Kawanku Penggemar Sandra Brown, Aku Sidney Sheldon


Sekitar usia SMA aku mulai melahap bacaan apa saja. Kali ini buku-buku kakakku mulai kubacai. Ada buku karya Sidney Sheldon yang terdiri dari tiga jilid. Judulnya “Ratu Berlian”. Aku membacanya dan kemudian tergambar di benak sebuah kisah bak telenovela. Tentang seorang wanita cerdas tapi culas, bersedia melakukan apa saja untuk mencapai mimpinya.

“Ratu Berlian” bercerita tentang anak perempuan yang memiliki perusahaan tambang berlian di Afrika Selatan. Ayahnya kaya raya setelah menemukan berlian. Tapi keluarga mereka tak bahagia. Ayahnya diliputi kemarahan pada ‘ayah mertua’-nya sehingga tak mengakui istri dan anaknya. Ibunya yang lembut menderita sejak ia ditelantarkan pria yang disayanginya.

Ia kemudian tumbuh menjadi gadis muda yang berpendirian kuat. Ia memiliki sejumlah tipu daya mewujudkan seluruh keinginannya, termasuk melakukan intrik agar pria yang disayanginya bersedia menikahinya. Keturunannya semua dipengaruhi olehnya. Yang mencolok adalah cucunya yang kembar. Satu cucunya sangat licik, satunya naif. Ketika si cucu sudah keterlaluan maka ia pun harus turun tangan.

Setelah Ratu Berlian, aku kemudian mulai membaca “Malaikat Keadilan”. Dibandingkan “Ratu Berlian yang potensial menjadi semacam serial drama dengan penuh intriknya, “Malaikat Keadilan” lebih sederhana. Ia berfokus pada seorang lulusan hukum yang cantik dan cerdas.

Malangnya ia diperdaya hingga seolah-olah ia menjadi kaki tangan seorang mafioso ketika magang di pengadilan. Kariernya tamat sebelum ia memulainya. Ia kemudian melakukan apa aja, bekerja di firma hukum kecil dengan bayaran apa saja. Ia sangat brilian dan kemudian banyak memenangkan kasus besar.

Hingga suatu ketika anaknya diculik oleh kriminal yang masuk penjara karenanya. Ia hanya bisa meminta bantuan ke bos mafia. Tapi setelahnya ia harus ‘menjual’ dirinya menjadi pengacara di pihak mafia.

Dua cerita Sidney Sheldon menjadikan perempuan menjadi tokoh utamanya. Mereka digambarkan ‘hampir sempurna’, cantik, cerdas, tapi memiliki masa lalu yang muram dan sesekali harus memanfaatkan sifat culasnya.

Sebenarnya tidak hanya dua judul buku tersebut yang tokoh utamanya perempuan. Aku memiliki banyak buku Sidney dan rata-rata tokoh utamanya adalah wanita dengan karakter yang mirip-mirip hanya profesinya yang berbeda, juga konflik yang dialaminya.

Ada “Kincir Angin Para Dewa” tentang seorang profesor yang tiba-tiba ditunjuk sebagai duta besar. Suaminya meninggal mendadak dan ia mendapati ada banyak hal janggal yang dialaminya belakangan ini. Ia tak tahu apa yang sedang dihadapinya. Lainnya, “Butir-butir Waktu”,”Pagi, Siang & Malam”, “Lewat Tengah Malam”, “Garis Darah” bercerita tentang perebutan warisan, balas dendam, dan sebuah
latar pemberontakan di Spanyol.

Ada dua buku yang paling kusukai dari karya Sidney Sheldon. Yang pertama “Sosok Asing dalam Cermin” tentang seorang gadis cantik tapi miskin bernama Jill. Ia melalui hidupnya dengan sulit. Ketika ia berniat menjajal karier di dunia akting, ia menemui banyak sandungan. Ia pun melakukan apa saja untuk mencapai mimpinya. Ketika mimpinya sudah hampir musnah, seseorang datang. Tapi sepertinya kebahagiaan sesaat itu hanya ilusi, Jill kemudian dihadapkan pada masa lalunya.

Satunya lagi adalah kisah perempuan bernama Lara. Ia gadis miskin tapi punya cita-cita besar. Ia ingin menjadi taipan, membangun banyak gedung megah dan mewah. Mimpinya ditertawakan. Lalu ia berhasil meraihnya.

Ia jatuh cinta pada seorang pianis. Mereka menikah lalu pianis tersebut tangannya dilukai seseorang. Pianis merasa frustasi karena ia tak bisa lagi melakukan pekerjaannya. Ia curiga ke istrinya sebagai pelakunya dan ia mulai melirik asisten rumah tangganya. Lara tahu desas-desus tersebut dan ia merasa bumi sudah kiamat. Hingga ia kembali berpijak ke bumi dan berani bangkit untuk melawan.

Jika aku suka Sidney karena konfliknya bagus tidak sekadar tempelan, kawanku suka akan Sandra Brown. Memang dua pengarang ini banyak menggunakan tokoh utama wanita yang kuat. Bedanya Sandra menurutku lebih menonjolkan ke roman daripada kisah konfliknya. Latar belakang profesi dan masalah seperti sengaja dibuat dan formula satu cerita dan cerita lainnya tipikal. Gadis cantik pintar dan prianya terkesan angkuh meremehkan. Lalu entah kenapa kemudian keduanya jatuh cinta.

Dua-duanya aku suka sih, hanya kadar sukaku lebih ke Sidney Sheldon. Sosok perempuannya lebih tangguh hanya kadang-kadang agak culas, sosok yang tidak sempurna.

~ oleh dewipuspasari pada Juni 7, 2020.

10 Tanggapan to “Kawanku Penggemar Sandra Brown, Aku Sidney Sheldon”

  1. apakah aku kawan yang kau maksud? *ge er*

  2. Pernah beberapa kali baca sidney sheldon.. seru memang..

    Tapi, lama-lama pasti bosan juga..

    Gaya bahasanya mengalir.. itu yang aku kagumi.. tapi entah sulit untuk melekat di ingatan..

    Terlalu terjebak.. di alur cerita. Yg harus seru dan bikin penasaran..

  3. Jadulur….blm pernah baca sandra brown, sidney sheldon itu ok cm knp ya lbh minat agatha christie😅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: