan makan enak bersama keluarga besar atau perayaan karena kita memang bisa mencapai target dalam meningkatkan kualitas diri.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan🙂

~ oleh dewipuspasari pada April 23, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: