Kenapa Bayar Jika Banyak yang Lebih Baik dan Gratis?

Kalau ada yang gratis dan kualitasnya baik kenapa harus mengeluarkan duit?  Ini adalah tulisan pendahuluan sebelum nantinya aku ingin mengupas lebih dalam tentang konsep kartu prakerja era pandemi yang menurutku ganjil.

Meski sudah memasuki bulan Ramadan, aku dan kawanku asyik membahas tentang kursus-kursus di kartu prakerja. Tentunya dengan gaya bersungut-sungut karena memang hal ini pantas untuk dikomentari karena nilai dananya yang sangat besar. Dana triliunan bisa digunakan untuk makan banyak orang, bersih-bersih sungai, membuka lapangan pekerjaan dan masih banyak lagi. Satu TrIliun itu 1000 Miliar sedangkan 1 Miliar itu 1000 juta, jadinya 1T = 1 jutanya juta. Duh banyak banget ya. 

Oh iya kenapa Komindo dengan Digital Talent-nya tidak diajak ya? Apa karena pendaftarannya sudah ditutup dan bersifat khusus ya? Menurutku materi-materi Digital Talent lebih kongkret dan aplikatif, terutama bagi mereka yang ingin bekerja di bidang TI.

Oke kembali tentang kursus. Para pemegang kartu prakerja pada saat ini diprioritaskan adalah mereka yang dirumahkan pada masa pandemi ini. Tapi jika ditilik dari berbagai kursus yang disediakan oleh delapan penyelenggara yang dipilih, sebagian adalah materi softskill dan materi-materi yang cocok untuk mereka yang baru dan belum berpengalaman dalam dunia bekerja.

Tunggu, terus apa harapan dari pelatihan ini? Sementara kantor dan tempat mereka bekerja saat ini berhenti beroperasi dan bisa saja kemungkinan paling buruk yaitu mereka di-PHK. Seandainya kemudian pandemi berakhir juga belum ada jaminan kondisi perekonomian akan segera bangkit.



Pada masa ini menurutku yang paling kongkret adalah berubah haluan. Mencari pekerjaan yang masih bisa dilakukan pada masa pandemi dan pasca pandemi.

Jenis pekerjaan yang laris-manis pada masa pandemi ini adalah berjualan secara daring dan jasa pengantaran. Bisnis makanan juga masih oke. Tentunya masih banyak yang ingin menikmati kue-kue lebaran seperti kue kering dengan sistem pengantaran. Berjualan bahan pokok serta sayuran secara online juga bisa menguntungkan pada masa seperti ini.

Jasa jual beli pulsa dan membayar tagihan juga tentunya makin laris. Biasanya orang-orang tua enggan membeli pulsa dan membayar tagihan lewat aplikasi dan ke ATM sehingga hal ini masih cukup berpeluang.

Jasa lainnya yaitu menyewakan akun nonton film streaming. Misalnya akun Netflix bisa digunakan untuk lima orang, maka kita bisa mengenakan tarif 5-10 persen ke teman yang kita sharing. Misalnya 1 bulannya berlangganan premium sebesar Rp 150 ribu. Jika dibagi lima maka per orang Rp 30 ribu. Tapi dengan persetujuan teman kita kenakan ongkos Rp 35 ribu. Lumayan untung 20 ribu hehehe. Juga bisa dilakukan jasa pembayaran dengan kartu kredit untuk membeli barang. Misalnya kawan membeli barang lelang seharga USD50 dengan kartu kredit kita, maka kemudian kita kenakan USD50 plus 50 sen hingga USD1 tapi tentunya dengan persetujuan teman terlebih dahulu. Untuk dua ide ini mungkin tak umum dan agak sulit dipraktikan.

 


Usaha lainnya yang masih menghasilkan uang adalah membuat konten, baik konten video, foto, podcast, dan tulisan. Hal ini dikarenakan selama masa pandemi banyak bermunculan kaum rebahan. Mereka inginnya mendapatkan konten yang lucu, menarik, dan bermanfaat.

Membuat konten video di YouTube bisa jadi salah satu pilihan. Pilih yang dikuasai misalnya konten seni melipat handuk dan kain sehingga nampak menarik dan elegan. Bagi pekerja hotel bisa memberikan tips tentang cara membersihkan kamar yang cepat dan bersih, cara memilih furniture sehingga nampak lega seperti kamar hotel, cara merapikan kasur, dan sebagainya. Bagi koki bisa berbagi tips, misalnya cara memilih sayuran yang segar, ikan yang segar, juga tips membuat rempeyek yang kriuk dan tak mudah melempem.

Ibu-ibu yang suka berfoto bisa menampilkan kreasi kerajinannya, hasil doodle, masakan, dan sebagainya. Siapa tahu ada brand yang tertarik untuk meng-endorse.

Demikian pula dengan konten menulis. Belajarlah menulis dengan tekun siapa tahu ada yang tertarik mengajak Kalian melakukan copy writing, membuat profil perusahaan dan mengisi website mereka.

Oh iya satu lagi yaitu mengajar secara daring. Pada masa pandemi ini Kalian bisa menawarkan paket percakapan bahasa Inggris, bahasa Korea, bahasa Jepang, bahasa Jawa, dan sebagainya. Kalian bisa menggunakan perangkat video conference sebagai medium pembelajarannya.

Itu usulanku tentang berbagai pekerjaan yang bisa dilakukan pada masa pandemi ini. Sehingga kursus yang dipilih sebaiknya juga mengarah ke sana.

Jika dilihat-lihat dari daftar kursus yang ditawarkan oleh partner kartu prakerja, malah tak banyak yang bisa menawarkan materi secara praktis. Materinya malah sebagian terasa usang dan sebenarnya bisa didapatkan secara cuma-cuma di YouTube dan kursus ala MOOC. Harganya juga relatif mahal, seperti telah di-mark up berkali-kali lipat.


Kursus ala MOOC (Massive Open Online Course) seperti Coursera, Udacity, dan IndonesiaX banyak yang bagus. Temanya beragam dan beberapa di antaranya aplikatif. Peserta yang lulus juga dapat sertifikat (ada yang gratis dan ada yang berbayar).

Tapi jika memang konsep pelatihan ini tak bisa diubah maka peserta pelatihan tak perlu bersedih. Masih ada sih kursus yang menarik dan bermanfaat di era sekarang seperti pelatihan berjualan secara digital, bahasa Inggris, membuat website dan blog, membuat konten video (seingatku ada), dan pelatihan menulis yang diadakan oleh Tempo Institute.

Oh iya ini artikelnya sebenarnya masih awalan. Tapi jadinya sudah cukup panjang ya. Kusudahi dulu ya, sebentar lagi waktunya sahur. Selamat berpuasa. 

 

Gambar: Tribunnews, Pixabay, dan IndonesiaX

~ oleh dewipuspasari pada April 29, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: