Normal Baru


Dikelilingi oleh berbagai gunung berapi, masyarakat Indonesia kemudian diajak berdamai dengan hidup harmonis dengan gunung berapi. Meskipun jika kemudian terjadi erupsi harus mengungsi, tapi banyak masyarakat yang enggan pindah karena berbagai faktor yang melingkupi. Kuncinya adalah sistem kewaspadaan dini yang baik. Lantas apakah masyarakat harus dibiasakan untuk berdamai pada masa pendemi ini?
Konsep ‘berdamai’ ini bisa menimbulkan berbagai opini. Wajar saja jika terjadi pro dan kontra.

Masyarakat yang kontra beranggapan ini menunjukkan sikap ‘pasrah’ pemerintah dan ketidakpedulian sebagian masyarakat. Menurutku sesuatu wajar jika kemudian muncul hastag ‘Indonesia Terserah’, jangan dikaitkan dengan politik, seperti pro kubu sebelah dan sebagainya. Penyebab munculnya hastag ini disebabkan kebingungan masyarakat akan kebijakan pemerintah yang terkesan berubah-ubah. Sementara ketersediaan alat uji masih terbatas dan kasus baru juga belum melandai.

Memang pandemi ini berimbas besar ke ekonomi. Aku sendiri mungkin jika disuruh memilih akan lebih berpihak menangani pandemi dulu asalkan bantuan bagi mereka yang terimbas kesejahterannya juga tertangani.

Untuk APBD DKI bukannya dananya banyak? Ya, sangat banyak aku pernah menelaahnya, memerhatikan rincian pos-posnya dan menurutku implementasi anggaran ini perlu sering-sering diawasi, termasuk realiasi tingkat kelurahan. Aku mencoba berpikiran positif mungkin ada hal yang lebih prioritas bagi pemda DKI.

Tunggu aku hanya menyampaikan pendapatku pribadi. Ini tak ada kaitannya dengan politik. Aku hanya ingin beropini dan kucoba untuk tidak terlalu kritis agar aku tidak dikaitkan dengan agenda si A dan si B. Entah kenapa sekarang beropini agak sulit.

Tentang kebijakan ‘new normal’ aku belum tahu bagaimana nantinya realitanya di lapangan. Daerahku sendiri masih zona merah, demikian juga dengan wilayah kerjaku.

Bidang pekerjaanku sendiri masih aman-aman saja untuk dikerjakan secara jarak jauh. Dan memang semestinya seperti itu, pekerjaanku idealnya tidak menuntutku untuk tiap hari masuk kantor. Pekerjaanku di ranah TI dan kami bisa memanfaatkan teknologi untuk bekerja dan berkoordinasi.

Adanya pandemi ini memunculkan berbagai kemungkinan. Dulu yang dianggap aneh, seperti bekerja secara ‘remote’ kini merupakan hal yang lumrah.

Tapi bagaimana dengan yang pekerja lainnya yang menuntut untuk wajib hadir dan kemudian bertatap muka dengan pelanggan? Atau pekerja konstruksi, teknisi, dan sebagainya?

Agar perekonomian terus melaju maka bidang-bidang pekerjaan harus dikategorikan mana yang harus berada di tempat kerja dan mana yang bisa dilakukan secara jarak jauh. Hal ini dimaksudkan agar terjadi pembatasan di ruang kerja. Alat transportasi juga tetap perlu disediakan dan diperbanyak agar bisa diterapkan social distance.

Aturan lain yang kubaca dari berbagai pemberitaan yaitu setiap kantor harus menyediakan vitamin C, karyawan mengenakan masker dan sebaiknya jam kerjanya lebih dibatasi agar waktu istirahatnya cukup, juga ada jarak antar meja pekerja, minimal satu meter, serta aturan bagi perusahaan yang menerapkan sistem shift.

Yang agak susah adalah penerapan pembatasan pengunjung nantinya di tempat wisata, restoran, dan pusat perbelanjaan. Wah entah seperti apa realitanya di lapangan nantinya.

Begitu juga dengan sekolah. Kalau ruang kelasnya dibatasi jumlah muridnya, bakal perlu ruang kelas dan gurukah atau ada kelas pagi dan kelas siang?

Orang Indonesia sendiri dikenal bermental baja. Mereka bisa berdamai dengan tinggal di kawasan tak jauh dari gunung berapi. Warga Jakarta juga ‘dipaksa’ berdamai dengan macet dan banjir, meski ya ini sangat tidak ideal dan sebenarnya mereka berharap kedua masalah ini segera ditanggulangi oleh pemerintah.

Berdamai dengan gunung berapi dengan syarat adanya sistem kewaspadaan dini yang baik. Berdamai dengan macet dan banjir sendiri adalah sarkasme karena sebenarnya masyarakat sudah sangat bosan dan kecewa dengan kondisi tersebut, berharap pemda serius menanganinya.

Bagaimana dengan ajakan berdamai dengan pandemi? Dari aku sendiri tentunya enggan, aku sebaiknya tetap lebih baik di rumah saja saat ini kecuali untuk hal-hal yang mendesak karena bagiku penyakit ini tak bisa diselepekan. Aku pernah mengalami batuk agak parah karena maag dan itu sungguh-sungguh menyiksa. Sakit pernafasan sangat menyiksa, sementara udara adalah sesuatu yang vital bagi tubuh.

Tapi memang ada pihak-pihak yang memerlukan kondisi ‘new normal’ini, mereka tetap perlu bekerja agar bisa menghasilkan uang. Ada juga orang-orang yang mulai tertekan kondisi mentalnya karena tidak tahan berada di rumah saja.

Ya, seandainya nantinya ‘new normal’ ini diterapkan, pemerintah sudah benar-benar siap dengan aturan mainnya dan satu suara. Jangan ada lagi yang berkata A, disanggah dengan pernyataan B dan sebagainya yang membuat penerapan ‘new normal’ nanti jadi berantakan.

Sekali lagi ini hanya opini:)

gambar: cover tabloid Tempo 20/5

~ oleh dewipuspasari pada Mei 25, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: